Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Journal of Public Health Concerns

Edukasi perawatan fleksibilitas dan keseimbangan tubuh pada lansia di Posyandu Lansia, Way Sulan Tanjung Bintang Saputra, Rinaldi Prima; Zulfikar, Zulfikar; Fadhail, Maulana Ahsan
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i5.540

Abstract

Background: Aging is a natural process that cannot be avoided by every individual. Aging is a process of gradual loss of the ability of tissue to repair itself or replace itself and maintain its normal structure and function. This decrease in physical capacity is caused by several factors including musculoskeletal, cardiovascular and neuromuscular factors. The occurrence of decreased physical capacity is a condition that is very common in society that can trigger pain. As much as 28-35% of elderly people over 65 years old fall at least once a year and increase at the age of over 75 years by 32-42%. So, it is very important for the elderly to maintain and maintain muscle strength. Purpose: Provide health education as an effort to increase knowledge about the importance of balance and flexibility in the elderly. Method: The implementation of this activity goes through several stages, namely asking for permission from the local primary health, namely the Way Sulan Health Center, explaining the importance of conducting education to the elderly and explaining the importance of knowledge/understanding of elderly health problems with specific discussions on balance and flexibility. In the implementation stage, all participants were given material presentations using lecture and presentation methods. This was followed by a discussion and question and answer session. Results: Based on the Time Up and Go Test examination of 70 participants, it shows that the majority of elderly people have a low risk of falling as many as 13 people (18.57%). As many as 24 elderly people (34.28%) are in the moderate risk of falling category and as many as 33 people (47.14%) have a greater risk of falling. And based on the Sit & reach test examination, it shows that the majority of elderly people have hamstring and lowerback flexibility ≥ 4 inches 16 people (22.85%). As many as 20 elderly people (28.57%) are in the flexibility category ≥ 3 inches, as many as 30 people (42.85%) with flexibility ≥ 2 inches and as many as 4 people have flexibility ≥ 1 inch (5.71%). Conclusion:  Health counseling or education for the elderly about balance and flexibility has a very good impact on the community, especially on the mechanism of managing elderly health that can be done independently or with family support. Educational programs about balance and flexibility also increase awareness of the importance of maintaining fitness, and being aware of the risk of falling in the elderly. .Keywords: Balance; Elderly; Flexibility; Health education Pendahuluan: Lanjut usia (lansia) merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Penuaan (menjadi tua: aging) adalah suatu proses penghilangan secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya. Penurunan kapasitas fisik ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor penurunan muskuluskeletal, kardiovaskular dan neuromuskular. Kejadian penurunan kapasitas fisik merupakan kondisi yang sangat banyak dijumpai di masyarakat yang bisa memicu terjadinya rasa nyeri. Sebesar 28-35% lansia di atas 65 tahun setidaknya jatuh satu kali dalam satu tahun dan meningkat pada usia di atas 75 tahun sebesar 32-42%. Jadi, sangat penting bagi lansia untuk menjaga dan memelihara kekuatan otot. Tujuan: Memberikan penyuluhan kesehatan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan mengenai pentingnya keseimbangan dan fleksibilitas pada lansia. Metode: Pelaksanaan kegiatan ini melalui beberapa tahapan yaitu meminta ijin kepada kesehatan primer setempat yaitu puskesmas Way Sulan menjelaskan kepentingan untuk melakukan penyuluhan kepada lansia dan menjelaskan pentingnya pengetahuan/pemahaman masalah kesehatan lansia dengan spesifik pembahasan keseimbangan dan fleksibilitas. Tahap pelaksanaan seluruh peserta diberikan pemaparan materi dengan metode ceramah dan presentasi. Selanjutnya dilakukan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Hasil: Berdasarkan pemeriksaan Time Up and Go Test  dari 70 peserta menunjukkan bahwa mayoritas lansia memiliki risiko jatuh kecil sebanyak 13 orang (18.57%). Sebanyak 24 orang lansia (34.28%) dalam kategori risiko jatuh sedang dan sebanyak 33 orang (47.14%) memiliki risiko jatuh lebih besar. Dan berdasarkan pemeriksaan Sit & reach test menunjukkan mayoritas lansia memiliki fleksibilitas hamstring dan lowerback ≥ 4 inch 16 orang (22.85%). Sebanyak 20 orang lansia (28.57%) dalam kategori fleksibilitas ≥ 3 inch,  sebanyak 30 orang (42.85%) dengan fleksibilitas ≥ 2 inch dan sebanyak 4 orang memiliki fleksibilitas ≥ 1 inch (5.71%). Simpulan: Penyuluhan kesehatan atau edukasi pada lansia tentang keseimbangan dan flesibilitas memberikan dampak yang sangat baik pada masyarakat, khususnya pada mekanisme pengelolaan kesehatan lansia yang dapat dilakukan secara mandiri atau oleh dukungan keluarga. Program edukasi tentang keseimbangan dan fleksibilitas juga meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mempertahankan kebugaran, dan mewaspadai resiko jatuh pada lansia.
Edukasi latihan kombinasi pliometrik dan peregangan terisolasi aktif untuk meningkatkan fleksibilitas otot tubuh Raminda, Santri; Fadhail, Maulana Ahsan; Aliun, Fatimah Wahab; Kurniawan, Ryanda Masri; Zulfikar, Zulfikar
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i4.997

Abstract

Background: Flexibility is an important component of daily activities. Physical activity, including movements involving jumping, can stimulate the brain and increase blood flow to the brain, which in turn can support cognitive function and help slow memory decline. Active and repetitive muscle stretching for short durations, while plyometrics involve explosive movements to increase strength and agility. Physical exercises such as plyometrics can increase circulating BDNF concentrations, thereby inducing brain plasticity and cognitive enhancement. Physical exercise may support the release of neurotransmitters and neurotrophins in an activity-dependent manner. Increasing flexibility will reduce pain, and increase range of motion without causing excessive strain or injury. Purpose: Providing knowledge about maintaining flexibility of body muscle movement with a combination of plyometric exercises and active isolation stretching. Method: This activity was carried out at the Siger Physio Way Halim Bandar Lampung Clinic in January 2025. With quota sampling, 22 teenagers were selected as respondents. Participants were given instructions by instructors in doing the exercises and then carried out direct practice. Active isolated stretching actions are by holding each stretching movement for 2-3 seconds and repeated up to 8 times, then performing plyometric movements in the form of jumping in place, box jumps and high jumps. Results: Found that the majority of respondents were aged 18-22 years, namely 11 (50.0%). While the profession of the type of sport pursued was football as many as 8 (36.4%), Badminton as many as 4 (18.2%), Basketball as many as 6 (27.2%), and athletics as many as 4 (18.2%). Getting the respondent's jump distance in the pre-test with a mean value of 34.2 cm and a standard deviation of ± 5.66, while in the post-test with a mean value of 37.4 and a standard deviation of ± 4.92. Conclusion: Providing education and training in combination of active isolated stretching with plyometrics is quite effective and can improve understanding in maintaining body muscle flexibility and avoiding the risk of injury. Suggestion: It is expected to conduct further research and develop research with more specific factors to provide knowledge of the importance of carrying out muscle stretching actions as an effort to maintain flexibility and avoid the risk of injury. Keywords: Combination exercise; Flexibility; Muscle stretching; Risk of injury Pendahuluan: Fleksibilitas merupakan komponen yang penting dalam beraktivitas sehari-hari. Aktivitas fisik, termasuk gerakan yang melibatkan melompat, dapat merangsang otak dan meningkatkan aliran darah ke otak, yang pada gilirannya dapat mendukung fungsi kognitif dan membantu memperlambat penurunan daya ingat. Peregangan otot secara aktif dan berulang dengan durasi singkat, sementara pliometrik melibatkan gerakan eksplosif untuk meningkatkan kekuatan dan kelincahan. Latihan fisik seperti plyometric dapat meningkatkan konsentrasi BDNF dalam sirkulasi, sehingga menginduksi plastisitas otak dan peningkatan kognitif. Latihan fisik mungkin mendukung pelepasan neurotransmiter dan neurotropin dengan cara yang bergantung pada aktivitas. Dengan meningkatnya fleksibilitas akan mengurangi nyeri, dan meningkatkan jangkauan gerak tanpa menyebabkan ketegangan berlebihan atau cedera. Tujuan: Memberikan pengetahuan tentang menjaga fleksibilitas gerak otot tubuh dengan latihan kombinasi pliometrik dan peregangan isolasi aktif. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan di Klinik Siger Fisio Way Halim Bandar lampung pada bulan Januari 2025. Dengan quota sampling mendapatkan 22 remaja yang menjadi responden. Para peserta diberikan petunjuk dengan instruktur dalam melakukan latihan dan selanjutnya melakukan praktik langsung. Tindakan peregangan terisolasi aktif yaitu dengan menahan setiap gerakan peregangan selama 2-3 detik dan diulangi hingga 8 kali, selanjutnya melakukan gerakan pliometrik berupa lompat di tempat, lompat kotak dan lompat tinggi. Hasil: Mendapatkan bahwa usia responden sebagian besar di usia 18 – 22 tahun yaitu sebanyak 11(50.0%). Sedangkan profesi jenis olah raga yang ditekuni adalah sepak bola sebanyak 8 (36.4%), Bulutangkis sebanyak 4(18.2%), Bola basket sebanyak 6(27.2%), dan atletik sebanyak 4(18.2%). Mendapatkan jarak lompatan responden pada pre-test dengan nilai mean 34.2 cm dan standar deviasi ±5.66, sedangkan pada post-test dengan nilai mean 37.4 dan standar deviasi ±4.92. Simpulan: Pemberian edukasi dan latihan kombinasi peregangan terisolasi aktif dengan pliometrik cukup efektif dan dapat meningkatkan pemahaman dalam menjaga fleksibilitas otot tubuh dan menghindari risiko cedera. Saran: Diharapkan untuk dilakukan penelitian lanjutan dan mengembangkan penelitian dengan faktor yang lebih spesifik untuk memberikan pengetahuan pentingnya melakukan tindakan peregangan otot sebagai upaya menjaga fleksibilitas dan menghindari risiko cedera.