Wulan Pingkan Julia Kaunang
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK, OBESITAS DAN RIWAYAT KELUARGA DENGANiHIPERTENSI PADA PASIEN DI PUSKESMAS PUSOMAEN Josua Epste Sumajow; Wulan Pingkan Julia Kaunang; Budi Tamardy Ratag
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 3 (2023): SEPTEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i3.16598

Abstract

Prevalensi penyakit tidak menular terus meningkat, menimbulkan tantangan yang signifikan bagi kesehatan masyarakat. Yang menjadi perhatian khusus adalahimeningkatnya prevalensi hipertensi, yang sering disebut sebagai silent killer. Berbagai faktor berkontribusi terhadap perkembangan hipertensi, termasuk kebiasaan merokok, obesitas, dan riwayat keluarga. Tujuan penelitian ini adalahiuntuk mengetahui dan mengevaluasi hubungan antara perilaku merokok, obesitas, dan riwayat kesehatan keluarga denganihipertensiipada pasien di Puskesmas Pusomaen pada bulan Februari sampai Mei tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metode observasi analitik denganidesain penelitian cross-sectional. Penelitian ini mencakup populasi 5145 pasien, denganisampel 100 responden yang dipilih melalui teknik non-probability accidental sampling. Instrumen utama yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalahikuesioner, stadiometer, dan timbangan. Teknik statistik yang digunakan untuk analisis data adalahianalisis chi-square, yang menguji hubungan antara berbagai faktor denganihipertensi. Nilai-p dan rasio odds yang diperoleh menghasilkan wawasan yang berharga. Untuk hubungan perilaku merokok denganihipertensiidiperoleh p-value 0,016 denganiodds ratio 3,204. Begitu pula hubungan antara obesitas dan hipertensiimenghasilkan p-value 0,015 dan odds ratio 3,289. Temuan mengungkapkan bahwa hubungan antara riwayat keluarga dan hipertensiisecara statistik signifikan, denganinilai p 0,023 dan rasio odds 3,014. Denganidemikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang patut diperhatikan antara kebiasaan merokok, obesitas, riwayat keluarga, dan hipertensiipada pasien yang di Puskesmas Pusomaen.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan diabetes melitus pada pasien Jessica Pricilia Kamagi; Budi Tarmady Ratag; Eva Mariane Mantjoro; Wulan Pingkan Julia Kaunang
Hik Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2457

Abstract

Background: Diabetes is a disease caused by a decrease in the hormone insulin produced by the pancreas, or insulin resistance. This results in the body's inability to properly process glucose, leading to elevated blood glucose levels (hyperglycemia). Physical activity is a modifiable risk factor for diabetes, while family history/genetic factors are non-modifiable risk factors. Purpose: To analyze the relationship between physical activity and family history with diabetes mellitus in patients. Method: This quantitative study used an observational analytical approach with a cross-sectional study design. The study was conducted from June to August 2025 with a sample of 100 respondents selected using a purposive sampling technique. Data collection used medical records, questionnaires, and rapid tests (blood sugar measurements). Results: The chi-square test yielded a p-value for the association between physical activity and family history of diabetes mellitus of 0.001. This indicates that both variables have a significant association with the incidence of diabetes mellitus. Conclusion: There is a significant association between physical activity and family history with the incidence of diabetes mellitus.   Keywords: Diabetes Mellitus; Family History; Physical Activity.                                                                                            Pendahuluan: Diabetes merupakan penyakit yang disebabkan oleh penurunan hormon Insulin yang diproduksi oleh pankreas atau terjadinya resistensi insulin, kemudian menyebabkan glukosa tubuh tidak dapat diproses secara sempurna, sehingga menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia). Aktifitas fisik merupakan salah satu faktor risiko diabetes yang dapat diubah, sementara riwayat keluarga/faktor genetik adalah faktor risiko yang tidak dapat diubah. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dan riwayat keluarga dengan diabetes melitus pada pasien. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan observasional analitik dengan rancangan cross sectional study. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2025 dengan sampel berjumlah 100 responden, dipilih melalui teknik purposive sampling. Sementara pengumpulan data menggunakan buku rekam medik, kuesioner, dan  rapid tests (pengukuran kadar gula darah). Hasil: Uji chi square diperoleh p-value untuk hubungan antara aktivitas fisik dan riwayat keluarga terhadap diabetes melitus adalah 0.001. Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diabetes melitus. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan riwayat keluarga dengan kejadian diabetes melitus.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Diabetes Melitus (DM); Riwayat Keluarga.
Profil imunoglobulin-g dan imunoglobulin-m pasien suspek demam berdarah dengue Giselle Deiny Angie Lumatauw; Wulan Pingkan Julia Kaunang; Fima Fredrik Lanra Gerald Langi
Hik Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2339

Abstract

Background: Limited access to and affordability of standard dengue diagnostic tests in primary healthcare facilities in Indonesia result in many cases remaining unconfirmed by laboratory examination. Therefore, routine hematological parameters may serve as a more affordable alternative for early dengue diagnosis, particularly in resource-limited settings. Purpose: To assess the association and diagnostic accuracy of routine hematological parameters with dengue diagnosis and infection status (primary or secondary) as determined by IgM and IgG serological profiles. Method: A quantitative study using a cross-sectional approach was conducted from January to December 2024 at the Laboratory of the Pancaran Kasih Evangelical Church General Hospital in Manado. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 141 respondents. The independent variable in this study was suspected dengue fever status, while the dependent variables were the immunoglobulin G (IgG) and immunoglobulin M (IgM) profiles of the patients. Data analysis was performed using R software with a significance level of 0.05. Results: Platelet count and the hemoconcentration/thrombocytopenia index (HTI) showed the best performance in distinguishing dengue-positive from dengue-negative cases (AUC 0.675), while leukocyte count demonstrated good discriminative ability in differentiating primary and secondary infections (AUC 0.817). Conclusion: Platelet count and the hemoconcentration/thrombocytopenia index (HTI) are useful as adjunct tools for early dengue diagnosis, while leukocyte count is the best indicator for differentiating primary and secondary infections and risk stratification.   Keywords: Dengue Fever; Immunoglobulin-G Profile; Immunoglobulin-M; Suspected Patients   Pendahuluan: Keterbatasan dan keterjangkauan akses pemeriksaan diagnostik standar dengue di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Indonesia menyebabkan banyak kasus tidak terkonfirmasi secara laboratorik. Oleh karena itu, parameter hematologi rutin berpotensi dimanfaatkan sebagai alternatif diagnostik awal yang lebih terjangkau, khususnya di wilayah dengan sumber daya terbatas. Tujuan: Untuk menilai hubungan dan akurasi diagnostik antara parameter hematologi rutin dengan diagnosis DBD dan status infeksi (primer atau sekunder) yang ditetapkan melalui pemeriksaan profil serologis IgM dan IgG. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan pada bulan Januari-Desember 2024, di Laboratorium Rumah Sakit Umum Gereja Masehi Injili Pancaran Kasih, Manado. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 141 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah status suspek demam berdarah dengue, sedangkan variabel dependen adalah profil imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin M (IgM) pasien. Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak R dengan tingkat signifikansi 0.05. Hasil: Trombosit dan indeks hemokonsentrasi/trombositopenia (HTI) memiliki kinerja terbaik untuk membedakan dengue positif dan negatif dengan akurasi (AUC 0.675), leukosit menunjukkan kemampuan diskriminasi yang baik dalam membedakan infeksi primer dan sekunder (AUC 0.817). Simpulan: Trombosit dan indeks hemokonsentrasi/trombositopenia (HTI), bermanfaat sebagai alat bantu diagnosis awal dengue, sementara leukosit merupakan indikator terbaik untuk membedakan infeksi primer dan sekunder serta stratifikasi risiko.   Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue; Imunoglobulin-M; Pasien Suspek; Profil Imunoglobulin-G.
Gambaran fungsi kognitif pada pasien lansia dengan hipertensi Reggista Anggreani Cahyani Ui; Eva Mariane Mantjoro; Grace Debbie Kandou; Wulan Pingkan Julia Kaunang
Hik Vol. 20 No. 6 (2026): Volume 20 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i6.3385

Abstract

Background: Hypertension in the elderly can impair blood flow to the brain and lead to a decline in cognitive function; this makes it a health issue requiring attention within the elderly population. Purpose: To determine the cognitive function profile of elderly patients with hypertension. Method: This study employed an analytical survey design with a cross-sectional approach, involving 81 elderly patients with hypertension selected via purposive sampling. The study was conducted from December to January 2026 at the Tuminting Community Health Center. The Mini-Mental State Examination (MMSE) questionnaire was used to assess cognitive function. Results: The majority of respondents were aged 60–69 years (61.7%), female (58.0%), and diagnosed with stage I hypertension (56.8%). Meanwhile, most respondents exhibited normal cognitive function (84.0%), followed by possible cognitive impairment (9.9%) and definite cognitive impairment (6.2%). Conclusion: The majority of elderly patients with hypertension at the Tuminting Community Health Center demonstrated normal cognitive function. However, some respondents were found to have cognitive impairment. Therefore, routine monitoring and management of hypertension are necessary to prevent cognitive decline in the elderly.   Keywords: Cognitive Function; Elderly; Hypertension.