Untara Simon
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Resensi Buku : Tema-tema Eksistensialisme, Pengantar Menuju Eksistensialisme Dewasa Ini Simon Untara
Arete Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.001 KB)

Abstract

Buku “Tema-tema Eksistensialisme, Pengantar Menuju Eksistensialisme Dewasa Ini” berisi gagasan Emanuel Prasetyono yang ingin mengantar para pembaca, khususnya mahasiswa filsafat, untuk memahami pemikiran Eksistensialisme. Sebagai sebuah aliran filsafat yang pernah mendominasi lanskap berpikir masyarakat Eropa pada sekitar tahun 1960an, Eksistensialisme memiliki gagasan-gagasan yang tidak dapat diungkapkan dalam satu atau dua kalimat pendek. Itulah ide yang beberapa kali disebut di bagian awal buku ini. Hal itu dapat dipahami bukan saja karena pemikiran para filsuf Eksistensialis memiliki kekhasan yang berbeda-beda, namun juga karena pemikiran mereka sering bersifat elusif, tidak pernah dapat sepenuhnya dijelaskan dalam kata-kata. Yang menarik, untuk mengatasi kesulitan ini, Emanuel Prasetyono menggunakan beberapa ilustrasi yang berupa kisah pengalaman hidup sehari-hari yang ditafsirkan sesuai dengan gagasan yang dikemukakan.
Memahami Paradigma Pergeseran Kekuasaan Berdasarkan Gagasan Michel Foucault tentang Kuasa dalam Discipline and Punish Untoro Simon
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23 No 02 (2018): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/respons.v23i02.556

Abstract

Dalam banyak kasus politik kontemporer, teori tentang kekuasaanyang terfokus pada otoritas tidak lagi memadai untuk menjelaskan berbagaifenomena politik. Ini terjadi karena dalam sistem demokrasi masa kini, kehidupanpolitik merupakan ruang diskursus gagasan yang mengandaikan kemampuanberpikir rasional dari partisipannya. Di satu sisi, sistem ini nampak adil karenamenunjukkan ciri egaliter masyarakat yang akan menilai setiap gagasan secaraobjektif. Dalam kondisi ini, kekuasaan yang mendasarkan diri pada otoritastidak akan mendapat legitimasi yang cukup bila tidak didukung oleh alasanalasanyang rasional dalam menjalankan kebijakannya. Di sisi lain, dalamdemokrasi semacam ini, hampir selalu muncul kelompok masyarakat denganberbagai bentuk teknik kontrol yang mengatasnamakan rasionalitas, dijalankanoleh tiap individu demi mencapai kekuasaan. Dalam gagasan Michel Foucaultteknik kontrol terhadap masyarakat ini terjadi melalui injeksi pengetahuan dalamberbagai permainan wacana. Baginya, kehidupan bersama pada dasarnya berciripolitis dan penuh dengan pertarungan rasionalitas. Di sinilah, proses hidupbersama tidak lagi tergantung sepenuhnya pada institusi atau fi gur tertentunamun tergantung pada proses penyebaran pengetahuan yang diinjeksikan bagisetiap individu anggota masyarakat. In many contemporary political cases, the theory of authority-focusedpower is no longer suffi cient to explain various political phenomena. Th is is becausein contemporary democratic system, political life is a space of discursive ideas thatpresupposes on the abilities of rational thinking by its participants. On the one hand,this system seems to be fair because it shows an egalitarian characteristic of society who will value all ideas objectively. Under these circumstances, a power based on authoritywill not have suffi cient legitimacy in doing their policy if it is not supported by rationalargumentations. On the other hand, in this kind of democracy, almost always emergesa group of people with various forms of control techniques in the name of rationalityin order to mobilize people for the sake of power. In Michel Foucault’s idea, thesecontrol techniques are done through knowledge injection in various discourse games.For him, living together is essentially political and full of rationality contestations.Here, the process of living together no longer depends entirely on certain institutionsor fi gures but depends on the process of disseminating knowledge injected to eachindividual member of society.
Sumbangan Internalisme dan Eksternalisme dalam Konsep Ketuhanan Untara Simon
Arete Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Internalism and externalism are closely related to the issue of knowledge justification. There are fundamental differences between the two streams in the epistemology. However, both agree that to be true, knowledge must be justified. For internalism, this justification is sufficient from within: if it is based on memory, conclusions on various opinions and sensory perceptions of the subject of the knower have rational and reasonable justifications, then the conclusion is true. While for externalism, justification must take into account the validity of the process of achieving knowledge so that the environment, history and social context associated with that knowledge must be taken into account in determining the truth of a conclusion.This paper will try to answer the following questions: Related to the internalism-externalism debate, how can theology be classified? Is it true that theology falls into the category of internalism because God, the object of knowledge in theology, is something that has never been encountered by anyone, cannot be sensed and cannot be objectified? What are the implications of this classification of theology for theology itself? How does this debate make a special contribution to theology? Key Words: Epistemology, Internalism, Externalism, Theodicy.
Subjek Pasca Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Filsafat Politik Michel Foucault Untara Simon; Datu Hendrawan; Antonius Yuniarto
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 32, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.69153

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk menunjukkan bahwa pada masa pandemi covid 19, berbagai upaya yang dilakukan setiap organisasi sosial untuk menjaga keselamatan warganya menghasilkan berbagai strategi kuasa yang mengatur tindakan individu. Bagi setiap individu, proses politik ini menempatkan kebebasan dalam risiko. Dengan alasan demi keselamatan bersama, tiap orang dikondisikan untuk tidak menjadi subjek yang bereksistensi dan mengejar tujuannya sendiri. Oleh karena itu, artikel ini ingin menjawab pertanyaan dasar soal bagaimana strategi kuasa dijalankan dan mengarahkan tindakan individu pada masa pandemi dan bagaimana individu bisa menjadi subjek yang menentukan diri dan subjektivitasnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah meta-analisis dan hermeneutika dengan menggunakan kerangka teori filsafat politik Michel Foucault. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa dalam masa pandemi covid-19 ini, strategi kuasa terhadap individu dilakukan untuk mencapai tujuan politik komunitas/masyarakat yang dianggap lebih penting daripada tujuan pribadi individual. Situasi ini menantang eksistensi subjektivitas. Meski demikian, belajar dari Foucault, peneliti menemukan bahwa eksistensi subjek tetap bisa dibentuk sekalipun individu berada dalam situasi kontrol politis. Pembentukan subjek ini terjadi jika seseorang mampu menentukan tujuan hidup yang ingin dicapai, memahami hal-hal mendasar dalam hidupnya yang harus diubah untuk mencapai tujuan hidup, menentukan bagaimana ia berelasi dengan hal-hal mendasar serta mampu mempraktekkan teknik atau strategi konkret.
DEMOKRASI DAN KEBIJAKAN PUBLIK: MENGKRITISI WACANA POLITIS Untara Simon
Sophia Dharma: Jurnal Filsafat, Agama Hindu, dan Masyarakat Vol 2 No 1 (2019): SOPHIA DHARMA
Publisher : Program Studi Filsafat Agama Hindu IAHN Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.278 KB)

Abstract

Perkembangan wacana politik di Indonesia terutama menjelang pilpres 2019 sering kali diwarnai oleh drama-drama politik yang tidak jarang mengisahkan tentang perang berita palsu atau hoax oleh para pendukung paslon. Hal ini memperlihatkan bahwa demokrasi di Indonesia sangat jauh dari upaya menjujung nilai kebenaran. Penelitian ini sebagai penelitian kualitatif bidang filsafat berusaha mengkaji permasalahan tersebut dengan meninjau sejauh mana kebijakan publik di Indonesia bisa mendorong demokrasi yang sehat. Dari penelitian yang dilakukan menghasilkan kesimpulan bahwa: (1) Hoax atau fake news adalah salah satu dampak negatif dari arus besar perkembangan media komunikasi massa, (2) Hoax dalam dunia politik mengakibatkan perkembangan wacana politik yang tidak sehat dan seringkali menimbulkan pertarungan wacana yang tidak jarang berdampak pada munculnya konflik di masyarakat, (3) Perlu terdapat peran serta negara dalam upaya merawatan identitas kebangsaan serta komunitas kritis dalam pendidikan tentang literasi media massa soal kesadaran bahwa media komunikasi massa dapat melakukan framing, propaganda terhadap para konsumennya.
SUMBANGAN INTERNALISME DAN EKSTERNALISME DALAM KONSEP KETUHANAN Untara Simon
Arete Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/arete.v8i1.4286

Abstract

AbstractInternalism and externalism are closely related to the issue of knowledge justification. There are fundamental differences between the two streams in the epistemology. However, both agree that to be true, knowledge must be justified. For internalism, this justification is sufficient from within: if it is based on memory, conclusions on various opinions and sensory perceptions of the subject of the knower have rational and reasonable justifications, then the conclusion is true. While for externalism, justification must take into account the validity of the process of achieving knowledge so that the environment, history and social context associated with that knowledge must be taken into account in determining the truth of a conclusion.This paper will try to answer the following questions: Related to the internalism-externalism debate, how can theology be classified? Is it true that theology falls into the category of internalism because God, the object of knowledge in theology, is something that has never been encountered by anyone, cannot be sensed and cannot be objectified? What are the implications of this classification of theology for theology itself? How does this debate make a special contribution to theology? Key Words: Epistemology, Internalism, Externalism, Theodicy. AbstrakInternalisme dan eksternalisme terkait erat dengan persoalan justifikasi pengetahuan. Tedapat perbedaan mendasar atas kedua aliran dalam epistemology tersebut. Meskipun demikian, keduanya sepakat bahwa untuk menjadi benar, suatu pengetahuan harus dijustifikasi. Bagi internalisme, justifikasi ini cukup dari dalam diri saja: bila berdasarkan pada ingatan, kesimpulan atas berbagai pendapat dan pencerapan inderawi subjek penahu memiliki justifikasi rasional dan masuk akal, berarti kesimpulan itu benar. Sementara bagi eksternalisme, justifikasi harus memperhitungkan sahihnya proses pencapaian pengetahuan sehingga, lingkungan, sejarah dan konteks sosial yang terkait dengan pengetahuan tersebut harus diperhitungkan dalam menentukan kebenaran suatu kesimpulan.Tulisan ini akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan berikut: Terkait dengan perdebatan internalisme-eksternalisme, bagaimana teologi mau diklasifikasikan? Benarkah teologi masuk dalam kategori internalisme karena Tuhan, objek pengetahuan dalam teologi itu adalah sesuatu yang tidak pernah ditemui oleh siapapun, tidak bisa diindera dan tidak bisa diobjekkan? Apa implikasi penggolongan teologi ini bagi teologi itu sendiri? Bagaimana perdebatan ini memberi sumbangan khusus bagi teologi? Kata Kunci: Epistemologi, Internalisme, Eksternalisme, Teodicy
PERJUMPAAN WAJAH YANG LAIN SEBAGAI DASAR ETIKA MENURUT EMANUEL LEVINAS Simon, Untara
Arete: Jurnal Filsafat Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tulisan ini memhabas tentang Etika menurut Emanuel Levinas. Penempatan ‘Yang lain’ sebagai yang transenden yang mana di hadapannya, sang Aku berjumpa dengan yang tak berhingga dan disandera untuk bertanggungjawab terhadapnya adalah sumbangan yang sangat penting bagi filsafat dan etika. Berdasarkan pada perjumpaan wajah, etika harus diterjemahkan lebih jauh dalam ranah praktis. Levinas sendiri tidak mengatakan bahwa dalam hidup sehari-hari, orang harus selalu mengutamakan orang lain. Ia hanya menunjukkan suatu kenyataan bahwa dalam perjumpaan wajah yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari, kita berjumpa dengan wajah yang transenden yang secara eksistensial kita bertanggungjawab terhadapnya. Akhirnya, tentang kehidupan bernegara ini, secara lebih khusus, Levinas menegaskan bahwa dalam kehidupan bernegara, keadilan harus diperjuangkan. Keadilan ini adalah keadilan yang berdasarkan pada cinta. Cinta inilah cinta yang memiliki tanggung jawab tidak terbatas pada sesama, cinta yang asimetris.Kata kunci:  Etika, Levinas, Tanggung Jawab, Wajah Abstract This article is about Ethics according to Emanuel Levinas. The placement of the 'Other' as the transcendent one before which the I encounter the infinite and is held hostage to it is a very important contribution to philosophy and ethics. Based on face-to-face encounters, ethics must be translated further in the practical realm. Levinas himself did not say that in daily life, people should always put others first. It simply shows the fact that in the face encounters we have in our daily lives, we encounter a transcendent face for whom we are existentially responsible. Finally, about this state life, more specifically, Levinas emphasized that in the life of the state, justice must be fought. This justice is justice based on love. This love is a love that has a responsibility not limited to others, an asymmetrical love. Keywords:  Ethics, Levinas, Responsibility, Face