Khoirin, Miftahul
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

AURAT PEREMPUAN PADA SURAT AN NUR AYAT 31 Studi Kitab Tafsir Marr’ah Labid Karya Syekh Nawawi Al Bantani Khoirin, Miftahul; Hidayat, Imam Ma’arif
JIQSI : Jurnal Ilmu Al Qur'an dan Studi Islam Vol 1 No 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : STIQ Miftahul Huda Rawalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Qur’an bisa didefinisikan sebagai “firman-firman Allah yang disampaikan oleh  malaikat Jibril sesuai dengan redaksi-Nya kepada nabi Muhammad SAW., dan  diterima oleh umat Islam secara tawatur. Hal ini disebabkan karena problematika  kehidupan bersifat dinamis, yang tentunya tidak satu persatu dijelaskan secara  jelas dan tegas dalam ayat Al-Qur’an melaikan seseorang harus mampu mencari  esensi makna dari suatu ayat, dari sekian problematika, hal yang terkait dengan  aurat perempuan merupakan salah satunya pembicaraan tentang perempuan yang  selalu menjadi salah satu topik yang menarik, tidak ada habisnya dikaji dan  diperbincangkan serta tidak akan pernah terlepas dari kritik sosial mulai dari segi  jasmaninya, rohani, hak, kewajiban sampai eksistensinya. Salah satu yang  menjadi sorotan dari sosok perempaun yakni auratnya, Sejauh ini aurat  perempuan yang di-mafhumi masyarakat umum memiliki batasan seluruh tubuh  terkecuali wajah dan telapak tangan serta menjadi hal yang tidak pernah selesai  untuk diperdebatkan. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan metode pengumpulan datanya melalui metode study pustaka. Sumber data penelitian yang  digunakan adalah sumber primer dan sekunder, berupa karya-karya tertulis yaitu  kitab Tafsir Marr’ah Labid. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa Aurat Perempuan pada surat  an-Nur ayat 31 Study Kitab Tafsir Marr’ah Labid (karya Syekh Nawawi Al Bantani): Seorang perempuan muslimah harus menutup auratnya, sedangkan aurat  perempuan adalah seluruh tubuh selain yang dikecualikan. Dan menjaga martabat  seorang perempuan, dengan tidak memperlihatkan auratnya kepada laki-laki lain  selain mahramnya. Jangan memakai pakaian yang ketat atau pakaian yang  menerawang sehingga memunculkan fitnah. Kitab yang telah ditulis oleh Syekh Nawawi al-Bantani. Tafsir Marāh Labīd terdiri dari 2 jilid, jilid pertama berjumlah 511 halaman beserta daftar isinya dan jilid kedua berjumlah 476 halaman beserta daftar isinya. Di mana jilid yang pertama dimulai dari surat al[1]Fātihah sampai dengan asal surat al-Kahfi
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM ISLAM DAN INTERKULTURALISME: STUDI KRITIS TANTANGAN MULTIKULTURAL DI ERA GLOBAL Miftahul Khoirin; Khusnul Khotimah; Nawawi Nawawi
Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Vol 3 No 1 (2026): Halaqah: Journal of Multidisciplinary Islamic Studies
Publisher : LP2M STIK KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62509/hjis.v3i1.213

Abstract

The dynamics of interaction in multicultural societies in the era of globalization are often characterized by tensions arising from differences in symbolic codes and cultural perceptions. Communication and culture are two constitutive entities; however, differences in background frequently lead to misunderstandings, stereotypes, and ethnocentrism, particularly in the Indonesian context, which is marked by high ethnic diversity. This study examines intercultural communication from the perspectives of interculturalism and Islamic ethics within the dynamics of multicultural societies in the era of globalization. It is grounded in the increasing issues of misunderstanding, stereotypes, and ethnocentrism resulting from differences in culture, language, and systems of meaning in social interaction. This research employs a qualitative approach using library research through critical analysis of literature on intercultural communication, interculturalism, and Islamic communication ethics. The findings show that intercultural communication cannot be understood merely as a technical competence, but as a process involving cultural awareness, contextual sensitivity, and an ethical framework. The integration of modern intercultural communication theory with Islamic values such as ta’aruf, tasamuh, tabayyun, as well as qaulan sadīda and qaulan layyina produces an Islamic intercultural communication model with an integrative character. The model consists of three layers: cultural competence, contextual awareness, and Islamic ethics as a normative foundation. This study emphasizes that intercultural communication should be understood as a social practice containing ethical and spiritual dimensions in building harmony within multicultural societies.