I Made Gde Puasa
Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Development of a drama gong performance model: an effort to preserve the traditional Balinese drama in the digital era I Wayan Sugita; I Gede Tilem Pastika; I Made Gde Puasa
International Journal of Visual and Performing Arts Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : ASSOCIATION FOR SCIENTIFIC COMPUTING ELECTRICAL AND ENGINEERING (ASCEE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31763/viperarts.v5i1.910

Abstract

Drama Gong is a traditional Balinese performance art that enjoyed popularity. However, since the 1990s, the advent of television and the internet has led to a decline in the prominence of Drama Gong. Therefore, there is a pressing need to revitalize and innovate this traditional art form. One such effort by Balinese artists involves the creation of a digital adaptation known as 'Drama Keraton Cilinaya.' This qualitative descriptive research aims to explore the development model of Drama Gong in the digital era. The research data were collected through a comprehensive document analysis, which included the examination of seven episodes of 'Drama Keraton Cilinaya,' as well as direct observations and interviews with the creators. The findings revealed that 'Drama Keraton Cilinaya' has undergone significant internal and external innovations. Internally, the artists emphasized the importance of having an open mindset to embrace global changes, packaged stories for enhanced appeal and comprehension, incorporated contemporary dialogue, employed multiple languages, engaged younger talents, enhanced makeup and costume artistry, introduced digital music, and improved stage layouts. External innovations involve collaborations with artists beyond the Drama Gong tradition, utilizing digital technology in production, and distributing the performances through TV media and YouTube channels to broaden their audience reach. It is anticipated that the findings of this research will serve as a valuable digital packaging model, not only for Drama Gong but also for the development of other traditional Balinese performing arts, ensuring their sustainability in the digital era.
KULKUL SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI SEKAA TRUNA DI BANJAR BELULANG DESA ADAT KAPAL KECAMATAN MENGWI KABUPATEN BADUNG Made Wahyu Widya Nugraha; I Wayan Sujana; I Made Gde Puasa
Cangkal : Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): Mei - Oktober 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Literasi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kulkul merupakan media komunikasi tradisional yang masih digunakan oleh masyarakat Bali, khususnya di Banjar Belulang, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Selain berfungsi sebagai penyampai informasi, kulkul menjadi bagian dari sistem komunikasi adat untuk menyampaikan informasi terkait kegiatan adat, sosial, keagamaan, dan organisasi sekaa truna. Namun, perkembangan media komunikasi modern menyebabkan pemahaman generasi muda terhadap fungsi dan pola bunyi kulkul semakin beragam. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemahaman sekaa truna terhadap kulkul sebagai media komunikasi, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemahaman tersebut, serta mengkaji upaya Banjar Belulang dalam melestarikan pengetahuan tentang kulkul. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif interpretatif. Analisis didasarkan pada teori interaksionisme simbolik, teori komunikasi budaya, dan teori transmisi budaya. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Informan dipilih secara purposive, meliputi Kelihan Adat Banjar Belulang, Ketua dan anggota Sekaa Truna Truni, serta Camat Mengwi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sekaa truna memahami kulkul sebagai media komunikasi tradisional untuk menyampaikan informasi kegiatan banjar, tetapi pemahaman terhadap makna pola bunyi kulkul masih beragam; sebagian anggota memahami makna setiap pola pukulan, sedangkan sebagian lainnya hanya mengenali bunyi kulkul sebagai penanda adanya kegiatan. (2) Pemahaman tersebut dipengaruhi oleh penggunaan media sosial, pengalaman berorganisasi di banjar, serta latar belakang pekerjaan dan pendidikan yang memengaruhi tingkat keterlibatan dalam kegiatan adat. (3) Banjar Belulang meningkatkan pemahaman sekaa truna melalui pembinaan dalam paruman, pelibatan aktif dalam kegiatan banjar, dan regenerasi kepengurusan oleh prajuru sebagai upaya pewarisan pengetahuan budaya agar kulkul tetap dipahami dan digunakan sebagai media komunikasi tradisional.