Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

RELASI GENDER PADA RUMAH TANGGA TANI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMASARAN HORTIKULTURA (Studi kasus di Kelurahan Tani Aman Kecamatan Loa Janan Ilir) Firda Juita; M. Syaifuddin Zuhri; Nike Widuri
Jurnal Pengembangan Penyuluhan Pertanian Vol 20, No 1 (2023): Juli
Publisher : UPPM Politekik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36626/jppp.v20i1.921

Abstract

Relasi gender suatu hubungan kekuasaan antara perempuan dan laki – laki terlihat pada lingkup gagasan, praktik, dan representasi yang meliputi pembagian kerja, peranan, serta alokasi sumberdaya antara laki-laki dan perempuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui siapa saja relasi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi relasi gender pada rumah tangga tani dalam pengambilan keputusan pemasaran hortikultura. Kegiatan penelitian ini dilakukan di Kelurahan Tani Aman Kecamatan Loa Janan Ilir Kota Samarinda. Pada bulan Juni sampai Agustus 2018. Penentuan sampel responden dilakukan dengan metode purposive sampling dengan jumlah 40 responden. Data diperoleh dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode Deskriptif Kualitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi gender dalam rumah tangga tani terkait pengambilan keputusan pemasaran hortikultura di Kelurahan Tani Aman Kecamatan Loajanan ilir Kota Samarinda adalah perempuan (istri) dan anak (laki-laki atau perempuan). Tidak pada semua kegiatan melibatkan anak tetapi lebih didominasi istri khususnya pada kegiatan penentuan harga, penentuan tempat pemasaran dan penentuan saluran distribusi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan relasi gender dalam rumah tangga tani terkait pengambilan keputusan pemasaran hortikultura di Kelurahan Tani Aman Kecamatan Loajanan Ilir Kota Samarinda adalah umur dengan persentase 87,50%. Persentase umur perempuan (istri) dengan umur produktif lebih besar dari persentase umur lakilaki (suami), sehingga faktor umur menentukan relasi gender seorang suami dalam kegiatan pengambilan keputusan pemasaran hortikultura karena suami lebih banyak fokus melakukan kegiatan budidaya di lahan daripada proses pemasaran.
Preferensi Konsumen dan Faktor Yang Menentukan Pengambilan Keputusan Pembelian Buah Nanas Madu (ananas comosus l.merr) (Studi Kasus Kios Buah Sarlini Sahril di Kelurahan Bukit Merdeka Kecamatan Samboja Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur) Firda Juita; Hema Tasya Oktapiana; Siti Balkis
Baselang Vol 4, No 1: APRIL 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/bsl.v4i1.126

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik konsumen buah nanas madu, menganalisis atribut preferensi konsumen terhadap buah nanas madu dan mengidentifikasi faktor-faktor yang Menentukan pengambilan keputusan pembelian buah nanas madu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2023 di Kios buah nanas Madu yang terletak di Kelurahan Bukit Merdeka.Pengambilan sample pada penelitian ini dilakukan secara (accidental sampling). Jumlah responden sebanyak 32 orang. Metode analisis data menggunakan metode kualitatif. Analisis tahapan proses pengambilan keputusan pembelian konsumen dalam melakukan pembelian buah nanas madu.Karakteristik konsumen buah nanas madu adalah jenis kelamin laki-laki 68,75%, rentang umur 25-45 tahun sebesar 40,62%, tingkat pendidikan SMA sebesar 46,88%, jumlah pendapatan Rp3.000.000 sebesar 56,25% dan jenis pekerjaan adalah wirausaha sebesar 31,25%. Atribut preferensi diataranya warna daging buah kuning terang dengan 87,50% warna kulit buah hijau kekuningan sebesar 59,38% ukuran buah yang paling diminati adalah buah yang berukuran sedang (10-13cm) dengan persentase sebesar 68,76%. Jenis packing buah yaitu kulit tidak dikupas sebesar 84,38% aroma yang dimiliki buah adalah aroma harum manis 62,50%. Pengambilan keputusan pembelian adalah karena rasa manis 40,63% motivasi membeli nanas madu untuk dijadikan sebagai oleh-oleh 34,38%. mencari informasi sendiri dalam persentase sebesar 53,12%. Pada tahap evaluasi alternatif 81,25% konsumen membeli buah nanas madu karena kualitas, 71,88% konsumen membeli buah nanas madu karena kebiasaan yang telah dilakuikan. Sebanyak 78,12% Pembelian terencana ada sebesar 84,38 % keadaan buah segar atau baru Evaluasi pasca pembelian konsumen 100% puas dan jika harga naik sebesar 71,88% konsumen tetap membeli, dan jika buah tidak tersedia di kios 84,38% pembeli akan mencari buah nanas madu di tempat lain.Hasil dari penelitian ini digunakan oleh penjual untuk memperbaiki strategi pemasaran dan meningkatkan pemahaman terkait tentang preferensi konsumen serta faktor yang dapat Menentukan pengambilan keputusan pembelian.
Strategi Pengembangan Agrowisata Di Desa Manunggal Jaya Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara Berta Nauli Purba; Mursidah Mursidah; Firda Juita
Baselang Vol 6, No 1: APRIL 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/bsl.v6i1.302

Abstract

Agrowisata menghubungkan sektor pertanian dengan pariwisata untuk meningkatkan nilai ekonomi, memperluas kesempatan kerja, dan mendorong pelestarian lingkungan. Kebun Belimbing Pak Sugiman merupakan contoh agrowisata berbasis masyarakat yang berkembang secara mandiri di Desa Manunggal Jaya. Meskipun memiliki potensi besar, lokasi ini menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal, seperti promosi yang terbatas, keterbatasan manajemen, serta persaingan dengan destinasi lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal serta merumuskan strategi pengembangan yang tepat serta berkelanjutan untuk Kebun Belimbing Pak Sugiman. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan matriks IFE dan EFE yang dilanjutkan dengan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan total IFE = 2,60 dan EFE = 2,87 dengan koordinat SWOT (1,63; 2,03) yang berada pada Kuadran I (strategi agresif). Oleh karena itu, strategi pengembangan difokuskan pada pemanfaatan kekuatan dan peluang untuk mencapai pertumbuhan. Rekomendasi utama meliputi penguatan promosi digital melalui media sosial berbasis keunggulan konsep wisata edukasi dan harga yang terjangkau, pengembangan paket wisata edukatif terpadu, peningkatan kualitas layanan melalui pelatihan dan perbaikan sarana, serta perluasan kerja sama dengan UMKM, lembaga pendidikan, dan instansi pemerintah guna mewujudkan agrowisata yang berkelanjutan dan inklusif. Membangun kemitraan dengan lembaga pendidikan formal dan non-formal, guna memperkuat posisi agrowisata sebagai destinasi edukatif yng mendukung program pembelajaran luar kelas (S3, O3).Memanfaatkan lokasi yang mudah dijangkau dan ketersediaan buah belimbing segar sebagai daya saing utama, didukung oleh program pemberdayaan dan promosi dari instansi terkait untuk memperluas segmentasi pasarKata kunci: agrowisata; belimbing; strategi pengembangan; IFE; EFE; SWOT