Budi Tarmady Ratag
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faktor-faktor yang berhubungan dengan diabetes melitus pada pasien Jessica Pricilia Kamagi; Budi Tarmady Ratag; Eva Mariane Mantjoro; Wulan Pingkan Julia Kaunang
Hik Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2457

Abstract

Background: Diabetes is a disease caused by a decrease in the hormone insulin produced by the pancreas, or insulin resistance. This results in the body's inability to properly process glucose, leading to elevated blood glucose levels (hyperglycemia). Physical activity is a modifiable risk factor for diabetes, while family history/genetic factors are non-modifiable risk factors. Purpose: To analyze the relationship between physical activity and family history with diabetes mellitus in patients. Method: This quantitative study used an observational analytical approach with a cross-sectional study design. The study was conducted from June to August 2025 with a sample of 100 respondents selected using a purposive sampling technique. Data collection used medical records, questionnaires, and rapid tests (blood sugar measurements). Results: The chi-square test yielded a p-value for the association between physical activity and family history of diabetes mellitus of 0.001. This indicates that both variables have a significant association with the incidence of diabetes mellitus. Conclusion: There is a significant association between physical activity and family history with the incidence of diabetes mellitus.   Keywords: Diabetes Mellitus; Family History; Physical Activity.                                                                                            Pendahuluan: Diabetes merupakan penyakit yang disebabkan oleh penurunan hormon Insulin yang diproduksi oleh pankreas atau terjadinya resistensi insulin, kemudian menyebabkan glukosa tubuh tidak dapat diproses secara sempurna, sehingga menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia). Aktifitas fisik merupakan salah satu faktor risiko diabetes yang dapat diubah, sementara riwayat keluarga/faktor genetik adalah faktor risiko yang tidak dapat diubah. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dan riwayat keluarga dengan diabetes melitus pada pasien. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan observasional analitik dengan rancangan cross sectional study. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2025 dengan sampel berjumlah 100 responden, dipilih melalui teknik purposive sampling. Sementara pengumpulan data menggunakan buku rekam medik, kuesioner, dan  rapid tests (pengukuran kadar gula darah). Hasil: Uji chi square diperoleh p-value untuk hubungan antara aktivitas fisik dan riwayat keluarga terhadap diabetes melitus adalah 0.001. Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diabetes melitus. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan riwayat keluarga dengan kejadian diabetes melitus.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Diabetes Melitus (DM); Riwayat Keluarga.
Analisis faktor risiko keberhasilan pengobatan tuberkulosis paru Gabriella Trixie Riva Rorimpandey; Afnal Asrifuddin; Budi Tarmady Ratag
Hik Vol. 20 No. 3 (2026): Volume 20 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i3.2671

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) remains a serious global health challenge, with Indonesia ranking second in the world for TB cases. Successful treatment is crucial to prevent drug resistance, break the chain of transmission, and reduce mortality. Purpose: To analyze risk factors for successful pulmonary tuberculosis treatment. Method: This quantitative study used a case-control design. The study population was all pulmonary TB patients registered at the Tuminting Community Health Center in 2024. The sample consisted of 44 participants divided into a case group (11 participants who discontinued treatment) and a control group (33 participants who recovered) with a ratio of 1.3. Data collection was conducted through interviews using a questionnaire. Results: A significant relationship was found between medication adherence and treatment success. Patients who adhered to the treatment schedule and dosage had a significantly greater chance of being declared cured. Furthermore, PMO was not associated with treatment success. Conclusion: Medication adherence and active support from treatment supervisors are key risk factors determining the success of pulmonary TB treatment. Efforts to improve education and direct supervision are crucial to achieving this goal.   Keywords: Monitoring of Drug Consumption; Pulmonary Tuberculosis; Treatment Compliance; Treatment Success.   Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) masih menkadi tantangan kesehatan global yang serius, di mana Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban kasus TB tertinggi di dunia. Keberhasilan pengobatan sangat krusial untuk mencegah resistensi obat, memutus rantai penularan, dan menurunkan angka kematian. Tujuan: Untuk menganalisis faktor risiko keberhasilan pengobatan tuberkulosis paru. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain case control. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien TB paru yang terdaftar di Puskesmas Tuminting tahun 2024. Sampel terdiri dari 44 partisipan yang dibagi menjadi kelompok kasus (11 partisipan yang putus obat) dan kelompok kontrol (33 partisipan yang sembuh) dengan rasio 1.3. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner. Hasil: Ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat dengan keberhasilan pengobatan. Pasien yang patuh mengikuti jadwal dan dosis obat memiliki peluang jauh lebih besar untuk dinyatakan sembuh. Selain itu, PMO tidak memiliki hubungan dengan keberhasilan pengobatan. Simpulan: Kepatuhan minum obat dan dukungan aktif dari pengawas menelan obat merupakan faktor risiko utama yang menentukan keberhasilan pengobatan TB paru. Upaya peningkatan edukasi dan pengawasan langsung sangat diperlukan untuk mencapai target.   Kata Kunci: Keberhasilan Pengobatan; Kepatuhan Minum Obat; Pengawas Menelan Obat; Tuberkulosis Paru.