Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PEMANFAATAN SUMBER DAYA AIR UNTUK KEBUTUHAN IRIGASI, ENERGI LISTRIK DAN SOSIALISASI K3 DI LAU SIMEME KECAMATAN SIBIRU-BIRU KABUPATEN DELISERDANG Rahelina Ginting; Adventus Gultom; Masriani Endayanti; Robinson Sijabat; Yusuf Aulia Lubis; Mahadianto Ong
PKM Maju UDA Vol 4 No 2 (2023): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) Universitas Darma Agung (UDA) Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/pkmmajuuda.v4i2.3628

Abstract

Pemanfaatan sumber daya air sebagai salah satu usaha dalam mengelola sumber daya air, dilaksanakan lewat aktifitas penatagunaan, ketersediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. Potensi sumber daya air yang dimiliki Indonesia sangat besar, namun dalam hal pengelolaan agar dapat dimanfaatkan masih tergolong rendah, berkisar 20% dari sumber yang ada. Pemanfaatan sumber daya air bermaksud bagaimana mengelola air dan dapat dikelola secara berlanjut dengan memperhatikan kebutuhan pokok masyarakat secara seimbang dengan mempertimbangkan: a. Mengedepankan pemanfaatan air permukaan, yang terletak diluar Kawasan pelestarian alam. b. Menerapkan fungsi sosial sebagai jasa mengelola sumber daya air. c. Diadakan dengan mempertimbangkan kepentingan semua serta adanya kerjasama antar kelompok dan wilayah. d. Partisipasi masyarakat. Pengaruh negatif yang tampak ketika pemanfaatan air terlalu sedikit pada musim kemarau dan hujan akan mengakibatkan longsor, banjir. Tujuan dari penulisan ini adalah menyampaikan hasil kajian optimalisasi pemanfaatan sumber daya air: 1. untuk kebutuhan irigasi untuk meningkatkan produksi pertanian pada lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan dan lahan kering. 2. Untuk energi listrik, Fungsi air dalam pembangkit listrik tenaga air adalah menggerakkan pada PLTA. Sederhananya, pada PLTA terjadi perubahan energi gerak menjadi listrik. Supaya listrik bisa dihasilkan, butuh air untuk menggerakkan turbin. K3 adalah singkatan dari Kesehatan dan Keselamatan kerja, adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah guna mengurangi resiko kerja terlebih kecelakaan kerja. Adapun pengusaha dan pemerintah telah melakukan kesepakatan bahwa K3 haruslah membudaya di lingkungan kerja dan wajib diterapkan dalam perusahaan atau kantor. Pelaksanaan K3 merupakan tanggung jawab Bersama semua yang terkait harus memberi perhatian agar terlaksana fungsi K3 tersebut dan menjadi budaya kerja guna mengurangi resiko kecelakaan kerja.
ANALISA DAYA DUKUNG PONDASI DANSTABILITAS TOWER (SEKSI-A) T/L 275 KV GALANG-SIMANGKUK 151 KMR, 2 CCT, TWIN ZEBRA, PROVINSI SUMATERA UTARA Eka Permata Sari Simarmata; Mudo Parulian Pardede; Masriani Endayanti; Nelson Hutahaean
JURNAL ILMIAH TEKNIK SIPIL Vol 9 No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Darma Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/tekniksipil.v9i1.1627

Abstract

Pemasangan tower Galang-Simangkuk bertujuan untuk meningkatan kualitas pelayanan terhadap pelangganPT.PLN. Tower Galang-Simangkuk berada pada kontur geografis daerah perbukitan, pegunungan, lembah dan jarak yang sangat berjauhan antar subsistem di wilayah Sumatra, maka sistem interkoneksi Sumatra perlu dikembangkan pada tegangan sistem ekstra tinggi atau disebut dengan sistem transmisi 275 KV Sumatra. Terdapat kendala dilapangan yaitu tanah yang berawa, berair, lembah, bukit dan pegunungan. Sehingga dilakukan Perubahan desain dari pondasi dangkal ke pondasi bored pile dibeberapa titik lokasi pekerjaan. Karena terbatasnya cara pengujian dilapangan maka penyelidikan tanah yang digunakan uji sondir/DCPT. Penyelidikan tanah bertujuan mengetahui perlawanan penetrasi konus dan hambatan lekat tanah yang merupakan indikasi dari kekuatan dukung lapisan tanah dengan menggunakan rumus empiris. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui daya dukung pondasi bored pile dan stabilitas tower. Dari hasil perhitungan dan pembahasan didapat sebagai berikut: 1). Hasil perhitungan efisiensi kelompok tiang diperoleh sebesar 0,714 yang berarti bahwa kemampuan daya dukung tanah pondasi sebesar 71,4% dari perhitungan Qg, 2). Hasil perhitungan daya dukung tiang group berdasarkan efisiensi pada tower diperoleh sebesar Qg = 484,456 ton, 3). Beban yang dipikul pondasi sebesar 110,13 ton(Diperoleh dari pabrikan), 4). Sehingga beban yang dipikul pondasi bore pile sebesar 484,456 ton dimana nilai lebih besar dari gaya yang bekerja yaitu 110,13 ton. 484,456 ton > 110,13 ton.Maka daya dukung pondasi sanggup menahan beban diatasnya dan aman.
ANALISIS PERKUATAN LERENG DENGAN MENGGUNAKAN DINDING PENAHAN TANAH DI SKYLAND JAYAPURA SELATAN Masriani Endayanti; Krisman Marpaung
JURNAL ILMIAH TEKNIK SIPIL Vol 9 No 2 (2020): AGUSTUS
Publisher : Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Darma Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/tekniksipil.v9i2.241

Abstract

Kelongsoran tanah merupakan salah satu yang paling sering terjadi pada lereng, akibatmeningkatnya tegangan geser suatu massa tanah atau menurunnya kekuatan geser suatumassa tanah. Dengan kata lain, kekuatan geser dari suatu massa tanah tidak mampumemikul beban kerja yang terjadi. Gangguan terhadap stabilitas lereng dapatdisebabkan oleh berbagai kegiatan manusia maupun kondisi alam. Lereng yang tidakstabil sangatlah berbahaya terhadap lingkungan sekitarnya, oleh sebab itu sistemperkuatan lereng sangat diperlukan. Pada kasus ini, Lereng Skyland Jayapura Selatanmengalami kelongsoran. Alternatif desain yang dilakukan adalah dengan menggunakanperkuatan dinding penahan tanah. Dinding penahan tanah adalah suatu bangunan yangdibangun untuk mencegah material agar tidak longsor menurut kemiringan alamnyadimana kestabilannya dipengaruhi oleh kondisi topografinya.Selain itu dinding penahantanah juga digunakan untuk menahan timbunan tanah serta tekanan-tekanan akibatbeban-beban lain seperti beban merata, beban garis, tekanan air dan beban gempa.Alternatif penanggulangan longsor pada kasus lereng Skyland Jayapura Selatan,dilakukan dengan menggunakan dinding penahan tanah model gravity wall yaitukonstruksi dinding penahan tanah dari pasangan batu, dimana berat struktur menjadikomponen kestabilan struktur terhadap gaya-gaya lateral tanah. Hasil perhitunganperencanaan perkuatan lereng Skyland Jayapura Selatan dengan menggunakan dindingpenahan tanah model gravity wall terhadap gaya guling, geser, dan daya dukungmenghasilkan nilai SF > 1,5 yang dapat dipresentasikan sebagai berikut : (overturing) SF =6,829 ; (sliding) SF = 4,270 ; (bearingcapacity) SF = 4,550. Nilai SF yang didapat menunjukkanbahwa dinding penahan tanah aman terhadap gaya guling, geser, dan daya dukung.
ANALISIS LIKUIFAKSI AKIBAT GEMPA PADA PEMBANGUNAN TOWER TRANSMISI 150 kV PLTU. LABUHAN ANGIN SIBOLGA Masriani Endayanti; Semangat M.Tua Debataraja; Junihar Bintang
JURNAL ILMIAH TEKNIK SIPIL Vol 9 No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Darma Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the impacts caused by an earthquake is the loss of strength of the soil layer due to vibrations called liquefaction. Liquidity generally occurs in poorly graded sand soils. This land was found in the construction of the Electric Steam Power Plant Labuhan Angin Sibolga 150 kV Transmission Tower. Therefore an analysis of the potential liquefaction is important in the design of the transmission tower foundation. Geological threats, especially liquefaction events when large earthquakes in earthquake-prone paths are something that can occur, and can cause extensive damage to buildings and infrastructure. Electric Steam Power Plant Labuhan Angin Sibolga is an earthquake prone area, where a 150 kV Transmission Tower is built with loose sand graded ground texture. To hold the heavy weight of the building on the ground, a solid foundation is needed. If the condition of the soil on the surface is not able to hold the building, then the burden of the building must be forwarded to the hard soil layer below. For this reason, a deep foundation construction is used for the construction of the 150 kV Transmission Tower at the Electric Steam Power Plant Labuhan Angin Sibolga power plant. Planners for the bore pile foundation must be able to bear the vertical force, horizontal force and the moment caused by lateral deformation caused by liquefaction. This load can be obtained from larger and more rigid pile dimensions, so that the pile diameter is 60 cm. Total skin friction ΣTf = 721.80 kg / cm (sondir data), diameter 60 cm.
ANALISIS LIKUIFAKSI AKIBAT GEMPA PADA PEMBANGUNAN TOWER TRANSMISI 150 kV PLTU. LABUHAN ANGIN SIBOLGA Masriani Endayanti; Junihar Bintang
JURNAL ILMIAH TEKNIK SIPIL Vol 10 No 2 (2021): AGUSTUS
Publisher : Prodi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Darma Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/tekniksipil.v8i1.1201

Abstract

One of the impacts of earthquakes is the loss of strength of the soil layer due to vibrations called liquefaction. Liquefaction generally occurs in poorly graded sandy soils. This kind of soil is found in the construction of the 150 kV Transmission Tower of the Labuhan Angin Sibolga PLTU. Therefore, the analysis of the potential for liquefaction is an important thing to do in the design of the transmission tower foundation. Geological threats, especially liquefaction events during large earthquakes on earthquake-prone routes, are something that can occur, and can cause extensive damage to buildings and infrastructure. Labuhan Angin Sibolga is an earthquake-prone area, where a 150 kV Transmission Tower was built with a loose sand-graded soil texture. To withstand the weight of a heavy building on the ground, a solid foundation is needed. If the soil conditions on the surface are not able to withstand the building, then the building load must be transferred to the hard soil layer below it. For this reason, deep foundation construction is used for the construction of the 150 kV Transmission Tower at PLTU Labuhan Angin Sibolga. The bore pile foundation planner must be able to bear vertical forces, horizontal forces and moments that occur due to lateral deformation caused by liquefaction. Sufficient resistance to carry this load can be obtained from the larger and stiffer pile dimensions, so the pile diameter is 60 cm. Based on the results of soil inspection (sondir test), for this transmission tower, bore pile foundation type (4 pile configuration) is obtained at a depth of 10 m with total skin friction Tf = 721.80 kg/cm (sondir data), diameter 60 cm.
Evaluasi Kapasitas Momen Lentur Balok Beton Bertulang Berdasarkan Analisis Struktur dan Perhitungan Ulang Konstruksi Gedung Kolaborasi UMKM Square di Kota Medan Diana Suita; Johan Oberlyn Simanjuntak; Simon Petrus Simorangkir; Masriani Endayanti
Impression : Jurnal Teknologi dan Informasi Vol. 5 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jti.v5i1.1736

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi kapasitas lentur balok beton bertulang berdasarkan hasil analisis gaya dalam dari konsultan perencana dan perhitungan ulang peneliti. Analisis menunjukkan momen negatif di tumpuan sebesar 284,780 kNm, momen positif di bentang 160,320 kNm, gaya geser tumpuan 184,160 kN, gaya geser bentang 90,900 kN, gaya geser gravitasi 134,590 kN, torsi 6,730 kNm, dan gaya aksial 1,510 kN. Momen maksimum yang terjadi adalah 363,929 kNm, sementara kapasitas lentur balok berkisar antara 36,961 kNm hingga 523,293 kNm. Hasil menunjukkan bahwa lima balok (B1B, B1C, B1D, B3B, B3C) memenuhi kapasitas lentur, sedangkan enam balok lainnya (TB1, B1A, B2, B3A, B3D, B4) belum memenuhi, mengindikasikan perlunya evaluasi desain ulang. Temuan ini menekankan pentingnya peninjauan kapasitas lentur terhadap momen maksimum untuk menjamin keamanan struktur. This study evaluated the flexural capacity of reinforced concrete beams based on the results of internal force analysis from the planning consultant and the researcher's recalculation. The analysis showed a negative moment at the support of 284,780 kNm, a positive moment in the span of 160,320 kNm, a support shear force of 184,160 kN, a span shear force of 90,900 kN, a gravity shear force of 134,590 kN, a torque of 6,730 kNm, and an axial force of 1,510 kN. The maximum moment that occurred was 363,929 kNm, while the flexural capacity of the beams ranged from 36,961 kNm to 523,293 kNm. The results showed that five beams (B1B, B1C, B1D, B3B, B3C) met the flexural capacity, while the other six beams (TB1, B1A, B2, B3A, B3D, B4) did not meet the requirements, indicating the need for redesign evaluation. This finding emphasizes the importance of reviewing the flexural capacity against maximum moment to ensure structural safety.
Analisa Impedansi Kabel Terhadap Motor Induksi 3 Phasa Pada Unit Screw Press Antonius Simamora; Jhonson Monang Siburian; Rasmi Sitohang; Piala Mutiara; Masriani Endayanti; Jumari Jumari
Jurnal Kolaborasi Sains dan Ilmu Terapan Vol. 5 No. 1 (2026): Edisi Juli - Agustus In Press
Publisher : Utiliti Project Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin besar impedansi listrik pada kabel penghantar, maka semakin besar juga hambatan yang dihadapi oleh arus listrik dalam melewati kabel tersebut. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya penurunan tegangan dan kerugian daya yang tinggi pada sistem distribusi daya listrik. Oleh karena itu, pemilihan kabel penghantar yang tepat dan penggunaan sistem proteksi yang baik sangat diperlukan untuk mengurangi impedansi listrik pada kabel penghantar. Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, besarnya impedansi listrik disebabkan panjang dan jenis kabel penghantar dari generator menuju motor induksi 3 phasa untuk unit screw press didapat sebesar 12,565 Ω pada arus 52 ampere, sebesar 12,408 Ω pada arus 53 ampere, dan sebesar 14,762 Ω pada arus 44,4 ampere. Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi besar kecilnya impedansi listrik yang terdapat pada rangkaian distribusi daya dari generator menuju motor induksi 3 phasa unit screw press adalah resistansi kabel penghantar, reaktansi kabel penghantar, panjang kabel, luas penampang kabel, tegangan, arus, frekuensi, material kabel, kualitas kontak dan, sambungan.
Effect of Plate Thickness on Springback in V-Bending of Aluminium Sheets Masriani Endayanti; Dispensator Laia; Edfan Putra Jaya Laia; Finusman Ndruru; Petrus Elvan Halawa; Faduhusa Laia; Yahya Tarjan Ginting; Hendri Pasaribu
Impression : Jurnal Teknologi dan Informasi Vol. 3 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jti.v3i1.974

Abstract

Springback sangat penting diperhatikan dalam perencanaan proses pembengkokan pelat untuk mendapatkan sudut pembengkokan yang diinginkan. Dengan demikian, ketika merancang punch dan dies, perlu mempertimbangkan springback yang terjadi setelah pembebanan. Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hasil sudut pembentukan atau pembengkokan bentuk "V": Pembengkokan pelat aluminium, jika tekanan pembengkokan minimum, akan memberikan tekanan terkecil pada pelat sehingga ketika pembengkokan dilakukan, efek springback lebih besar, sudut pembengkokan cenderung kembali ke posisi semula. Efek springback lebih besar untuk pembengkokan pelat yang lebih tipis dibandingkan dengan pelat yang lebih tebal, karena pelat cenderung kembali atau terdapat gaya balik yang lebih besar, begitu pula sebaliknya. Pada analisis perubahan springback dari hasil proses pembengkokan "V" untuk pelat aluminium, ditemukan bahwa springback merupakan gaya balik yang dihasilkan karena pengaruh elastisitas material pelat yang mengalami proses pembentukan. Springback is very important to pay attention to in planning the plate bending process to obtain the desired bending angle. Thus, when designing punches and dies, it is necessary to consider the springback that occurs after loading. From the results of the research carried out, it can be concluded that the results of the angle of formation or bending of the "V" shape: Bending of an aluminum plate, if the bending pressure is minimum, will provide the smallest pressure on the plate so that when bending is carried out the springback effect is greater, the bent angle tends to return to its original position. bigger and vice versa. For bending thinner plates compared to thicker plates. The effect of springback is greater because the plate tends to return or there is a greater return force, and vice versa. In the analysis of changes in springback from the results of the "V" bending process for aluminum plates, it was found that springback is a counterforce generated due to the influence of the elasticity of the plate material undergoing the forming process.
Sinergi Tanggul: Bendungan Drainase Serta Pengolahan Lahan Untuk Pengurangan Resiko Bencana Hidrometeorologi di Sumatera Utara Rachels Raegini; Sri Hartati Eka Masputri; Ahmad Fauzi Nur Ikhsan; Yusuf Aulia Lubis; Masriani Endayanti
Impression : Jurnal Teknologi dan Informasi Vol. 4 No. 3 (2025): November 2025
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jti.v4i3.1392

Abstract

Bencana hidrometeologi, khususnya banjir, merupakan ancaman serius di Indonesia, termasuk Sumatera Utara, yang disebabkan oleh curah hujan ekstrem, deforestasi, urbanisasi dan sistem drainase yang tidak memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas sinergi infrastruktur mitigasi banjir, yaitu bendungan, tanggul dan drainase dalam mengurangi resiko bencana di wilayah rawan seperti Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Metode penelitian mengunakan data seknder dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Dinas Pekerjaan Umum dan Pewrumahan Rakyat (PUPR) Sumatera Utara, yang meliputi deskripsi enam bendungan (dengan kapasitas penyimpangan hingga 50 juta m³) dan enam tanggul (dengan panjang 25 km). Simulasi menggunakan ArcGIS dan HEC-RAS membandingkan skenario baseline tanpa intervensi dengan skenario sinergi penuh. Hasil menunjukkan bahwa sinergi infrastruktur dapat mengurangi debit puncak banjir 40% (dari 1.200 m³/detik menjadi 720 m³/detik), area genangan dari 500 km² menjadi 300 km² dan indeks kerentanan dari 0,8 menjadi 0,5. Pendekatan holistik ini terbukti efektif dalam pengelolaan resiko bencana, dengan rekomendasi alokasi 20% APBD untuk pemeliharaan infrastruktur. Namun, keterbaasan penelitian terletak pada cakupan wilayah yang terbatas, sehingga hasil tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menekankan pentingnya integritasi infrastruktur dan konservasi lahan untuk mitigasi banjir hidrometeorologi.   Hydrometeorological disasters, particularly floods, pose a serious threat in Indonesia, including North Sumatra, caused by extreme rainfall, deforestation, urbanization, and inadequate drainage systems. This study aims to analyze the effectiveness of synergy between flood mitigation infrastructure, namely dams, embankments, and drainage systems, in reducing disaster risks in vulnerable areas such as Medan and Deli Serdang Regency. The research method uses secondary data from the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG), the National Disaster Management Agency (BNPB), and the Public Works and Public Housing Agency (PUPR) of North Sumatra, which includes descriptions of six dams (with a storage capacity of up to 50 million m³) and six embankments (with a length of 25 km). Simulations using ArcGIS and HEC-RAS compare a baseline scenario without intervention with a full synergy scenario. The results show that infrastructure synergy can reduce peak flood discharge by 40% (from 1,200 m³/s to 720 m³/s), inundation area from 500 km² to 300 km² and vulnerability index from 0.8 to 0.5. This holistic approach has proven effective in disaster risk management, with a recommendation to allocate 20% of the regional budget (APBD) for infrastructure maintenance. However, the study's limitations lie in its limited coverage area, so the results cannot be generalized to the entire North Sumatra Province. This study emphasizes the importance of infrastructure integrity and land conservation for hydrometeorological flood mitigation.
Penyuluhan Menggambar Rangkaian Elektronika dengan Menggunakan Program Circuit Maker di SMK HKBP Pangururan Pulau Samosir Antonius Managam Simamora; Subur Simanullang; Joslen Sinaga; Dewi Sholeha; Jhonson Monang Siburian; Jumari; Masriani Endayanti
Medani : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jpm.v4i3.1384

Abstract

Di era yang serba otomatis sekarang ini, komputer menjadi sarana amat penting dalam membantu kita untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dialami oleh para perancang elektronika dalam membuat desain rangkaian sekarang ini. Saat ini, telah banyak beredar program program computer untuk menggambar dan menjalankan rangkaiannya, seperti Digcirsi (Digital Circuit Simulator), Icap Deluxe, Pldesign, Pspsign, Pspice, Circuit Maker, Electronic Work-Bench, Multisime, Etap, dan lain sebagainya. Untuk penyuluhan ini penulis memilih program Circuit Maker. Adanya program program tersebut tentunya sangat membantu kalangan yang sehari harinya berkecimpung dalam dunia elektronika karena mereka tinggal menggambar rangkaian kemudian biarkan komputer yang akan mengolah untuk menjalankan gambar rangkaian yang telah kita buat. Jika kita ingin membuat Netlist Layout PCB yang untuk nantinya dapat dibuat track PCB, cukup dengan menekan beberapa tombol, sekali lagi komputer akan mengolah untuk membuat gambar rangkaian menjadi format Netlist dalam sekejap. Selain itu, adanya program program aplikasi elektronika tersebut, cukup banyak waktu, tenaga dan biaya yang bisa dihemat, jika dibandingkan dengan bekerja secara manual. Banyak sekali masalah yang harus dihadapi seorang perancang rangkaian elektronika jika kita bekerja secara manual, terutama pada kerapian skema gambar rangkaian yang kita rancang serta kecepatan pembuatannya. Oleh karena itu memakai komputer adalah jawaban tepat bagi perancang elektronika untuk membuat gambar skema rangkaian, sehingga penulis melakukan penyuluhan menggambar rangkaian elektronika dengan menggunakan program circuit maker. In today's automated era, computers have become a crucial tool in helping us solve the problems faced by electronics designers in designing circuits. Currently, there are many computer programs available for drawing and running circuits, such as Digcirsi (Digital Circuit Simulator), Icap Deluxe, Pldesign, Pspsign, Pspice, Circuit Maker, Electronic Work-Bench, Multisim, Etap, and so on. For this training, the author chose the Circuit Maker program. The existence of these programs is certainly very helpful for those who work in the world of electronics because they only need to draw the circuit and then let the computer process it to run the circuit image that we have created. If we want to create a PCB Netlist Layout that can later be used to create PCB tracks, just by pressing a few buttons, the computer will once again process it to make the circuit image into Netlist format in an instant. In addition, the existence of these electronic application programs can save a lot of time, energy, and costs, compared to working manually. There are many problems that an electronic circuit designer must face if we work manually, especially regarding the neatness of the schematic drawing of the circuit we design and the speed at which it is made. Therefore, using a computer is the right answer for electronics designers to create circuit schematic drawings, so the author provides training on drawing electronic circuits using a circuit maker program.