Ardhi Adhary Arbain, Ardhi Adhary
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PEMODELAN ATMOSFER DENGAN WRF PADA KEJADIAN BANJIR JAKARTA 17 JANUARI 2013 Arbain, Ardhi Adhary; Kudsy, Mahally; Syaifullah, M. Djazim
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 14, No 1 (2013): June 2013
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.649 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v14i1.2679

Abstract

Intisari  Simulasi WRF pada tanggal 16-17 Januari 2013 dilakukan untuk menguji performa model dalam mendeteksi fenomena seruak dingin dan hujan ekstrim yang merupakan pemicu utama bencana banjir Jakarta pada periode tersebut. Metode verifikasi kualitatif dan kuantitatif pada tiap grid secara dikotomi digunakan untuk membandingkan keluaran model dengan data observasi Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP) dan NCEP Reanalysis. Performa model WRF dihitung berdasarkan nilai akurasi (ACC), Critical Success Index (CSI), Probability of Detection (POD) dan False Alarm Ratio (FAR) yang diperoleh dari hasil verifikasi numerik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa WRF mampu melakukan deteksi waktu awal kejadian hujan ekstrim dengan tepat setelah 6-7 jam sejak inisiasi model dilakukan. Performa terbaik WRF teramati pada pukul 02-09 WIB (LT) dengan nilai CSI mencapai 0,32, POD 0,82 dan FAR 0,66. Hasil verifikasi secara kualitatif dan kuantitatif juga menunjukkan bahwa WRF dapat melakukan deteksi seruak dingin dan hujan ekstrim sebelum banjir terjadi, walaupun dengan ketepatan durasi waktu dan lokasi kejadian yang masih relatif rendah bila dibandingkan dengan data observasi.  Abstract  WRF simulation on January 16-17, 2013 has been conducted to evaluate the model performance in detecting cold surge and extreme precipitation phenomena which were the triggers of Jakarta flood event during the period. Qualitative and quantitative dichotomous grid-to-grid verification methods are utilized to compare the model output with Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP) observation and NCEP Reanalysis dataset. WRF model performance is calculated based on the scores of accuracy (ACC), Critical Success Index (CSI), Probability of Detection (POD) and False Alarm Ration (FAR) which are generated from numerical verification. The results show that WRF could precisely detect the onset of extreme precipitation event in 6-7 hours after the model initiation.The best performance of the model is observed at 02-09 WIB (LT) with CSI score of 0.32, POD 0.82 and FAR 0.66. Despite the model inability to accurately predict the duration and location of cold surge and extreme precipitation, the qualitative and quantitative verification results also show that WRF could detect the phenomena just before the flood event occured.
KLIMATOLOGI BADAI PETIR DI WILAYAH JAKARTA DAN SEKITARNYA BERDASARKAN OBSERVASI SYNOP TAHUN 2000-2012 Arbain, Ardhi Adhary
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 17, No 1 (2016): June 2016
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1136.084 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v17i1.1175

Abstract

IntisariKlimatologi badai petir (TS) dianalisis dengan memanfaatkan pengamatan SYNOP per 3-jam dari 8 stasiun cuaca BMKG yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya selama periode tahun 2000-2012. Frekuensi kejadian TS pada tiap lokasi dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah laporan TS pada data SYNOP dengan jumlah total observasi yang dilakukan oleh stasiun yang bersangkutan. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa TS memiliki dua pola klimatologi yang dominan dan paling sering terjadi pada periode sebelum dan sesudah musim hujan, terutama pada bulan November dan April. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa TS sangat bergantung pada topografi dari lokasi yang bersangkutan, yang mengindikasikan pengaruh kuat dari siklus harian akibat konveksi kuat dan pola angin darat-laut di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pada beberapa lokasi yang berdekatan dengan Teluk Jakarta, periode puncak kejadian TS juga terjadi pada puncak musim hujan akibat pengaruh dari monsun barat laut dan seruak dingin yang datang dari Laut Tiongkok Selatan. Variabilitas iklim global seperti ENSO (El Nino Southern Oscillation) dan MJO (Madden-Julian Oscillation) turut memberikan pengaruh signifikan terhadap frekuensi TS. Hasil analisis menunjukkan bahwa frekuensi TS mengalami peningkatan pada periode La Nina kuat, serta pada periode sebelum dan sesudah MJO melintasi Indonesia bagian barat.    AbstractThunderstorm (TS) climatology was analyzed by utilizing 3-hourly SYNOP observation of 8 BMKG’s weather stations in Jakarta capital and surrounding area during the period of 2000-2012. The frequency of TS occurrences at each location was calculated based on the ratio of TS reports to the total number of SYNOP observations conducted by the stations. The results show that the TS has two dominant climatological patterns in which most cases, the peak periods both preced and succeed the rainy season, especially in November and April. The results also imply that TS occurences are heavily influenced by the topography at each location, which indicate the great dependency of TS to the diurnal cycle generated by strong convective activity and land-sea breeze circulation over Jakarta and surronding regions. On the other hand, the peak period of TS at some locations close to Jakarta Bay, occurs simultaneously with the peak of rainy season by the influence of north-westerly monsoon and cold surge coming from the South China Sea. Global climate variabilities such as ENSO (El Nino Southern Oscillation) and MJO (Madden-Julian Oscillation) also significantly contribute to the anomaly of TS frequency. The results show an enhancement of TS frequency during the period of strong La Nina, as well as the period before and after MJO passes the western part of Indonesia. 
PENGARUH MADDEN-JULIAN OSCILLATION TERHADAP DISTRIBUSI TEMPORAL DAN PROPAGASI HUJAN BERDASARKAN PENGAMATAN RADAR CUACA (Studi Kasus : Intensive Observation Period 2016 di Wilayah Jakarta dan Sekitarnya) Arbain, Ardhi Adhary; Renggono, Findy; Yahya, Rino Bahtiar
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 18, No 2 (2017): December 2017
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.371 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v18i2.2058

Abstract

IntisariDistribusi temporal dan propagasi hujan selama Intensive Observation Period 2016 (IOP 2016, 18 Januari – 16 Februari 2016) di wilayah Jakarta dan sekitarnya dianalisis berdasarkan rataan longitudinal dan latitudinal data Constant Altitude Plan Position Indicator (CAPPI) radar cuaca, pada periode sebelum, saat dan sesudah fase aktif Madden-Julian Oscillation (MJO). Hasil analisis menunjukkan bahwa distribusi temporal hujan berkurang secara signifikan pada periode MJO aktif dan sesudah MJO, terutama pada dini hari. Di sisi lain, intensitas hujan semakin meningkat dengan nilai rata-rata di atas 30 mm/jam pada periode setelah MJO. Pada komponen zonal, arah propagasi hujan umumnya dominan dari barat ke timur pada ketiga periode analisis, sedangkan untuk komponen meridional, terdapat variasi yang cukup signifikan pada periode saat dan setelah MJO aktif . Pergerakan hujan dari selatan ke utara pada kedua periode tersebut menunjukkan pengaruh siklus diurnal yang semakin kuat dibandingkan pengaruh monsun, setelah MJO melintasi wilayah barat Benua Maritim Indonesia.   AbstractTemporal distribution and propagation of rainfall during Intensive Observation Period 2016 campaign (IOP 2016, January 18 – February 16, 2016) in Jakarta and surrounding area were investigated based on the longitudinal dan latitudinal averages of Constant Altitude Plan Position Indicator (CAPPI) dataset of weather radar, during the active Madden-Julian Oscillation (MJO) phase, as well as, pre-MJO and post-MJO periods. The results show a significant decrease of rainfall temporal distribution during the active MJO and post-MJO periods, particularly in the early morning, meanwhile, the rainfall intensity shows significant increase, with the averages of more than 30 mm/hr during the post-MJO period. On the zonal component, the rainfall mostly has eastward propagation for all period while having more significant variations on the meridional component during the active and post-MJO periods. Northward rainfall propagation during the active and post-MJO periods indicates the strengthen effect of diurnal cycle over monsoon after the MJO passed by the western part of Indonesian Maritime Continent.  
DETEKSI ES DAN HAIL DI ATMOSFER DENGAN RADAR POLARIMETRIK X-BAND FURUNO WR-2100 (STUDI KASUS: 24 JANUARI DAN 14 FEBRUARI 2016) Arbain, Ardhi Adhary; Sunarto, Faisal; Mulyana, Erwin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 19, No 1 (2018): June 2018
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1108.554 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v19i1.2994

Abstract

Informasi keberadaan es di atmosfer sangat penting, tidak hanya untuk studi meteorologi, namun juga untuk kegiatan modifikasi cuaca maupun pengembangan sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi. Pada makalah ini, kami mendemonstrasikan tiga teknik deteksi es dengan memanfaatkan observasi radar X-band polarimetrik Furuno WR-2100. Data Constant Altitude Plan Position Indicator (CAPPI) untuk parameter horizontal reflectivity (Zh), differential reflectivity (ZDR) dan specific differential phase (KDP) pada kejadian presipitasi konvektif di wilayah Banten dan Bogor tanggal 24 Januari dan 14 Februari 2016 dianalisis dengan menggunakan metode Hail Differential Reflectivity (HDR), metode konsistensi KDP (CM) dan metode fuzzy logic (FL). Produk data yang dihasilkan oleh ketiga metode tersebut saling dibandingkan secara horizontal pada ketinggian 500 meter, 2 kilometer dan 5 kilometer, serta secara vertikal hingga ketinggian 15 kilometer. Hasil analisis menunjukkan metode HDR paling sensitif dan konsisten untuk identifikasi es pada setiap level ketinggian, sedangkan metode FL dapat membedakan jenis es secara spesifik. Di sisi lain, rendahnya sensitivitas metode CM dalam penelitian ini menunjukkan tidak adanya konsentrasi es yang signifikan pada waktu observasi dan mengindikasikan metode tersebut lebih sensitif untuk deteksi jenis es dengan ukuran yang lebih besar.
PENGARUH MADDEN-JULIAN OSCILLATION TERHADAP DISTRIBUSI TEMPORAL DAN PROPAGASI HUJAN BERDASARKAN PENGAMATAN RADAR CUACA (STUDI KASUS : INTENSIVE OBSERVATION PERIOD 2016 DI WILAYAH JAKARTA DAN SEKITARNYA) Arbain, Ardhi Adhary; Renggono, Findy; Yahya, Rino Bahtiar
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 18, No 2 (2017): December 2017
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.371 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v18i2.2058

Abstract

IntisariDistribusi temporal dan propagasi hujan selama Intensive Observation Period 2016 (IOP 2016, 18 Januari ? 16 Februari 2016) di wilayah Jakarta dan sekitarnya dianalisis berdasarkan rataan longitudinal dan latitudinal data Constant Altitude Plan Position Indicator (CAPPI) radar cuaca, pada periode sebelum, saat dan sesudah fase aktif Madden-Julian Oscillation (MJO). Hasil analisis menunjukkan bahwa distribusi temporal hujan berkurang secara signifikan pada periode MJO aktif dan sesudah MJO, terutama pada dini hari. Di sisi lain, intensitas hujan semakin meningkat dengan nilai rata-rata di atas 30 mm/jam pada periode setelah MJO. Pada komponen zonal, arah propagasi hujan umumnya dominan dari barat ke timur pada ketiga periode analisis, sedangkan untuk komponen meridional, terdapat variasi yang cukup signifikan pada periode saat dan setelah MJO aktif . Pergerakan hujan dari selatan ke utara pada kedua periode tersebut menunjukkan pengaruh siklus diurnal yang semakin kuat dibandingkan pengaruh monsun, setelah MJO melintasi wilayah barat Benua Maritim Indonesia.   AbstractTemporal distribution and propagation of rainfall during Intensive Observation Period 2016 campaign (IOP 2016, January 18 ? February 16, 2016) in Jakarta and surrounding area were investigated based on the longitudinal dan latitudinal averages of Constant Altitude Plan Position Indicator (CAPPI) dataset of weather radar, during the active Madden-Julian Oscillation (MJO) phase, as well as, pre-MJO and post-MJO periods. The results show a significant decrease of rainfall temporal distribution during the active MJO and post-MJO periods, particularly in the early morning, meanwhile, the rainfall intensity shows significant increase, with the averages of more than 30 mm/hr during the post-MJO period. On the zonal component, the rainfall mostly has eastward propagation for all period while having more significant variations on the meridional component during the active and post-MJO periods. Northward rainfall propagation during the active and post-MJO periods indicates the strengthen effect of diurnal cycle over monsoon after the MJO passed by the western part of Indonesian Maritime Continent.  
DETEKSI ES DAN HAIL DI ATMOSFER DENGAN RADAR POLARIMETRIK X-BAND FURUNO WR-2100 (STUDI KASUS: 24 JANUARI DAN 14 FEBRUARI 2016) Arbain, Ardhi Adhary; Sunarto, Faisal; Mulyana, Erwin
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 19, No 1 (2018): June 2018
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1108.554 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v19i1.2994

Abstract

Informasi keberadaan es di atmosfer sangat penting, tidak hanya untuk studi meteorologi, namun juga untuk kegiatan modifikasi cuaca maupun pengembangan sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi. Pada makalah ini, kami mendemonstrasikan tiga teknik deteksi es dengan memanfaatkan observasi radar X-band polarimetrik Furuno WR-2100. Data Constant Altitude Plan Position Indicator (CAPPI) untuk parameter horizontal reflectivity (Zh), differential reflectivity (ZDR) dan specific differential phase (KDP) pada kejadian presipitasi konvektif di wilayah Banten dan Bogor tanggal 24 Januari dan 14 Februari 2016 dianalisis dengan menggunakan metode Hail Differential Reflectivity (HDR), metode konsistensi KDP (CM) dan metode fuzzy logic (FL). Produk data yang dihasilkan oleh ketiga metode tersebut saling dibandingkan secara horizontal pada ketinggian 500 meter, 2 kilometer dan 5 kilometer, serta secara vertikal hingga ketinggian 15 kilometer. Hasil analisis menunjukkan metode HDR paling sensitif dan konsisten untuk identifikasi es pada setiap level ketinggian, sedangkan metode FL dapat membedakan jenis es secara spesifik. Di sisi lain, rendahnya sensitivitas metode CM dalam penelitian ini menunjukkan tidak adanya konsentrasi es yang signifikan pada waktu observasi dan mengindikasikan metode tersebut lebih sensitif untuk deteksi jenis es dengan ukuran yang lebih besar.
PEMODELAN ATMOSFER DENGAN WRF PADA KEJADIAN BANJIR JAKARTA 17 JANUARI 2013 Arbain, Ardhi Adhary; Kudsy, Mahally; Syaifullah, M. Djazim
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 14, No 1 (2013): June 2013
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.649 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v14i1.2679

Abstract

Intisari  Simulasi WRF pada tanggal 16-17 Januari 2013 dilakukan untuk menguji performa model dalam mendeteksi fenomena seruak dingin dan hujan ekstrim yang merupakan pemicu utama bencana banjir Jakarta pada periode tersebut. Metode verifikasi kualitatif dan kuantitatif pada tiap grid secara dikotomi digunakan untuk membandingkan keluaran model dengan data observasi Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP) dan NCEP Reanalysis. Performa model WRF dihitung berdasarkan nilai akurasi (ACC), Critical Success Index (CSI), Probability of Detection (POD) dan False Alarm Ratio (FAR) yang diperoleh dari hasil verifikasi numerik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa WRF mampu melakukan deteksi waktu awal kejadian hujan ekstrim dengan tepat setelah 6-7 jam sejak inisiasi model dilakukan. Performa terbaik WRF teramati pada pukul 02-09 WIB (LT) dengan nilai CSI mencapai 0,32, POD 0,82 dan FAR 0,66. Hasil verifikasi secara kualitatif dan kuantitatif juga menunjukkan bahwa WRF dapat melakukan deteksi seruak dingin dan hujan ekstrim sebelum banjir terjadi, walaupun dengan ketepatan durasi waktu dan lokasi kejadian yang masih relatif rendah bila dibandingkan dengan data observasi.  Abstract  WRF simulation on January 16-17, 2013 has been conducted to evaluate the model performance in detecting cold surge and extreme precipitation phenomena which were the triggers of Jakarta flood event during the period. Qualitative and quantitative dichotomous grid-to-grid verification methods are utilized to compare the model output with Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP) observation and NCEP Reanalysis dataset. WRF model performance is calculated based on the scores of accuracy (ACC), Critical Success Index (CSI), Probability of Detection (POD) and False Alarm Ration (FAR) which are generated from numerical verification. The results show that WRF could precisely detect the onset of extreme precipitation event in 6-7 hours after the model initiation.The best performance of the model is observed at 02-09 WIB (LT) with CSI score of 0.32, POD 0.82 and FAR 0.66. Despite the model inability to accurately predict the duration and location of cold surge and extreme precipitation, the qualitative and quantitative verification results also show that WRF could detect the phenomena just before the flood event occured.
KLIMATOLOGI BADAI PETIR DI WILAYAH JAKARTA DAN SEKITARNYA BERDASARKAN OBSERVASI SYNOP TAHUN 2000-2012 Arbain, Ardhi Adhary
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 17, No 1 (2016): June 2016
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1136.084 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v17i1.1175

Abstract

IntisariKlimatologi badai petir (TS) dianalisis dengan memanfaatkan pengamatan SYNOP per 3-jam dari 8 stasiun cuaca BMKG yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya selama periode tahun 2000-2012. Frekuensi kejadian TS pada tiap lokasi dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah laporan TS pada data SYNOP dengan jumlah total observasi yang dilakukan oleh stasiun yang bersangkutan. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa TS memiliki dua pola klimatologi yang dominan dan paling sering terjadi pada periode sebelum dan sesudah musim hujan, terutama pada bulan November dan April. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa TS sangat bergantung pada topografi dari lokasi yang bersangkutan, yang mengindikasikan pengaruh kuat dari siklus harian akibat konveksi kuat dan pola angin darat-laut di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pada beberapa lokasi yang berdekatan dengan Teluk Jakarta, periode puncak kejadian TS juga terjadi pada puncak musim hujan akibat pengaruh dari monsun barat laut dan seruak dingin yang datang dari Laut Tiongkok Selatan. Variabilitas iklim global seperti ENSO (El Nino Southern Oscillation) dan MJO (Madden-Julian Oscillation) turut memberikan pengaruh signifikan terhadap frekuensi TS. Hasil analisis menunjukkan bahwa frekuensi TS mengalami peningkatan pada periode La Nina kuat, serta pada periode sebelum dan sesudah MJO melintasi Indonesia bagian barat.    AbstractThunderstorm (TS) climatology was analyzed by utilizing 3-hourly SYNOP observation of 8 BMKG?s weather stations in Jakarta capital and surrounding area during the period of 2000-2012. The frequency of TS occurrences at each location was calculated based on the ratio of TS reports to the total number of SYNOP observations conducted by the stations. The results show that the TS has two dominant climatological patterns in which most cases, the peak periods both preced and succeed the rainy season, especially in November and April. The results also imply that TS occurences are heavily influenced by the topography at each location, which indicate the great dependency of TS to the diurnal cycle generated by strong convective activity and land-sea breeze circulation over Jakarta and surronding regions. On the other hand, the peak period of TS at some locations close to Jakarta Bay, occurs simultaneously with the peak of rainy season by the influence of north-westerly monsoon and cold surge coming from the South China Sea. Global climate variabilities such as ENSO (El Nino Southern Oscillation) and MJO (Madden-Julian Oscillation) also significantly contribute to the anomaly of TS frequency. The results show an enhancement of TS frequency during the period of strong La Nina, as well as the period before and after MJO passes the western part of Indonesia.