Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis terkikisnya penamaan diri Bahasa Sunda di kalangan masyarakat Sunda. Metode penelitian yang digunakan adalah Etnografi dengan pendekatan Antropolinguistik. Objek penelitian bersumber dari nama di data absensi mahasiswa, grup WhatsApp, facebook serta hasil dari 175 responden yang menjawab kuesioner. Ditemukan nama-nama Sunda seperti Asep, Encep, Cecep, Lilis yang sering disebutkan oleh responden dewasa. Artinya, penamaan dengan nama-nama Sunda tersebut masih terjadi di generasi kakek dan nenek anak-anak yang lahir zaman sekarang. Penelitian ini juga mendapati bahwa pengaruh era globalisasi dan akulturasi menyebabkan terkikisnya nama diri Sunda. Nama-nama Sunda tidak digunakan oleh orang tua yang melahirkan anak di tahun 2000-an dan yang melakukan pernikahan campuran. Meskipun ada keprihatinan yang mendorong upaya pelestarian nama Sunda dari beberapa kalangan, kondisi saat ini adalah dampak dari akulturasi dengan filtrasi budaya asing yang kurang sehingga mengancam eksistensi nama Sunda.
Copyrights © 2025