Lilis Hartini, Lilis
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS LINGUISTIK TERHADAP ISI SHORT MESSAGE SERVICE (SMS) YANG BERAKIBAT PELANGGARAN HUKUM Hartini, Lilis
Jurnal Wawasan Yuridika Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Hukum Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.895 KB) | DOI: 10.25072/jwy.v27i2.58

Abstract

Short Message Service (SMS)is a kind of written text as a means of making a long distant communication by using a mobile phone. Communication through Short Message Service frequently causes miscommunication among senders and receivers as there is no face to face communication. This failure of communication can cause various individual and social problems. The problems appear because the receiver is not happy or being threatened by the texts sent through Short Message Service. This failure of communication also causes violation against the law. The theory used in this research is functional grammar analysis; that is to say a way to make a research on texts contained in Short Message Service (SMS). This linguisticanalytic approach is aimed at examining rationality which is related to ideas of message senders, and also examining how it is consistent with other ideas. By using grammar and logic, the researcher studies this concept by analyzing from a certain point of view.This linguisticanalytic approach examines logically concepts according to the needs of the texts which have been approached. The result of the research shows that communication for people from different social and culture backgrounds can cause misunderstanding, so it can have an impact on legal action. When we make verbal and written communication with the strangers, we are supposed to understand attentively both explicit and implicit meanings of the texts. It should be consulted with the experts or linguists in order to avoid legal action.Keywords: short message service; violation against the law
PENERAPAN FONETIK AKUSTIK DAN TEORI GRICE PADA REKAMAN PENYADAPAN TELEPON SEBAGAI ALAT BUKTI HUKUM: KAJIAN LINGUISTIK FORENSIK TERHADAP PERCAKAPAN ANTARA ARTALYTA SURYANI DENGAN JAKSA URIP TRI GUNAWAN Hartini, Lilis
Jurnal Wawasan Yuridika Vol 23, No 2 (2010)
Publisher : Sekolah Tinggi Hukum Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.81 KB) | DOI: 10.25072/jwy.v23i2.14

Abstract

Forensic linguistics is a field of applied linguistics that involves the relationship between language, law, and crime. Practices law in this study as one solution in uncovering a legal case. This study is related to the study of transcript of telephone wiretap recordings to reveal how the subject of public law to lie. The method used is a qualitative descriptive method, a method that describes a conversation conducted Artalyta Suryani when his cell phone tapped the prosecution, viewed from the perspective of the principles of cooperation Grice. In descriptive research was conducted solely based on the facts presented or the phenomenon that is the emperis done by native speakers, whereas a qualitative approach that is pragmatic approach that bases itself on the reaction or response according to the conversational partner. The study results in a bribery case that was tapped by mobile phone is terdaspat deceit committed by the defendant.  Pendingnya is they have to talk in riddles and use sign language.Keywords: Wiretapping - Forensic Linguistics - Law of Evidence
CAMPUR CODE SEBAGAI SIMBOL KEKUASAAN DALAM PILKADA KABUPATEN BANDUNG (TINJAUAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA) Hartini, Lilis
Jurnal Wawasan Yuridika Vol 29, No 2 (2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Hukum Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.053 KB) | DOI: 10.25072/jwy.v29i2.69

Abstract

AbstrakCampur kode yang digunakan dalam suatu wacana politik adalah sikap perilaku seseorang dalam memengaruhi publik agar simpati terhadap pesan yang disampaikannya. Hal ini wajar karena sebagai masyarakat yang dwibahasa Indonesia mempunyai keragaman pilihan bahasa. Campur kode yang digunakan ketika Pilkada dijadikan sarana efektif politisi dalam komunikasi lintas bahasa.Kesalahan pilihan bahasa  dapat menimbulkan berbagai masalah sosial dan individu. Dalam penelitian ini, masalah yang terjadi karena pesan yang disampaikan terkesan memaksakan kehendak, sehingga masyarakat penerima bahasa menjadi tidak simpati, bahkan tidak senang dengan bahasa yang dikemukakan politisi ketika berkampanye.Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiolinguistik, yaitu salah satu cara meneliti pilihan bahasa, berupa campur kode yang dilakukan oleh partisipan. Pendekatan sosiolinguistik ini bertujuan untuk menguji rasionalitas yang berkaitan dengan ide-ide atau gagasan-gagasan pemberi pesan, dan menguji bagaimana konsistensinya dengan gagasan lain. Dengan menggunakan bahasa tutur dan campur kode, peneliti kaji konsep tersebut dengan cara menganalisis dari sudut pandang tertentu. Pendekatan sosiolinguistik menguji secara sosiologis pilihan bahasa yang digunakan partisipan  sesuai dengan kebutuhan  yang didekati.Hasil penelitian menunjukkan bahwa campur kode merupakan pilihan bahasa yang cukup efektif dalam komunikasi lintas budaya. Pilihan bahasa ini sering dilakukan partisipan dalam Pilkada. Ada baiknya jika pilihan bahasa, baik secara lisan maupun tertulis, dalam berkampanye politisi harus mengetahui sistem budaya daerah yang dijadikan tempat berkampanye. Kata Kunci: sosiolinguistik, campur kode, simbol kekuasaan
Terkikisnya Nama Diri Orang Sunda sebagai Tanda Pudarnya Sebagian Kearifan Lokal di Jawa Barat Hartini, Lilis; Gustiasari, Dewi Rani
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis terkikisnya penamaan diri Bahasa Sunda di kalangan masyarakat Sunda. Metode penelitian yang digunakan adalah Etnografi dengan pendekatan Antropolinguistik. Objek penelitian bersumber dari nama di data absensi mahasiswa, grup WhatsApp, facebook serta hasil dari 175 responden yang menjawab kuesioner. Ditemukan nama-nama Sunda seperti Asep, Encep, Cecep, Lilis yang sering disebutkan oleh responden dewasa. Artinya, penamaan dengan nama-nama Sunda tersebut masih terjadi di generasi kakek dan nenek anak-anak yang lahir zaman sekarang. Penelitian ini juga mendapati bahwa pengaruh era globalisasi dan akulturasi menyebabkan terkikisnya nama diri Sunda. Nama-nama Sunda tidak digunakan oleh orang tua yang melahirkan anak di tahun 2000-an dan yang melakukan pernikahan campuran. Meskipun ada keprihatinan yang mendorong upaya pelestarian nama Sunda dari beberapa kalangan, kondisi saat ini adalah dampak dari akulturasi dengan filtrasi budaya asing yang kurang sehingga mengancam eksistensi nama Sunda.