Kiki Uniatri Thalib
Institut Kesehatan dan Bisnis ST Fatimah Mamuju

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Konsep Continuity Of Care Dalam Asuhan Kebidanan Berkelanjutan Kiki Uniatri Thalib; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1388

Abstract

Upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) memerlukan pelayanan kebidanan yang berkualitas, komprehensif, dan berkesinambungan. Salah satu pendekatan yang telah banyak diterapkan dalam pelayanan maternal adalah Continuity of Care (CoC), yaitu model pelayanan yang menjamin kesinambungan asuhan sejak masa prakonsepsi atau kehamilan, persalinan, nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Pendekatan ini menempatkan bidan sebagai pemberi asuhan utama yang membangun hubungan terapeutik secara berkelanjutan dengan perempuan dan keluarganya. Mengkaji konsep Continuity of Care dalam asuhan kebidanan berkelanjutan berdasarkan perkembangan teori, prinsip, komponen, manfaat, serta implementasinya dalam praktik pelayanan kebidanan. Artikel ini merupakan kajian konseptual (conceptual review) yang disusun melalui telaah literatur dari buku teks, pedoman organisasi kesehatan, serta artikel ilmiah nasional dan internasional mengenai Continuity of Care dalam pelayanan kebidanan. Literatur dipilih berdasarkan relevansi terhadap konsep pelayanan kebidanan berkelanjutan, kemudian dianalisis secara deskriptif dan disintesis untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Kajian menunjukkan bahwa Continuity of Care merupakan model pelayanan yang menekankan kesinambungan hubungan antara bidan dan perempuan sepanjang siklus reproduksi. Implementasi CoC meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat deteksi dini komplikasi, meningkatkan kepuasan ibu, mengurangi intervensi yang tidak diperlukan, serta berkontribusi terhadap perbaikan luaran maternal dan neonatal. Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh kompetensi bidan, sistem rujukan, kolaborasi antarprofesi, dukungan kebijakan, dan keterlibatan keluarga. Continuity of Care merupakan konsep fundamental dalam praktik kebidanan modern yang mendukung pelayanan komprehensif, berpusat pada perempuan (woman-centered care), dan berorientasi pada peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi. Implementasi yang optimal memerlukan dukungan sistem pelayanan kesehatan, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta kebijakan yang mendukung kesinambungan pelayanan.
Peningkatan Pengetahuan Remaja Tentang Kesehatan Mental Melalui Program Konseling Keliling Syaiful Bachri; Kiki Uniatri Thalib; Rezqiqah Aulia Rahmat; Naomi Malaha
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Desember)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i1.914

Abstract

Adolescent mental health is a critical issue that requires special attention, given the increasing incidence of anxiety, depression, and risky behaviors in this age group. Limited access to counseling services and adolescents' low understanding of mental health are major challenges, especially in areas with limited health services. This community service program aims to increase adolescents' knowledge and awareness of mental health through a Mobile Counseling Program. The program was conducted in three secondary schools within the target area, involving 120 adolescents aged 13–18. The methods used included outreach, group counseling, individual counseling, and distribution of educational media. Evaluation was conducted through pre- and post-tests to measure knowledge gains and participant satisfaction questionnaires. The results showed a significant increase in adolescents' knowledge, with an average pre-test score of 58.4 increasing to 84.2 in the post-test. Ninety-two percent of participants stated that the mobile counseling program was very beneficial and should be conducted regularly. In conclusion, the Mobile Counseling program is effective in increasing adolescents' knowledge and awareness of mental health. This activity is recommended as a sustainable program in schools and communities to strengthen preventive efforts against mental health issues.
Pemberdayaan Ibu Dalam Perawatan Neonatus Melalui Edukasi Asuhan Kebidanan Dasar: Empowering Mothers in Neonatal Care Through Education on Basic Midwifery Care Kiki Uniatri Thalib; Cakrawati R Cakrawati R
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Desember)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v5i1.1778

Abstract

Latar Belakang: Periode neonatus merupakan masa yang sangat penting karena bayi mengalami proses adaptasi dari kehidupan intrauterin menuju kehidupan di luar rahim. Pada periode ini, bayi membutuhkan perawatan yang tepat untuk mempertahankan suhu tubuh, kecukupan nutrisi, kebersihan, serta mencegah infeksi dan komplikasi. Ibu sebagai pengasuh utama memiliki peran penting dalam melakukan perawatan neonatus di rumah. Namun, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dapat menyebabkan ibu kurang percaya diri dalam merawat bayi, terutama dalam mengenali tanda bahaya dan menentukan waktu yang tepat untuk mencari pertolongan tenaga kesehatan. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri ibu dalam melakukan perawatan neonatus melalui edukasi asuhan kebidanan dasar. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat melibatkan 50 ibu yang memiliki neonatus. Kegiatan dilakukan melalui pendidikan kesehatan, demonstrasi, praktik langsung, diskusi interaktif, dan pendampingan. Materi meliputi perawatan tali pusat, menjaga kehangatan bayi, pemberian ASI, kebersihan bayi, perawatan kulit, posisi dan teknik menyusui, serta pengenalan tanda bahaya neonatus. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest serta observasi keterampilan ibu. Hasil: Rerata skor pengetahuan ibu meningkat dari 60,7 sebelum edukasi menjadi 88,6 setelah edukasi. Hasil observasi menunjukkan sebagian besar ibu mampu melakukan perawatan dasar neonatus dengan benar, terutama dalam menjaga kebersihan, perawatan tali pusat, menjaga kehangatan, dan praktik pemberian ASI. Sebanyak 44 ibu (88,0%) mampu mengenali sedikitnya empat tanda bahaya neonatus setelah mengikuti kegiatan. Kesimpulan: Edukasi asuhan kebidanan dasar melalui pendekatan pemberdayaan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam melakukan perawatan neonatus. Pendampingan berkelanjutan dan keterlibatan keluarga serta tenaga kesehatan diperlukan untuk mempertahankan kemampuan ibu dan mendukung deteksi dini komplikasi neonatus