Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Analisis Pengetahuan Dan Keterampilan Mitigasi Bencana Pada Siswa Kelas XII SMAN 1 X Koto Saat Terjadinya Erupsi Gunung Marapi Sumatera Barat Amelia, Rizka; Febriandi, Febriandi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gunung api adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Material yang dierupsikan ke permukaan bumi umumnya membentuk kerucut terpancung. Gunung marapi yang berada dalam Taman Wisata Alam Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat merupakan destinasi faforit bagi wisatawan dan pendaki dari kawasan Sumatera bahkan dari luar pulau sumatera karena letaknya yang strategis berada di jalur lintas sumatera dan memiliki keindahan alam yang melimpah, selain itu kawasan di sekitar kaki gunung di manfaatkan warga untuk bercocok tanam karena kesuburan tanahnya seperti tanaman cabe, sawi, kol, bawang, wortel dan lain lain. Hal ini dilakukan pula oleah warga Desa Aia Angek yang berada di Kabupaten Tanah Datar. Keterlibatan siswa dalam kesiapsiagaan bencana di sekolahnya menjadi strategi efektif, dinamis dan berkesinambungan dalam upaya penyebarluasan upaya pendidikan kebencanaan sehingga sejak dini anak mampu mengenal tanda bencana alam yang terjadi sekitar tempat tinggalnya, Program pendidikan ini dirancang untuk menumbuhkan dan meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kepedulian komunitas sekolah mengenai kondisi alam sekitarnya dan keterampilan untuk mengurangi risiko apabila terjadi bencana (Susilo et al., 2017). Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif hasil penghitungan instrumen yang digunakan dengan menjelaskan frekuensi. Analisis data deskriptif dilakukan untuk menganalisis identifikasi pengetahuan dan ketrampilan mitigasi Bencana letusan gunung api terhadap siswa kelas XII SMA NEGERI 1 X Koto. Berdasarkan uraian diatas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa siswa kelas XII SMAN 1 X koto termasuk pada kategori siap yaitu memiliki rata-rata skor dai nilai keseluruhan responden sebesar 18. Persentase responden yang sangat siap yaiu sebesar 28%, persentase responden yang siap sebesar sebesar 52%, persentase responden yang kurang siap sebesar 8% dan responden yang tidak siap serta sangat tidak siap sebesar 4%. Pengetahuan dan sikap siswa kelas XII SMAN 1 X koto termasuk kategori siap karena masyarakat akan mengetahui akan bahaya serta dampak dari bencana letusan Gunung Marapi.
Pengaruh Penerapan Reward dan Punishment terhadap Minat Belajar Geografi Peserta Didik MAN 1 Kota Payakumbuh Rahayu, Nesa; Febriandi, Febriandi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i3.20852

Abstract

Banyak metode yang digunakan dalam pendidikan geografi untuk meningkatkan minat belajar siswa, salah satunya yaitu guru dapat menerapkan metode Reward dan Punishment. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana pengaruh penggunaan Reward and Punishment terhadap minat belajar geografi siswa MAN 1 Kota Payakumbuh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling sehingga menghasilkan dua kelompok sampel yang masing-masing terdiri dari 29 siswa, yaitu kelas X Fase E6 sebagai kelompok eksperimen dan kelas X Fase E7 sebagai kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui lembar angket pretest dan posttest untuk mengetahui minat belajar siswa. Kemudian data dianalisis menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor minat belajar dari hasil uji hipotesis (uji t) diperoleh nilai signifikan 0,000 < 0,05. Artinya, bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini mebuktikan bahwa adanya pengaruh signifikan penerapan Reward dan Punishment terhadap minat belajar geografi peserta didik kelas X Fase E MAN 1 Kota Payakumbuh.
Strategi Mitigasi Bencana Tsunami pada Kecamatan Padang Barat, Kota Padang Ramadhani, Sari; Febriandi, Febriandi
Al-DYAS Vol 5 No 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/aldyas.v5i1.7848

Abstract

Padang Barat District is a highly vulnerable area to tsunami hazards, yet it currently lacks a comprehensive spatial analysis–based mitigation strategy. This study aims to (1) map the areas most susceptible to tsunami risk to support mitigation planning in Padang Barat District, Padang City, and (2) analyze effective and applicable tsunami disaster mitigation strategies to minimize potential casualties and damages. A descriptive quantitative approach was employed, utilizing the Weighted Overlay method within a Geographic Information System (GIS) framework for vulnerability mapping, and the Interpretative Structural Modelling (ISM) method for formulating mitigation strategies. The mapping results indicate three levels of tsunami vulnerability: high (38.03%), medium (55.52%), and low (6.44%). ISM analysis identifies the determination of safe evacuation routes as the primary driving factor in effective mitigation. Key contributing factors to high vulnerability include the proximity to coastlines and rivers, low elevation, and relatively flat topography. The study concludes that the development of mitigation strategies must be grounded in spatial vulnerability analysis to enhance community preparedness and reduce potential tsunami impacts. This research provides practical contributions to area-based disaster planning and supports the formulation of mitigation policies in coastal regions.
Spatial assessment of erosion and landslide hazards as indicators of land degradation in Solok Regency, West Sumatra Dasrizal, Dasrizal; Juita, Erna; Wilis, Ratna; Febriandi, Febriandi; Febriani, Trina
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2026.131.9443

Abstract

This study conducted an integrated spatial assessment to identify and map erosion and landslide threats, determining high-risk degraded areas in Solok Regency. The methods combined the Universal Soil Loss Equation (USLE) and the Analytic Hierarchy Process (AHP) within a Geographic Information System (GIS) framework. The analysis revealed a critical disconnect between erosion and landslide risks. Although 52.1% of the total area (?101,500 ha) was classified as safe from erosion (EHI<1), a substantial portion of this “safe” land-39.4% and 6.94% of the total area, respectively, exhibited moderate to high landslide susceptibility. Conversely, within the 37.1% of the area unsafe from erosion (EHI>1), moderate and high landslide susceptibility covered 24.3% and 7.4% of the total area, respectively. These results demonstrated that landslide triggers are independent of surface erosion processes in many areas, often occurring in locations considered "safe" from erosion due to innate geological and geomorphological factors. This complex interplay necessitates distinct yet coordinated mitigation strategies. The findings provide crucial spatial data for safe land use planning and disaster mitigation in Solok Regency, with a methodology applicable to other vulnerable landscapes, such as post-mining areas.
Kesesuaian Lahan Tanaman Kelapa Sawit di Kecamatan Ranah Batahan Menggunakan Fuzzy Logic Safitri, Wilda; Febriandi, Febriandi
Al-DYAS Vol 5 No 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/aldyas.v5i1.8656

Abstract

Oil palm is one of Indonesia’s key plantation commodities, producing edible oil, industrial oil, and biofuel (biodiesel) and contributing positively to economic and social development. This study aimed to: (1) analyze land suitability for oil palm in Ranah Batahan Subdistrict using fuzzy logic; and (2) determine oil palm productivity levels in Ranah Batahan Subdistrict. Land suitability analysis was conducted using a fuzzy logic approach to the area’s biophysical conditions, while oil palm productivity data were obtained from the Central Bureau of Statistics (BPS) of Ranah Batahan Subdistrict. The results show that, based on land suitability analysis using fuzzy logic, land for oil palm cultivation in Ranah Batahan Subdistrict is classified into two categories: moderately suitable and highly suitable. The area categorized as moderately suitable covers 12,420.53 hectares (43.17%), whereas the highly suitable area extends over 17,174.79 hectares (56.83%) of the total area of Ranah Batahan Subdistrict. Oil palm production data indicate that Nagari Batahan Selatan is the nagari with the highest oil palm production, reaching 50 tons, while the lowest production is found in Nagari Desa Baru, at 10 tons. These findings confirm that most of Ranah Batahan Subdistrict has a high level of land suitability for oil palm development, while also revealing inter-nagari variation in productivity that is important to consider in planning and managing local oil palm development.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM OPTIMALISASI BUDIDAYA LEBAH MADU BERBASIS AGROFORESTRI Triyatno, Triyatno; Febriandi, Febriandi; Rahmi, Lailatur; Falah, Nur; Fauzan, Muhammad Reza; Prayoga, Rendi; Mardiansyah, Ramos
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.19710

Abstract

Abstrak: Desa Muara Sikabaluan Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan desa yang secara geografis terbentuk berupa Kawasan pesisir Pantai dan juga perbukitan dengan hutan yang cukup luas. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat dalam budidaya lebah madu, sehingga dapat meningkatkan softskill dan hardskill masyarakat dalam budidaya lebah madu hutan. Metode yang digunakan yaitu dengan memberikan pre-test dan post test tentang budidaya lebah madu berbasis agroforestry, dengan mitra 25 orang anggkota karang taruna. Kegiatan ini dilakukan dibalai taman nasional siberut kabupaten kepulauan mentawai. Kegiatan pengabdian ini, berfokus pada pelatihan pembudidayaan lebah madu, cara pembuatan stup, pemindahan koloni, pemanenan madu dan proses pemasaran madu. Hasil pre-test dan post-test yang dilakukan menunjukkan hasil masyarakat hasil pre test dan post-test yang dilakukan menunjukkan hasil masyarakat yang mengalamai peningkatan pemahaman dalam konsep dasar agroforestry meningkat dari 16 % menajdi 60%.Kemudiam terjadi peningkatan pemahaman tentang biogeografi lebah madu dari 24% menjadi 68%, terjadi peningkatan keterampilan budidaya lebah madu meningkat 16% menajdi 84% serta peningkatan sikap dan keterampilan memanen madu hutan lestari dari 12% menjadi 75. Abstract: Muara Sikabaluan Village, Mentawai Islands Regency, is a village that is geographically formed in the form of a coastal area and also hills with quite extensive forests. The aim of this service activity is to increase the community's understanding and knowledge in cultivating honey bees, so that it can improve the soft skills and hard skills of the community in cultivating forest honey bees. The method used was by providing a pre-test and post-test regarding agroforestry-based honey bee cultivation, with 25 youth organization members as partners. This activity was carried out at the Cyberut National Park, Mentawai Islands Regency. This service activity focuses on training in cultivating honey bees, how to make stup, moving colonies, harvesting honey and the honey marketing process. The results of the pre-test and post-test carried out showed that the results of the community. The results of the pre-test and post-test carried out showed that the community experienced an increase in understanding of the basic concepts of agroforestry, increasing from 16% to 60%. Then there was an increase in understanding of the biogeography of honey bees from 24% to 68%, there was an increase in honey bee cultivation skills, increasing by 16% to 84% and an increase in attitudes and skills in harvesting sustainable forest honey from 12% to 75.
EDUKASI MITIGASI BENCANA BANJIR UNTUK MEMBANGUN SEKOLAH TANGGUH BENCANA DI NAGARI PELANGAI Febriandi, Febriandi; Anwar, Syafri; Afdhal, Afdhal; Ernawati, Ernawati; Rahmi, Lailatur; Mariya, Sri; Aulia, Beni; Pertiwi, Mentari Dian; Vratiwi, Septiana; Ahyuni, Ahyuni; Novio, Rery; Susetyo, Bigharta Bekti; Yudita, Annisa
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 4 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i4.33540

Abstract

Abstrak: Bencana banjir merupakan salah satu ancaman utama yang dihadapi oleh masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di nagari Pelangai. Sekolah-sekolah di wilayah ini menjadi salah satu institusi yang paling terdampak akibat bencana banjir, yang mengakibatkan terganggunya proses belajar mengajar, kerusakan sarana dan prasarana pendidikan, serta meningkatnya risiko bagi keselamatan siswa dan tenaga pendidik pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan edukasi mitigasi bencana banjir untuk membangun sekolah tangguh bencana di nagari pelangai bertujuan untuk menerapkan model edukasi mitigasi bencana banjir yang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan sekolah di nagari Pelangai. Dengan adanya program ini, sekolah diharapkan dapat menjadi lebih tangguh dalam menghadapi bencana banjir, sehingga proses pendidikan dapat tetap berjalan dengan baik meskipun dalam kondisi darurat. Mitra dalam program ini terbagi menjadi dua, pertama warga sekolah MTsN 12 Pesisir Selatan sebanyak 35 orang, dan masyarakat nagari Pelangai sebanyak 48 orang. Hasil dari pengabdian ini menunjukkan meningkatnya pengetahuan siswa tentang mitigasi bencana banjir, peningkatan kesiapan sekolah dalam menghadapi bencana melalui penyusunan rencana kontinjensi dan pelaksanaan simulasi bencana, serta kemampuan siswa dan warga sekolah dalam memberikan respon cepat terhadap peringatan dini yang disimulasikan. Peningkatan pengetahuan siswa dan masyarakat di evalusi menggunakan angket wawancara dan observasi. Hal ini akan menjadikan sekolah tersebut menjadi sekolah tangguh bencana. Selain itu, peningkatan pemahaman tentang mitigasi bencana banjir sebanyak 80%, keterlibatan mitra dalam program sebanyak 86%, kemapuan praktik simulasi evakuasi sebanyak 71% dan kepuasan mitra terhadap program sebanyak 83%. terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap kode-kode peringatan dini bencana dan simulasi bencana sebanyak 89%.Abstract: Flood disasters are one of the main threats faced by communities in various regions of Indonesia, including the nagari of Pelangai. Schools in this region are among the institutions most affected by flood disasters, which disrupt the teaching and learning process, damage educational facilities, and increase risks for the safety of students and educators. Community service aimed at providing education on flood disaster mitigation to build disaster-resilient schools in the nagari of Pelangai aims to implement a flood disaster mitigation education model that aligns with the characteristics of the area and the needs of schools in the nagari of Pelangai. With this program, schools are expected to become more resilient in facing disasters floods, so that the educational process can continue to run well even in emergency conditions. The partners in this program are divided into two, first the school community of MTsN 12 Pesisir Selatan consisting of 35 people, and the community of Nagari Pelangai consisting of 48 people. The results of this service show an increase in students' knowledge about flood disaster mitigation, an increase in the school's preparedness for facing disasters through the development of contingency plans and the implementation of disaster simulations, as well as the ability of students and school staff to respond quickly to simulated early warnings. The increase in knowledge of students and the community is evaluated using interview questionnaires and observations. This will make the school a disaster resilient school. In addition, there is an increase in understanding of flood disaster mitigation by 80%, involvement of partners in the program by 86%, ability to practice evacuation simulations by 71%, and partner satisfaction with the program by 83%. There has been an increase in public knowledge regarding disaster early warning codes and disaster simulations by 89%.