Korry Novitriani
Prodi D3 Analis Kesehatan, Universitas Bakti Tunas Husada

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENYULUHAN MANFAAT PENGGUNAAN SABUN YANG MENGANDUNG ZAT AKTIF ASAM SALISILAT DALAM MENGOBATI DERMATITIS KEPADA SISWA SDN KARIKIL Yane Liswanti; Korry Novitriani; Ummy Mardiana; R. Suhartati; Meri Meri
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 5 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i5.16084

Abstract

Abstrak: Masalah kesehatan kulit di Indonesia diperkirakan angka kejadian mecapai 4,6 sampai 12,95% (Griana et al., 2013). Masalah kesehatan kulit di masyarakat dapat terjadi akibat berbagai faktor, antara lain faktor sanitasi lingkungan dan perilaku. Penyebab timbulnya penyakit beragam, dapat berupa infeksi jamur, virus, parasit, dan lain sebagainya. Hasil wawancara dengan kepala Puskesmas Mangkubumi menyebutkan masih banyaknya masyarakat yang mengalami masalah kesehatan kulit. Menurutnya bahwa masyarakat banyak yang mengeluhkan penyakit kulit terutama pada anak-anak usia sekolah dan Balita. Dengan demikian perlu dilakukan peningkatan pengetahuan terhadap anak usia sekolah mengenai pentingnya berperilaku hidup sehat, melalui metode penyuluhan. Dengan dilakukan penyuluhan menggunakan slide presentasi diharapkan lebih efektif dibandingkan media leaflet untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa Sekolah Dasar Negeri Karikil. Tujuan pengabdian masyarakat adalah untuk meningkatkan pemahaman anak usia sekolah yang berada di kelurahan karikil desa Mangkubumi mengenai manfaat penggunaan sabun yang menggunakan senyawa aktif asam salisilat dalam membantu proses pengobatan dermatitis. Metode yang dilakukan adalah memberikan pre test sebelum dilakukan penyuluhan dan post test setelah dilakukan penyuluhan tentang pentingnya membiasakan cuci tangan dan dilakukan praktek CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun). Hasil pengabdian pada 41 orang siswa SDN Karikil yaitu didapat hasil pre test pengetahuan dengan rata-rata 57 % dan rata-rata sikap yaitu 66%. Hasil post test di dapat hasil pengetahuan 84% dan sikap sebesar 97%. Hasil post test mengalami kenaikan setelah dilakukan penyuluhan dimana untuk pengetahuan naik sebesar 27% dan untuk sikap sebesar 31%. Kesimpulan: Siswa SDN Karikil memiliki pengetahuan dan sikap dengan kategori baik. Siswa disarankan untuk selalu menerapkan cuci tangan sebelum dan setelah aktivitas di Sekolah dengan disediakan fasilifas tempat cuci tangan dilengkapi sabun.Abstract: Skin health problems in Indonesia are estimated to have an incidence rate of 4.6 to 12.95% (Griana et al., 2013). Skin health problems in the community can occur due to various factors, including environmental sanitation factors and behavior. The causes of various diseases, can be fungal infections, viruses, parasites, and so on. The results of interviews with the head of the Mangkubumi Health Center stated that there were still many people who experienced skin health problems. According to him, many people complain about skin diseases, especially in school-age children and toddlers. Thus it is necessary to increase the knowledge of school-age children regarding the importance of healthy living behavior, through counseling methods. By conducting counseling using presentation slides, it is hoped that it will be more effective than leaflet media in increasing the knowledge and attitudes of Karikil Public Elementary School students. The purpose of community service is to increase the understanding of school-age children in the Karkil subdistrict, Mangkubumi village regarding the benefits of using soap that uses the active compound salicylic acid in helping the process of treating dermatitis. The method used is to give a pre-test before the counseling is carried out and a post-test after the counseling is carried out about the importance of getting used to washing hands and practicing CTPS (Washing Hands with Soap). The results of the dedication to 41 students of Karikil Elementary School, namely the results of the pre-test of knowledge with an average of 57% and an average attitude of 66%. The results of the posttest obtained 84% knowledge and 97% attitude. Post test results increased after counseling where knowledge increased by 27% and for attitudes by 31%. Conclusion: Karikil Elementary School students have good knowledge and attitudes. Students are advised to always wash their hands before and after activities at school by providing handwashing facilities with soap.
EDUKASI ONLINE PEMERIKSAAN IMUNOLOGI: STRATEGI EFEKTIF MENINGKATKAN PENGETAHUAN DETEKSI DINI PENYAKIT MENULAR Meri Meri; Ummy Mardiana; Korry Novitriani; Rahma Nurazizah; Ninda Nuraeni
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 4 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i4.32736

Abstract

Abstrak: Permasalahan rendahnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan imunologi dalam deteksi dini penyakit menular menjadi latar belakang kegiatan ini. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemeriksaan imunologi sebagai alat diagnostik awal terhadap penyakit menular seperti HIV, hepatitis, TBC dan lain-lain. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan daring yang diikuti oleh 28 peserta dari berbagai kalangan. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pemahaman peserta. Hasil menunjukkan adanya peningkatan rerata nilai dari 66,4 menjadi 87,1, dengan selisih 20,7 poin atau peningkatan sebesar 31,18%. Hasil ini menunjukkan bahwa penyuluhan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat. Dengan demikian, kegiatan edukasi daring ini efektif sebagai strategi penyadaran masyarakat terhadap pentingnya diagnosa dini berbasis laboratorium.Abstract: The low level of public understanding regarding the importance of immunological testing for early detection of infectious diseases was the background of this community service activity. The aim was to improve public knowledge about immunological examination as an early diagnostic tool for diseases such as HIV, hepatitis, and tuberculosis. The activity was conducted through an online health education session involving 28 participants from diverse backgrounds. Evaluation was carried out using pre-test and post-test to assess changes in knowledge. The results showed an increase in average scores from 66.4 to 87.1, with a gain of 20.7 points or approximately 31.18%. These findings indicate a positive impact of the session on participants’ knowledge. Therefore, this online educational activity proved effective in raising public awareness about the importance of early laboratory-based diagnosis.
DETEKSI DINI RISIKO DIABETES MELALUI PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH SEWAKTU PADA ORANG TUA SISWA Dewi Peti Virgianti; Ummy Mardiana; Korry Novitriani; Hendro Kasmanto; Dina Ferdiani; Annisa Nurhasanah; Suci Dhiya Ulhaque
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 4 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i4.31544

Abstract

Abstrak: Pemeriksaan glukosa darah sewaktu merupakan langkah penting dalam deteksi dini risiko diabetes melitus, terutama di tingkat komunitas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kadar gula darah serta memberikan edukasi mengenai dampak hiperglikemia, salah satunya meningkatnya risiko infeksi. Sasaran kegiatan adalah para orang tua siswa dari salah satu sekolah taman kanak-kanak (TK) yang berperan strategis dalam pengambilan keputusan kesehatan keluarga. Metode kegiatan meliputi pemeriksaan glukosa darah secara gratis, pencatatan data usia, jenis kelamin, dan hasil pemeriksaan, serta pemberian edukasi kesehatan. Dari total 18 responden, sebagian besar (66,7%) memiliki kadar glukosa darah dalam kategori normal (<140 mg/dL), 22,2% dalam kategori prediabetes (140–199 mg/dL), dan 11,1% masuk kategori diabetes (≥200 mg/dL). Visualisasi data melalui grafik batang, boxplot, dan scatter plot menunjukkan variasi kadar glukosa darah lebih tinggi pada kelompok perempuan dan kecenderungan nilai GDS ekstrem pada usia 40–54 tahun. Kegiatan ini tidak hanya berhasil mendeteksi beberapa kasus risiko diabetes, tetapi juga memberikan pemahaman langsung kepada masyarakat tentang pentingnya pengendalian glukosa darah untuk mencegah komplikasi, termasuk infeksi. Evaluasi pengetahuan dilakukan langsung tanya jawab lisan kepada peserta yang melakukan pemeriksaan. Peserta mengalami peningkatan pengetahuan 100% dan terdokumentasi pada logbook pencatatan hasil. Keterlibatan mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan turut mendukung peningkatan kapasitas profesional dan kontribusi nyata dalam bidang kesehatan masyarakat. Kesimpulannya, kegiatan ini efektif sebagai upaya promotif dan preventif dalam deteksi dini diabetes melitus serta meningkatkan literasi kesehatan masyarakat mengenai pengelolaan gula darah.Abstract: Intermittent blood glucose testing is an important step in early detection of diabetes mellitus risk, especially at the community level. This community service activity aims to increase public awareness of the importance of checking blood sugar levels and provide education about the impact of hyperglycemia, one of which is the increased risk of infection. The targets of the activity were parents of students from one kindergarten school who play a strategic role in making family health decisions. Methods included free blood glucose testing, recording data on age, gender, and test results, and providing health education. Of the total 18 respondents, most (66.7%) had blood glucose levels in the normal category (<140 mg/dL), 22.2% in the prediabetes category (140-199 mg/dL), and 11.1% in the diabetes category (≥200 mg/dL). Visualization of the data through bar graphs, boxplots, and scatter plots showed a higher variation in blood glucose levels in the female group and a tendency for extreme GDS values at the age of 40-54 years. This activity not only successfully detected several cases of diabetes risk, but also provided direct understanding to the community about the importance of blood glucose control to prevent complications, including infection. Evaluation of knowledge was done directly by oral question and answer to participants who did the examination. Participants experienced a 100% increase in knowledge and documented in the logbook recording the results. The involvement of students in the implementation of activities also supports professional capacity building and real contributions in the field of public health. In conclusion, this activity is effective as a promotive and preventive effort in early detection of diabetes mellitus and increasing public health literacy regarding blood sugar management.