Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Penguatan Kesiapan Sekolah dalam Menghadapi Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di SMAN 8 Semarang Fajar Fajar; Nina Witasari; Hartati Sulistyo Rini; Latif Hendro Wibowo; Rokhis Saidah; Muhammad Asyam; Gaby Lasmaria Rajagukguk; Elluh Khosa Warningsih
Jurnal Puruhita Vol 4 No 1 (2022): February 2022
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/puruhita.v4i1.61403

Abstract

Tahun ajaran 2022/2023 ini seluruh SMA negeri di Kota Semarang mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar dalam proses pembelajarannya. Sebagai salah satu sekolah negeri yang mendukung kebijakan tersebut, SMAN 8 Semarang pun bersiap menghadapinya. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh sekolah sebagai upaya terstruktur tingkat satuan pendidikan, walaupun posisinya bukanlah sebagai sekolah pilot. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan di sekolah mitra ini adalah untuk memberikan penguatan pada kesiapan sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar dalam hal persepsi filosofis maupun dalam konteks pembelajarannya, mengingat beberapa upaya penyiapan telah dilakukan. Metode pengabdian masyarakat yang dilakukan dalam kegiatan ini meiputi tiga hal yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil yang dicapai adalah menyangkut ruang lingkup sekolah dan kesiapan terhadap implementasi kurikulum merdeka, penguatan dan penyamaan persepsi mengenai kurikulum merdeka, dinamika dalam kesiapan implementasi kurikulum merdeka, dan penguatan hasil IHT (in-house training) dalam penyusunan perangkat pembelajaran. Saran yang dapat disampaikan adalah perlunya pendampingan dari kampus secara kontinu dan berkesinambungan pada implementasi kurikulum merdeka di sekolah ini di masa datang terutama pada pelaksanakan pembelajaran dan penguatan kapasitas sekolah dan guru.
Perubahan Ekologi di Wilayah Gunungpati Tahun 2000-2015 (Pasca Berdirinya UNNES): Perubahan Ekologi Di Wilayah Gunungpati Tahun 2000 Sampai 2015 (Pasca Berdiriinya UNNES) Dafa Shobri Widodo; Nina Witasari
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol. 7 No. 2 (2024): Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/kaganga.v7i2.12363

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keberadaan kampus Universitas Negeri Semarang terhadap penggunaan lahan atau konversi lahan terhadap kondisi ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan, baik dari segi dampak positif maupun negatifnya. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah penggunaan metode sejarah. Hasil penelitian menunjukkan perubahan ekologi pada wilayah Kelurahan Sekaran sebagai kawasan pinggiran menjadi wilayah modern di Kota Semarang dipengaruhi oleh keberadaan Universitas Negeri Semarang (UNNES). Perkembangan Kelurahan Sekaran mengakibatkan: a) Pergeseran mata pencaharian masyarakat, b) Alih fungsi lahan pertanian menjadi hunian mahasiswa serta bangunan penyedia barang dan jasa, c) Peningkatan akses komunikasi antara warga lokal dan pendatang, dan d) Terjadinya banjir berulang pada puncak musim hujan (November–Januari), meskipun wilayah ini berada di area tinggi Kota Semarang. Kata Kunci: Kampus UNNES, Kemajuan Pembangunan, Perubahan Ekologis.
Identifikasi Potensi Desa Karangsari Melalui Eksplorasi Sejarah dan Penilaian Kesesuaian Lahan Terhadap Komoditas Tanaman Empon-empon Vina Nurul Husna; Nina Witasari; Vitradesie Noekent
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Vol. 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Dharma Samakta Edukhatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61142/psnpm.v1.26

Abstract

Kabupaten Karanganyar berperan sebagai pusat peradaban Hindu-Buddha pada akhir pemerintahan Majapahit. Temuan cagar budaya, ritus, teknologi tradisional, dan adat istiadat di Desa Karangsari menjadi bukti eksistensi peradaban tersebut. Secara ekologi, Desa Karangsari terletak di kaki Gunung Lawu yang menyebabkan tanah yang subur dan bentang alam yang indah untuk pariwisata. Di tengah potensi alam yang subur dan peninggalan sejarah yang masih dijaga oleh masyarakat, terdapat kendala ekonomi dan sosial yang dihadapi, termasuk tingkat kemiskinan yang signifikan. Artikel ini mengeksplorasi upaya pengembangan wilayah perdesaan sebagai solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Melalui pengelolaan sumber daya alam dan manusia yang ada, Desa Karangsari memiliki peluang untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode campuran melalui pendekatan kualitatif berupa observasi terhadap objek diduga cagar budaya dan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis kesesuaian lahan. Penilaian terhadap kesesuaian lahan didapatkan hasil bahwa lahan di Desa Karangsari cukup potensial untuk pengembangan tanaman empon-empon seperti lada, jahe, kapulaga dan wijen. Namun, perlu dilakukan teknik pengolahan lahan yang tepat agar komoditas bisa optimal dan kualitas lahan tidak turun.
Reduksi Kecemasan dan Penguatan Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris Melalui RELAX (Reducing Anxiety, Enjoying Language Learning through AI Experience) Muzakki Bashori; Yan Amal Abdilah; Nina Witasari; Vina Nurul Husna; Naia Sophianti; Aji Samsudin; Rizki Aldi Cahyono; Ainun Jariyati
Publikasi Pendidikan Vol 16, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70713/publikan.v16i1.81160

Abstract

Program RELAX (Reducing Anxiety, Enjoying Language Learning through AI Experience) dirancang untuk mengatasi hambatan afektif dalam kemampuan berbicara bahasa Inggris melalui pemanfaatan teknologi Automatic Speech Recognition (ASR). Program ini diterapkan di SMA Islam Al Azhar 15 Semarang dengan melibatkan 18 siswa kelas XI. Tujuannya adalah menurunkan tingkat kecemasan berbicara (Foreign Language Speaking Anxiety/FLSA), meningkatkan kesenangan berbicara (Foreign Language Speaking Enjoyment/FLSE), serta mengembangkan keterampilan berbicara melalui aplikasi Speechace dan Sesame. Data diperoleh melalui kuesioner FLSA, FLSE, dan persepsi pengguna, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan campuran. Hasil menunjukkan bahwa kecemasan berbicara siswa berada pada kategori sedang (M=2.96), sedangkan kesenangan berbicara tergolong tinggi (M=3.67). Persepsi siswa terhadap penggunaan Speechace dan Sesame juga sangat positif (M=4.19). Latihan berbasis AI dinilai membantu mengurangi rasa gugup, memperbaiki pelafalan, dan meningkatkan kepercayaan diri. Integrasi ASR terbukti menciptakan lingkungan latihan yang aman, interaktif, dan bebas tekanan sosial, sehingga mendukung reduksi kecemasan serta menumbuhkan motivasi intrinsik untuk berkomunikasi. Program RELAX memiliki potensi sebagai model pembelajaran inovatif berbasis positive psychology dan teknologi AI. Selain selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas, program ini turut memperkuat keterampilan abad ke-21 dalam konteks pendidikan menengah.
Environmental Degradation of the Loji River in Pekalongan City and the Emergence of a Community Movement 1980–2014 Ani Aprilianti; Nina Witasari
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 10, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/juspi.v10i1.28806

Abstract

This study aims to examine the factors of environmental changes that occurred in the Loji River as well as community memories regarding the river in the 1980s until the emergence of a community movement. This research employs the historical method which consists of four stages: heuristics, criticism, interpretation, and historiography. In addition, this study also uses the oral history method to explore community memories regarding the condition of the river in the 1980s. Changes in the condition of the Loji River began to appear in the 1990s. These changes were marked by the use of the river as a disposal site for textile and household waste, the decrease in water discharge due to the construction of diversion channels, and the narrowing of the river caused by development along in the riverbanks. Community memories indicate that in the 1980s the Loji River was still in relatively good condition and was used for various daily activities, such as bathing, washing, swimming, and fishing. However, the condition of the river gradually declined until in 2014 a community movement emerged through the establishment of the Komunitas Peduli Kali Loji (KPKL). This community was founded as a from of public concern for the condition of the Loji River in Pekalongan City by carrying out various activities, one of which is river clean-up actions as an effort to encourage the community to maintain the cleanliness and sustainability of the river.
Arsip Digital dan Memori Kolektif Sebagai Ruang Publik dalam Pelestarian Sejarah Tionghoa di Indonesia Alexander Raymon; Nina Witasari
PUBLICNESS: Journal of Public Administration Studies Vol. 5 No. 1 (2026): PUBLICNESS: Journal of Public Administration Studies
Publisher : Policy, Law and Political Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/publicness.v5i1.356

Abstract

This study examines digital archives and collective memory in preserving the history of the Chinese community in Indonesia. From the colonial period through the New Order era, Chinese history experienced marginalization due to discriminatory policies and limited access to official state archives, hence being excluded from national historiography. In the Post-Reformation period, digital technology has opened new opportunities for the state, public institutions, and civil society to reconstruct, manage, and disseminate historical archives in a more inclusive manner. This research uses a descriptive qualitative approach with thematic analysis of digital archives, museums, community initiatives, manuscript digitization projects, and online platforms that play a role in preserving collective memory. The findings indicate that digital archives function as a public sphere that enables community participation, intergenerational dialogue, and reconciliation. The implications of this study highlight the importance of open digital archiving policies within public administration to ensure pluralistic historiography and public participation. This research recommends strengthening collaboration between government institutions, academic centers, and community-based organizations to sustain collective memory in the digital era.