Nawawi Nawawi
UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

POLA KOMUNIKASI PIMPINAN MEMBANGUN KINERJA DAN MOTIVASI KERJA APARATUR SIPIL NEGARA BAGIAN PROTOKOL DAN KOMUNIKASI PIMPINAN SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN BANYUMAS Bambang Agus Setiyawan; Nawawi Nawawi
Al-Isyraq: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, dan Konseling Islam Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : PABKI (Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59027/alisyraq.v6i2.338

Abstract

Komunikasi yang efektif akan menghasilkan kepuasan dan produktivitas pegawai, perbaikan pencapaian hasil karya dan tujuan instansi. Komunikasi pegawai yang efektif tergantung dari hubungan pegawai yang memuaskan yang dibangun berdasarkan iklim dan kepercayaan atau suasana instansi yang positif. Komunikasi pimpinan ASN Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Kabupaten Banyumas memiliki tiga wujud. Pertama, komunikasi ke bawah yaitu komunikasi dari kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan kepada pegawai/ staf. Kedua, komunikasi ke atas yaitu komunikasi dari pihak pegawai/ staf ke pihak manajemen. Ketiga, komunikasi sejajar, komunikasi yang berlangsung antara sesama pegawai di dalam Bagian Protokol Dan Komunikasi Pimpinan Kabupaten Banyumas.
PERILAKU INTOLERANSI BERAGAMA DAN BUDAYA MEDIA SOSIAL: TINJAUAN BIMBINGAN LITERASI MEDIA DIGITAL DI MASYARAKAT Haerul Latipah; Nawawi Nawawi
Al-Isyraq: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, dan Konseling Islam Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : PABKI (Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59027/alisyraq.v6i2.336

Abstract

Dampak media sosial berkembang pesat. Media sosial telah memungkinkan desa-desa yang paling terpencil sekalipun untuk memiliki akses ke dunia secara luas. Jangkauan berita yang disebarluaskan melalui media sosial tidak bisa dipungkiri sangat luas. Saat ini, media sosial digunakan tidak hanya untuk berhubungan dengan orang lain, tetapi juga untuk menyebarkan ide dan opini. Meningkatnya jumlah orang yang menggunakan media sosial telah menyebabkan lebih banyak variasi orang dan perspektif yang dibagikan. Media sosial memudahkan untuk terhubung dengan orang-orang dari seluruh dunia, tidak hanya dengan orang Indonesia lainnya (yang juga multibahasa). Ketidaksepakatan dapat muncul dari keragaman perspektif ini karena perbedaan latar belakang budaya dan agama. Untuk memerangi intoleransi di platform media sosial, diperlukan regulasi yang lebih ketat. Dalam kasus intoleransi, konflik yang melibatkan agama sangat sensitif dan mudah diselesaikan. Konten dan komentar yang ada di platform media sosial penuh dengan contoh intoleransi beragama. Mempertahankan kesopanan dalam komunitas online membutuhkan jalur komunikasi yang terbuka. Hindari konflik keyakinan agama melalui dialog terbuka. Jangan mengambil risiko menyinggung orang di media sosial dengan membahas agama.
ANALISIS PERANAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME KINERJA DAN KOMUNIKASI ASN BKPSDM KABUPATEN BANYUMAS Anggit Pamungkas; Nawawi Nawawi
Al-Isyraq: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, dan Konseling Islam Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : PABKI (Perkumpulan Ahli Bimbingan dan Konseling Islam) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59027/alisyraq.v6i2.341

Abstract

Dalam suatu organisasi atau instansi, kegiatan komunikasi merupakan salah satu bentuk kegiatan yang sangat penting dan berperan dalam menentukan sejauh mana orang dapat bekerja sama secara efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Salah satu jenis komunikasi yang frekuensinya cukup tinggi adalah komunikasi interpersonal atau komunikasi interpersonal. Komunikasi antara Kepala BKPSDM Kabupaten Banyumas dan staf, merupakan faktor penting dalam menciptakan organisasi yang efektif.
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM ISLAM DAN INTERKULTURALISME: STUDI KRITIS TANTANGAN MULTIKULTURAL DI ERA GLOBAL Miftahul Khoirin; Khusnul Khotimah; Nawawi Nawawi
Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Vol 3 No 1 (2026): Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Publisher : LP2M STIK KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62509/hjis.v3i1.213

Abstract

The dynamics of interaction in multicultural societies in the era of globalization are often characterized by tensions arising from differences in symbolic codes and cultural perceptions. Communication and culture are two constitutive entities; however, differences in background frequently lead to misunderstandings, stereotypes, and ethnocentrism, particularly in the Indonesian context, which is marked by high ethnic diversity. This study examines intercultural communication from the perspectives of interculturalism and Islamic ethics within the dynamics of multicultural societies in the era of globalization. It is grounded in the increasing issues of misunderstanding, stereotypes, and ethnocentrism resulting from differences in culture, language, and systems of meaning in social interaction. This research employs a qualitative approach using library research through critical analysis of literature on intercultural communication, interculturalism, and Islamic communication ethics. The findings show that intercultural communication cannot be understood merely as a technical competence, but as a process involving cultural awareness, contextual sensitivity, and an ethical framework. The integration of modern intercultural communication theory with Islamic values such as ta’aruf, tasamuh, tabayyun, as well as qaulan sadīda and qaulan layyina produces an Islamic intercultural communication model with an integrative character. The model consists of three layers: cultural competence, contextual awareness, and Islamic ethics as a normative foundation. This study emphasizes that intercultural communication should be understood as a social practice containing ethical and spiritual dimensions in building harmony within multicultural societies.