Nadya Karlina Megananda
Politeknik Kesehatan Bhakti Mulia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penatalaksanaan Terapi Okupasi (Kerajinan Tangan) Meronce Manik-Manik pada Pasien Gangguan Persepsi Sensori Pendengaran di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta Indarini Mitha Rahayu; Nadya Karlina Megananda
Jurnal Stethoscope Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mitra Husada Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54877/stethoscope.v4i1.978

Abstract

Gangguan persepsi sensori pendengaran yaitu persepsi sensori yang diterima panca indra tanpa adanya stimulus eksternal, dengan sering meraskan keadaana yang hanya dapat dirasakan oleh dirinya sendiri atau tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Salah satu terapi yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi gangguan persepsi sensori adalah terapi okupasi (kerajinan tangan) meronce manik-manik. Tujuan mengidentifikasi penatalaksanaan terapi okupasi; kerajinan tangan meronce manik-manik pada pasien gangguan persepsi sensori pendengaran. Desain penelitian ini adalah deskriptif kualitatif studi kasus dengan menggunakan pendekatan nursing process. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini menggunkan non-probability sampling dengan pendekatan purposive sampling. Sampel yang diambil sebanyak 3 subjek. Data Pengkajian subjek mengatakan merasa sedih, sering mendengar suara bisikan bisikan dari Tuhan, menangis, tertawa dan suara ejekan, lebih suka menyendiri, pengalaman yang tidak menyenangkan seperti kepergian suami, ditinggalkan suami kemudian bercerai, dan pembulian. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan data subjek tampak menyendiri, melamun, ekspresi wajah tampak kesal, menjawab dengan intonasi cepat, berbicara melantur dan pandangan melihat ke satu arah. Diagnosis keperawatan yaitu gangguan persepsi sensori berhubungan dengan gangguan pendengaran. Perencanaan keperawatan yang akan dilakukan adalah terapi okupasi meronce manik-manik. Peneliti melakukan tindakan keperawatan selama 7 kali pertemuan. Evaluasi terakhir didapatkan verbalisasi mendengar bisikan menurun, distorsi sensori menurun, perilaku halusinasis menurun, melamun menurun, respon sesuai stimulus membaik. Penatalaksanaan terapi okupasi kerajinan tangan meronce manik-manik mampu menurunkan perubahan tanda gejala pada pasien gangguan persepsi sensori pendengaran.Kata Kunci: meronce manik-manik, terapi okupasi, gangguan persepsi sensori pendengaran
EXPLORING THE KEY FACTORS SHAPING MENTAL HEALTH IN GEN Z: A SCOPING REVIEW Amin Aji Budiman; Elok Faradisa; Mira Wahyu Kusumawati; Nadya Karlina Megananda
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i05.p04

Abstract

Generation Z (Gen Z) refers to individuals born between 1997 and 2012. Mental health refers to the emotional, psychological, and social conditions that affect how individuals think, feel, and behave. This generation tends to be independent, creative, unique characteristic and highly socially aware. However, they are also vulnerable to social and mental pressures due to the complex demands of life, which causes Generation Z to face specific challenges affecting their mental health. This scoping review discusses the factors influencing the mental health of Gen Z in the digital era. Articles were searched using databases including ScienceDirect, PubMed, Google Scholar, and ProQuest, focusing on publications from 2021 to 2025. The authors selected and analyzed articles using the PRISMA framework based on predetermined inclusion and exclusion criteria. The search across several electronic databases revealed 538 research articles. After screening, a total of 15 articles were analyzed. The results identified factors influencing the mental health of Gen Z, such as social support (emotional, instrumental, informational, and friendship support), family environment, work-related stress, personal issues, exposure to negative content on social media (including cyberbullying, fake news, and body shaming), online gaming, technology use, and coping mechanisms. Gaining insight into the factors influencing the mental health of Gen Z can help in preventing mental and emotional disorders and support the promotion of overall well-being.
Pengaruh Media Penyuluhan dengan Metode Demonstrasi terhadap Pengetahuan ibu-ibu PKK tentang Pentalaksanaan Hipertensi dengan “TERAS” Bela Novita Amaris Susanto; Tika Indrasari; Nadya Karlina Megananda; Ratna Setiyaningsih
Jurnal Kesehatan Vol 15 No 1 (2026): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Yatsi Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37048/kesehatan.v15i1.763

Abstract

Hipertensi adalah kondisi yang tidak menular dan prevalensinya terus meningkat di tingkat global dan nasional, yang dipengaruhi oleh perubahan epidemiologi, gaya hidup yang tidak sehat, serta tingkat pengetahuan masyarakat yang rendah. Edukasi kesehatan sangat penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, dan salah satu cara yang lebih efektif adalah melalui metode demonstrasi dibandingkan dengan metode yang biasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak penyuluhan dengan metode demonstrasi terhadap pengetahuan para ibu dalam PKK mengenai pengelolaan hipertensi dengan pendekatan “TERAS” (terapi tertawa, minuman serai, dan senam hipertensi). Desain penelitian ini menggunakan pendekatan pre-experimental dengan menggunakan satu kelompok dengan pretest dan posttest. Terdapat 22 responden dalam sampel yang diambil dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari 25 item yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach’s Alpha = 0,912). Analisis data dilakukan dengan uji paired sample t-test pada α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang kurang (59,1%), yang kemudian meningkat menjadi baik (77,3%) setelah intervensi dilaksanakan. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 12,95 menjadi 21,09, dengan p value = 0,000 (p < 0,05). Sebagai kesimpulan, metode demonstrasi terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan disarankan sebagai strategi untuk edukasi kesehatan di masyarakat.