Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Papaya Extract and Iron Folate Capsules on Hb and Ferritin Level in Adolescent Girls with Anemia at SMA Negeri 3 Kendari City Sultan Akbar Toruntju; Zakaria Zakaria; Roqifoh Roqifoh; Kameriah Gani
Jurnal Kesehatan Manarang Vol 9 No 2 (2023): August 2023
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33490/jkm.v9i2.915

Abstract

To assess the effect of sea rabbit capsules, papaya fruit juice and iron-folate capsules on Hb and ferritin levels in high school adolescent girls with anemia. Pre-post quasi experiment was used. Location at SMA Neg 3 Kendari. The sample count is 27.6 rounded up to 30 people. The number of treatment samples was 30 people and 20 people as controls. Administered 1 time/day, for 4 weeks Sept 2022. The intervention was carried out in the school room during the break after lunch. Give capsule A to the intervention group, capsule B to the control group. The dose of capsule A is 15 mg/day, and the dose of capsule B is iron 15 mg/day and folate 300 mcg/day. There were 98 participants in the screening, 33.3% suffering from anemia, 48.9% nutritional status Chronic Energy Deficiency. There was an average increase in hemoglobin levels in the five groups, between before and after treatment, but the increase was very small, not statistically significant, p<0.05. The same thing with serum ferritin, all treatment groups and control groups experienced an increase between before and after treatment, but the value was very small or not significant (p<0.05). The results of the ANOVA test showed that there was no difference in the average hemoglobin and ferritin levels between groups, the significant level (p) = 0.37 or > α = 0.05.There was no difference in hemoglobin levels and serum ferritin levels between before and after treatment, both in the treatment group and in the control group.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu, Pola Asuh Gizi dan Pola Makan dengan Status Gizi Balita Kameriah Gani; Rasmaniar Rasmaniar; Intan Regina Putri
Jurnal Stunting Pesisir dan Aplikasinya Vol 1 No 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36990/jspa.v1i2.787

Abstract

Latar Belakang : Dari hasil pemantauan status gizi (PSG) tahun 2017 yang dilakukan Ditjen kesehatan Masyarakat (Kemenkes RI, 2019). Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2016 diperoleh persentase balita usia 6 -59 bulan menurut status gizi dengan indeks BB/U sebanyak 13,7% balita gizi kurang, dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 17,30 balita gizi kurang, dan masuk dalam 10 besar provinsi yang memiliki cakupan persentase gizi kurang yang tinggi, dan pada tahun 2018 terjadi penurunan persentase cakupan balita yang menderita gizi kurang sebanyak 16,40% (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Berdasarkan data dari Puskesmas Benu-benua Kota Kendari ditemukan anak balita Gizi Kurang yang berada di Kelurahan Benua-Benua dengan Prevalensi sebanyak 5,4% pada tahun 2020. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah study Observasional Analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional study. Sampel dalam penelitian ini adalah semua anak balita usia 1-5 tahun yang ada di Kelurahan Benu- Benua Kecamatan Kendari Barat Kota Kendari pada bulan Februari Tahun 2022 sebanyak 54 sampel. Hubungan antara variabel bebas dan terikat di uji menggunakan uji Chi-square. Hasil : Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pengetahuan gizi ibu sebagian besar (81,5%) memiliki pengetahuan gizi kurang, pola asuh gizi sampel sebagian besar (57,4%) memiliki pola asuh gizi baik, pola makan sampel sebagian besar (75,9%) memiliki pola makan baik. Uji statistik menunjukan tidak terdapat hubungan pengetahuan gizi ibu dengan status gizi pada anak balita dimana p value (0.739), adanya hubungan pola asuh gizi dengan status gizi pada anak balita p value (0.004), serta adanya hubungan pola makan dengan status gizi pada anak balita p value (0.000). Kesimpulan : Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel yang berhubungan pada status gizi anak balita usia 1-5 tahun adalah pola asuh gizi, pola makan.