Karmila Damariani Radjak
Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Kekerasan Seksual: Tinjauan dari Pemenuhan Restitusi di Kabupaten Gorontalo Utara Karmila Damariani Radjak; Andi Inar Sahabat
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 6: Oktober 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i6.5327

Abstract

Anak adalah subjek hukum yang harus dilindungi hak-haknya, salah satu hak anak yang menjadi korban tindak pidana adalah mendapatkan restitusi. Restitusi adalah pembayaran ganti kerugian yang dibebankan kepada pelaku berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atas kerugian materil dan immaterial yang diderita oleh korban. Restitusi menjadi hal yang penting bagi pihak korban namun dalam pelaksanaannya masih terdapat kendala. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi perlindungan hukum terhadap anak korban tindak pidana kekerasan seksual di tinjau dari aspek pemenuhan restitusi serta menganalisis faktor penghambat dalam perlindungan hukum terhadap anak korban tindak pidana kekerasan seksual di tinjau dari aspek pemenuhan restitusi di Kabupaten Gorontalo Utara. Jenis penelitian yakni hukum normatif empiris dengan menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan kasus, Adapun pengumpulan data primer diperoleh dengan wawancara dan data sekunder dari studi kepustakaan serta penulis menggunakan analisis data kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang menjadi korban tindak pidana kekerasan seksual memiliki hak restitusi yang merupakan upaya perlindungan hukum akibat tindak pidana yang menimpa dirinya, namun dalam Implementasinya di Kabupaten Gorontalo Utara belum efektif karena ada beberapa faktor yang membuat penerapannya belum optimal yakni belum ada keseragaman pemahaman penegak hukum, undang-undang dan peraturan pelaksana terkait hak restitusi terhadap anak korban kekerasan seksual belum memiliki daya paksa bagi pelaku, minimnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat, proses yang berbelit-belit serta tidak adanya Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban di Kabupaten Gorontalo Utara sehingga anak yang menjadi korban dari kekerasan seksual atau keluarga korban tidak mempunyai pendampingan dalam melakukan pengajuan restitusi.
PENEGAKAN HUKUM PEMUNGUTAN LIAR OLEH JURU PARKIR DI JALAN UMUM KOTA GORONTALO BERDASARKAN PERDA NO. 1 TAHUN 2024 TENTANG PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH Fitrawati Gobel; Karmila Damariani Radjak
The Factum Law Review Journal Volume 3 Issue 2, December 2025
Publisher : Program Studi Hukum - Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Fenomena pemungutan liar (pungli) oleh juru parkir di jalan umum Kota Gorontalo menjadi salah satu permasalahan hukum yang merugikan masyarakat sekaligus daerah. Praktik tersebut tidak hanya menimbulkan keresahan sosial, tetapi juga bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku, khususnya Peraturan Daerah Kota Gorontalo Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang secara tegas mengatur mekanisme pemungutan retribusi parkir. Ketidaktertiban ini mengakibatkan potensi kebocoran penerimaan daerah, lemahnya kepastian hukum, dan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum yuridis empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan sosiologis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan atas peraturan perundang-undangan yang relevan, serta wawancara dengan pihak Dinas Perhubungan Kota Gorontalo, aparat penegak hukum, dan masyarakat pengguna jasa parkir. Analisis data dilakukan secara kualitatif untuk menggambarkan penegakan hukum dalam praktik serta kendala yang dihadapi di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegakan hukum terhadap pungutan liar parkir di Kota Gorontalo masih belum optimal. Meskipun telah ada landasan hukum melalui Perda No. 1 Tahun 2024, dalam praktiknya masih banyak juru parkir yang tidak memiliki izin resmi namun tetap melakukan pungutan kepada masyarakat. Kendala utama yang dihadapi meliputi kurangnya pengawasan dari aparat terkait, minimnya kesadaran hukum juru parkir, serta lemahnya koordinasi antar instansi. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi penegakan hukum yang lebih tegas, peningkatan sosialisasi, serta penguatan sistem pengawasan terpadu untuk memastikan retribusi parkir sesuai ketentuan peraturan daerah dan memberi manfaat optimal bagi pendapatan asli daerah. .Kata kunci: Penegakan Hukum, Pemungutan Liar, Juru Parkir, Kota Gorontalo. ABSTRACT The phenomenon of illegal levies (pungli) by parking attendants on public roads in Gorontalo City has become a legal issue that harms both society and the local government. This practice not only creates social unrest but also contradicts the provisions of Regional Regulation of Gorontalo City Number 1 of 2024 concerning Local Taxes and Regional Levies, which clearly regulates the mechanism of parking retribution collection. Such irregularities cause potential revenue leakage, weaken legal certainty, and reduce public trust in the local government. This study employs an empirical juridical research method with a statutory approach and a sociological approach. Data were obtained through a literature review of relevant laws and regulations, as well as interviews with the Gorontalo City Transportation Office, law enforcement officials, and the community as users of parking services. The data were analyzed qualitatively to describe the enforcement of the law in practice and the obstacles faced in the field. The results of this study indicate that law enforcement against illegal parking levies in Gorontalo City has not been optimal. Although a legal basis already exists through Regional Regulation No. 1 of 2024, in practice many parking attendants without official permits still collect fees from the public. The main obstacles include weak supervision by relevant authorities, low legal awareness among parking attendants, and poor coordination between institutions. Therefore, stricter law enforcement strategies, increased legal socialization, and strengthened integrated supervision systems are needed to ensure that parking retribution is collected in accordance with regional regulations and contributes effectively to local revenue. Keywords: Law Enforcement, Illegal Levy, Parking Attendant, Gorontalo City.
Pertanggungjawaban Pidana Oknum Polri atas Penyalahgunaan Narkotika Menurut UU No. 35 Tahun 2009 Karmila Damariani Radjak; Gito Alan Ali; Nur Wulan
Law & Social Justice Journal Vol. 3 No. III (2025): Desember
Publisher : Lembaga Bantuan Hukum & Studi Publik Perlindungan Perempuan dan Anak (LBHSP3A) Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61121/hvqpgs49

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penegakan hukum pidana terhadap anggota Polri yang melakukan tindak pidana penyalahgunaan narkotika serta menganalisis bentuk pertanggungjawaban pidananya berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan menggunakan beberapa pendekatan, yaitu pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penegakan hukum terhadap anggota Polri yang terlibat tindak pidana narkotika pada dasarnya sama dengan masyarakat umum, yakni diselesaikan melalui mekanisme peradilan umum. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang menegaskan bahwa anggota Polri tunduk pada peradilan umum. Selain itu, terhadap anggota Polri yang terbukti melakukan tindak pidana narkotika juga diberlakukan penegakan hukum internal melalui sidang kode etik profesi kepolisian sebagai bentuk akuntabilitas institusional. Bentuk pertanggungjawaban pidana bagi oknum anggota Polri yang melakukan penyalahgunaan narkotika ditentukan berdasarkan jenis perbuatan dan tingkat keterlibatan mereka dalam tindak pidana tersebut, sesuai dengan ketentuan pidana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009. Dengan demikian, penegakan hukum terhadap anggota Polri yang menyalahgunakan narkotika harus dilaksanakan secara tegas dan konsisten, tanpa adanya perbedaan perlakuan di depan hukum, sebagai wujud prinsip equality before the law serta untuk menjaga marwah dan integritas institusi kepolisian.