Fransiskus Xaverius Dako
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IDENTIFIKASI BENTUK KEARIFAN LOKAL DALAM PENGELOLAAN AGROFORESTRI TRADISIONAL DI KABUPATEN NAGEKEO, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Fransiska - Ule; Fransiskus Xaverius Dako; Yakub - Benu; Flora Evalina Ina Kleruk
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.61803

Abstract

Mixed gardening is a form of traditional agroforestry whose management is carried out from generation to generation. The people of Jawapogo Village refer to mixed gardens as uma. Uma is a land management system that has been practiced by farmers and developed in the community according to local wisdom. Local wisdom is a custom and habit carried out by a group of people from generation to generation that is still maintained by indigenous peoples in certain areas. This study aimed to find out the form of local wisdom used by the Jawapogo Village community in managing uma. This research was carried out from September to November 2021 in Jawapogo Village, Nagekeo Regency. This data collection method was carried out through in-depth interviews with farmers, who were respondents, and also with traditional leaders using a questionnaire. The data is then presented descriptively using data analysis techniques, which consist of three paths: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Based on the results of the research, traditional agroforestry management in Jawapogo Village, Nagekeo Regency, has several forms of local wisdom, namely: Lera Ie, which usually occurs the day after the funeral of a deceased person, and on that day the community is not allowed to carry out activities on the land; Ti'i Ka Ebu Kajo, which is a gift eaten to the ancestors and done before and after planting; and Voe, which means doing a work in mutual cooperation. and Mendi persembahan Lau Gereja, which means giving offerings to the church.
POLA PEMANFAATAN SUMBER DAYA HUTAN OLEH MASYARAKAT DESA NGABLAK DI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI Kletus Florianus Sera Gare; Nusrah Rusadi; Fransiskus Xaverius Dako; Frenly Marvi Selanno; Sukriati Andesti Lamanda; Lies Rahayu Wijayanti Faida; Much. Taufik Tri Hermawan
Jurnal Hutan Tropis Vol 14, No 1 (2026): Jurnal Hutan Tropis Volume 14 Nomer 1 Edisi Maret 2026
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v14i1.25713

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pemanfaatan sumber daya hutan oleh masyarakat Desa Ngablak di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Penelitian sebelumnya umumnya berfokus pada aspek kebijakan, kelembagaan, dan ekologi, sementara kajian mengenai pola pemanfaatan sumber daya hutan pada tingkat lokal di kawasan konservasi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengisi kesenjangan tersebut melalui analisis empiris interaksi masyarakat dengan sumber daya hutan. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember 2025 di Desa Ngablak, Jawa Tengah. Data primer diperoleh melalui observasi, wawancara semi terstruktur terhadap 64 petani, dan dokumentasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai sumber relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya hutan meliputi tiga aktivitas utama, yaitu penggarapan lahan, pengambilan kayu bakar, dan pemanfaatan hijauan pakan ternak. Penggarapan lahan dilakukan melalui sistem agroforestri sederhana yang mengombinasikan tanaman tahunan dan semusim. Kayu bakar dimanfaatkan sebagai sumber energi rumah tangga, sedangkan vegetasi bawah dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Penelitian ini menunjukkan adanya struktur pemanfaatan yang bersifat hierarkis, di mana kawasan hutan berfungsi sebagai basis produksi ekonomi masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa TNGM tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga mendukung sistem penghidupan masyarakat secara adaptif.