Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS KEPUASAN DAN NIAT PELANGGAN MENGGUNAKAN KEMBALI APLIKASI MOBILE SHOPEE PADA GEN-Z Grandys Frieska Prassida; Vebrian Rendra Giovano
Jurnal Sistem Informasi Bisnis (JUNSIBI) Vol 4 No 2 (2023): Jurnal Sistem Informasi Bisnis (JUNSIBI)
Publisher : Program Studi Sistem Informasi Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kosgoro 1957

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55122/junsibi.v4i2.959

Abstract

Shopee merupakan salah satu aplikasi e-commerce yang hingga saat ini terus berkembang di Indonesia. Generasi Z sangat mahir dalam menggunakan teknologi dan lebih memilih untuk melakukan transaksi melalui online. Semakin tinggi jumlah pengguna Shopee dari Generasi Z yang menggunakan aplikasi seluler Shopee untuk bertransaksi, semakin penting untuk memahami faktor apa saja yang berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan dan niat untuk terus menggunakan aplikasi seluler Shopee. Karenanya, penelitian saat ini berfokus untuk menguji sejauh mana tingkat kepuasan pelanggan dan niat terus menggunakan aplikasi seluler Shopee di kalangan Generasi Z. Metode kuantitatif digunakan dalam bentuk pengumpulan data melalui survei berbasis online dan sampel diambil dari pelanggan yang aktif menggunakan aplikasi seluler Shopee. Penelitian ini mengadopsi model Delone & McLean dan konsep IS Continuance Intention untuk menguji hubungan antara kualitas, kepuasan pelanggan, dan niat untuk terus menggunakan aplikasi. Data dianalisis dengan pendekatan Partial Least Square – Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Temuan dari studi ini menggambarkan kualitas informasi, kualitas sistem, dan kualitas layanan berpengaruh signifikan dan positif terhadap kepuasan pelanggan. Selain itu, kepuasan pelanggan mempunyai pengaruh yang besar terhadap niat berkelanjutan menggunakan aplikasi mobile Shopee, khususnya bagi Generasi Z.
MODEL ADOPSI GEMINI AI PADA MAHASISWA PERGURUAN TINGGI: ANALISIS BERBASIS VALUE-BASED ADOPTION MODEL DAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL Melisa Dwi Adinda Sukmawati; Grandys Frieska Prassida
Jurnal Sistem Informasi Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/qp49wv97

Abstract

Peningkatan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), khususnya Gemini AI, dalam kegiatan akademik mahasiswa mendorong perlunya pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi niat adopsinya di lingkungan pendidikan tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perceived benefit dan perceived sacrifice terhadap perceived value, serta peran perceived value dalam membentuk attitude dan adoption intention mahasiswa terhadap penggunaan Gemini AI, melalui integrasi Value-Based Adoption Model (VAM) dan Technology Acceptance Model (TAM). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, melibatkan 246 responden mahasiswa perguruan tinggi di Jawa Timur yang memiliki pengalaman menggunakan Gemini AI dalam kegiatan akademik. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis Google Forms dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceived benefit berpengaruh positif dan signifikan terhadap perceived value, sedangkan perceived sacrifice berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perceived value. Selanjutnya, perceived value terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap attitude dan adoption intention, serta attitude juga berpengaruh positif terhadap niat adopsi Gemini AI. Temuan ini menegaskan bahwa nilai yang dirasakan menjadi faktor kunci dalam proses adopsi Gemini AI, yang terbentuk dari evaluasi manfaat dan risiko yang dirasakan mahasiswa. Secara keseluruhan, penelitian ini mengonfirmasi bahwa integrasi VAM dan TAM mampu menjelaskan proses adopsi teknologi AI generatif secara komprehensif dalam konteks pendidikan tinggi. Penelitian ini juga memberikan kontribusi teoretis melalui penguatan integrasi VAM dan TAM serta memperkaya kajian adopsi AI generatif di lingkungan pendidikan tinggi.
Instagram-based Social Media Marketing Activities and Prospective Students’ Behavioral Engagement: A PLS-SEM Study in a Private University Marshanda Azahra Yasir; Grandys Frieska Prassida
International Journal of Marketing and Digital Creative Vol. 4 No. 2 (2026): International Journal of Marketing and Digital Creative (IJMADIC)
Publisher : Research Synergy Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31098/ijmadic.v4i2.4303

Abstract

This study examines the relationship between Instagram social media marketing activities (SMMA) and prospective students’ behavioral engagement at a private higher education institution. Previous studies on SMMA have predominantly focused on commercial sectors, while limited research has explored how brand awareness and brand image simultaneously mediate the relationship between SMMA and behavioral engagement in higher education settings. This study addresses this gap by investigating the mediating roles of brand awareness and brand image in the relationship between Instagram-based SMMA and behavioral engagement among prospective students of Semen Indonesia International University (UISI), Indonesia. A cross-sectional survey design was employed using purposive sampling. Data were collected through an online questionnaire distributed to senior high school and vocational school students who followed or interacted with the university’s Instagram account (@pmbuisi). Of the 161 responses collected, 133 valid responses were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The findings indicate that Instagram SMMA is positively associated with brand awareness and brand image. In turn, both brand awareness and brand image are positively associated with prospective students’ behavioral engagement. However, the direct relationship between SMMA and behavioral engagement was not significant. The mediation analysis demonstrates that brand awareness and brand image fully mediate the relationship between Instagram SMMA and behavioral engagement. These findings suggest that Instagram marketing activities in higher education are more effective in fostering engagement when they first strengthen prospective students’ cognitive and emotional perceptions of the university brand. This study contributes to the higher education marketing literature by providing empirical evidence on the mediating mechanisms linking Instagram SMMA and behavioral engagement within a single private university context. The findings also offer practical insights for higher education institutions in designing brand-oriented Instagram communication strategies to enhance prospective student engagement.
Kesenjangan Pemanfaatan dan Pemaknaan SIGHAP: Studi Fenomenologi Deskriptif Karyawan Perusahaan Manufaktur Semen Andik Sutikno; Gatot Kustyadji; Grandys Frieska Prassida
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13968

Abstract

Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana karyawan mengalami dan memaknai pemanfaatan aplikasi kesehatan digital SIGHAP dalam konteks dukungan kesehatan kerja pada sebuah perusahaan manufaktur semen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi deskriptif dan analisis Colaizzi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap dua belas karyawan yang memiliki pengalaman langsung menggunakan SIGHAP, yaitu Informan 101–112. Analisis dilakukan melalui identifikasi pernyataan signifikan, unit makna, open/In Vivo coding, pengelompokan kategori dan tema, perumusan makna, deskripsi menyeluruh, serta struktur esensial. Hasil penelitian menghasilkan enam tema utama: SIGHAP sebagai media akses dan pemantauan kesehatan digital; medium pembentukan kesadaran dan pengelolaan diri; pengalaman perhatian organisasi; feedback dan tindak lanjut sebagai mekanisme pembentuk kebermaknaan; ruang suara karyawan; serta proses sosial dan digital. Temuan menunjukkan bahwa kebermaknaan SIGHAP tidak ditentukan oleh ketersediaan dan kemudahan teknologi saja. Karyawan memaknai aplikasi melalui kemampuan memahami kondisi diri, merasakan perhatian organisasi, mengetahui tujuan dan hasil asesmen, serta memperoleh umpan balik dan tindak lanjut. Integrasi Social Exchange Theory, Personal Engagement Theory, dan Sensemaking menunjukkan bahwa feedback dan tindak lanjut menjadi titik temu antara relasi karyawan-organisasi, keterlibatan personal, dan proses pembentukan makna. Dengan demikian, SIGHAP menjadi lebih bermakna ketika data kesehatan berubah menjadi pengetahuan bagi karyawan dan menjadi dasar respons atau tindakan yang relevan.