Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POTRET POLIGAMI DALAM NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN KARYA ASMA NADIA Awlia Ramadhani; Yenni Hayati
Persona: Kajian Bahasa dan Sastra Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jpers.v1i1.6

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang terjadinya poligami, menjelaskan dampak dari poligami, dan memaparkan sikap tokoh perempuan dalam menghadapi poligami di dalam novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Data penelitian berupa kata, frasa, klausa, kalimat, narasi tentang tokoh, tuturan tentang tokoh dan tindakan tokoh pada cerita di dalam novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia. Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu membaca dan memahami novel, menandai hal-hal yang berhubungan dengan latar belakang terjadinya poligami, dampak dari poligami dan sikap tokoh perempuan dalam menghadapi poligami yang terdapat dalam novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia, dan menginventarisasi data untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan potret poligami. Teknik pengabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uraian rinci. Teknik penganalisis data dalam penelitian ini ada empat, antara lain: membaca novel yang diteliti, mendeskripsikan data sesuai dengan rumusan masalah yang digunakan, menginterprestasikan data yang terkumpul, dan membuat kesimpulan dan hasil deskripsi format data. Hasil penelitian yang didapatkan adalah: Latar belakang terjadinya poligami yang terbagi atas, (a) kebutuhan seksual, (b) istri pertama mandul, (c) istri kurang merawat diri, dan (d) keinginan menolong. Dampak dari poligami terbagi atas, (a) dampak positif, (b) dampak negatif. Sikap tokoh perempuan dalam menghadapi poligami di dalam novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia terbagi atas: (a) sikap menerima dan (b) sikap menolak.
Peningkatan Kemampuan Oral Pada Aspek Bercerita Melalui Pemanfaatan Legenda Minangkabau Asal Usul Lunto Awlia Ramadhani; Setiyo Utoyo
Jurnal Inovasi Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia Vol. 3 No. 1 (2026): Volume 3, Nomor 1, Januari 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/rjef5577

Abstract

Kemampuan oral (literasi ekspresif) merupakan kemampuan fundamental dalam perkembangan anak usia dini yang mencakup keterampilan berbicara, bercerita, dan mengekspresikan diri. Namun, banyak lembaga PAUD menghadapi tantangan dalam mengembangkan oral anak karena keterbatasan media pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk “meningkatkan kemampuan oral anak kelompok B melalui pemanfaatan Legenda Minangkabau Asal Usul Lunto di TK Al Ikhlas Lunto”.  Penelitian ini menggunakan “Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah 12 anak kelompok B (usia 5-6 tahun) yang terdiri dari 8 anak laki-laki dan 4 anak perempuan. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara”.  Hasil penelitian menunjukkan “peningkatan signifikan kemampuan oral anak dari kondisi awal ke siklus I dan siklus II. Pada kondisi awal, persentase ketercapaian oral anak hanya 41,67%”. Setelah siklus I, meningkat menjadi 66,67%, dan pada siklus II mencapai 91,67%. Anak menunjukkan peningkatan dalam keberanian berbicara, kemampuan menceritakan kembali cerita, mengekspresikan pendapat, serta antusiasme dalam kegiatan pembelajaran. Pemanfaatan Legenda Minangkabau Asal Usul Lunto terbukti efektif meningkatkan kemampuan oral anak usia dini. Cerita lokal yang kontekstual dan sarat nilai moral memberikan media pembelajaran yang menarik, bermakna, dan relevan dengan kehidupan anak. Implikasi penelitian ini adalah pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal dalam pembelajaran PAUD untuk mengembangkan kemampuan literasi ekspresif sekaligus melestarikan budaya lokal.