Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengelolaan Media Sosial untuk Ekowisata: Kawasan Hutan Adat Larang Mude Ayek Tebat Benawa Kota Pagar Alam Oemar Madri Bafadhal; Adi Inggit Handoko; Annisa Rahmawati; Anang Dwi Santoso
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2023): April
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v5i3.1838

Abstract

This community service aims to provide a comprehension of social media and its ecotourism applications. This event was held in Tebat Benawa Village, Pagar Alam City, from October 8-11, 2022, with 37 ecotourism managers in attendance. The training includes a greater understanding of social media and its use for ecotourism, as well as the creation of a collaborative space for ecotourism promotion between tourists and ecotourism managers. The results of the training demonstrated an increase in comprehension, as evidenced by the pre-test and post-test scores, which ranged from 5.73 to 8.54, and the T-test, which revealed a significant difference between the pre- and post-training periods.
Konflik dan wacana media dalam pembangunan gereja di Palembang: analisis jaringan diskursus Oemar Madri Bafadhal; Erlisa Saraswaty; Adi Inggit Handoko
Jurnal Studi Komunikasi Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Communications Science, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/jsk.v8i1.6257

Abstract

Religious community relations in Indonesia require much attention as religious identity is frequently used to gain political power. One of the issues that is frequently politicised is the establishment of places of worship. The interrelationships of various groups that unite their power to become a force in legitimising the rejection of the establishment of places of worship must be investigated further. This study employed the Discourse Network Analysis technique to describe the discourse in the news reporting on establishing a church in Palembang. Twenty-five news stories from thirteen Palembang news portals were investigated, analysed using DNA and visualised using Visone. The findings show that various groups are involved, including church-building committees, community organisations, religious organisations, cultural organisations, political parties, and government institutions. The common argument is that the construction of houses of worship must be halted because it does not follow procedures. Political parties are central to this network. This implies that the relevant stakeholders could not keep the conflict out of politics. Meanwhile, the absence of parties who should have been present to maintain tolerance is an important entry point to ensure this does not happen again.
Peningkatan Kapasitas Public Speaking Bagi Pendamping Wisata Di Desa Wisata Konservasi Sei Sembilang Adi Inggit Handoko; Rindang Senja Andarini; Harry Yogsunandar; Muh. Nizarsohyb; Muhammad Hidayatul Ilham
KOMUNITA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Mei
Publisher : PELITA NUSA TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60004/komunita.v5i2.599

Abstract

Desa Wisata Konservasi Sei Sembilang merupakan kawasan yang memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata berbasis konservasi. Kekayaan ekosistem yang dimiliki mencakup hutan bakau (mangrove), kawasan konservasi satwa, dan keindahan alam pesisir yang masih alami. Hutan mangrove sendiri memiliki fungsi ekologis yang sangat penting, antara lain sebagai penahan abrasi, penyaring alami air laut, habitat satwa pesisir, dan penyimpan karbon biru. Selain fungsi ekologisnya, mangrove juga memiliki nilai sosial dan edukatif yang tinggi jika dimanfaatkan secara berkelanjutan. Potensi ini menjadikan hutan mangrove sangat relevan untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif yang berbasis konservasi.Agar potensi besar kawasan ini tersampaikan secara optimal kepada wisatawan, diperlukan pendamping wisata yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, percaya diri, serta mampu menyampaikan informasi secara menarik dan persuasif. Oleh karena itu, salah satu solusi yang ditawarkan adalah melalui penyelenggaraan pelatihan atau workshop public speaking bagi para pendamping wisata. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas komunikasi, memperkuat citra kawasan sebagai destinasi konservasi yang informatif, serta memastikan bahwa pesan-pesan pelestarian lingkungan dapat disampaikan secara tepat dan berdampak kepada setiap pengunjung. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini melibatkan beberapa langkah yaitu studi lapangan, telaah pustaka, perencanaan program, pembuatan materi, menentukan narasumber, pendampingan, dan penyebarluasan hasil. Khalayak sasaran terdiri dari masyarakat Sei Sembilang dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang dimiliki oleh masyarakat Sei Sembilang. Hasil dari pengabdian ini adalah masyarakat Sei Sembilang memiliki kelompok wisata yang dipilih melalui pemilihan Bujang Gadis Sei Sembilang.kompetensi yang telah dimiliki oleh Pokdarwis diperoleh melalui ajang pemilihan Bujang dan Gadis Sei Sembilang. Pada masyarakatnya, pemahaman terkait public speaking belum secara baik hal ini dipengaruhi pada latar belakang pendidikan, penggunaan bahasa lokal yang dipakai dalam keseharian yang membuat adanya kesulitan dalam penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemandu wisata.