Shofi Khaqul Ilmy
Universitas Pendidikan Ganesha

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

“Jika Diedukasi, Kami Siap”: Perspektif Kesiapan Pokdarwis Dalam Kesehatan Jiwa Berbasis Pariwisata Shofi Khaqul Ilmy; Made Bayu Oka Widiarta; I Komang Gunawan Landra; Kadek Dwi Pitriyani; I Gusti Ayu Armadhira Iswa Adi
Optimal Nursing Journal Volume 2 No. 2 Desember 2025
Publisher : PT Nuansa Fajar Cemerlang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67717/740309

Abstract

Introduction: Local tourism has the potential to serve as a platform for mental-health promotion and prevention; however, the readiness of community actors-particularly tourism awareness groups (Pokdarwis)-remains poorly understood. This study aimed to explore Pokdarwis members’ perceptions and meanings of readiness to advance mental-health efforts through local tourism in Buleleng District, Bali. Methods: A qualitative descriptive phenomenology was conducted with seven Pokdarwis members (including two coordinators) through semi-structured interviews. Data were analyzed using Template Analysis, treating the Community Readiness Model (CRM) as sensitizing concepts (prior knowledge). Trustworthiness was ensured via member checking, peer debriefing, and an audit trail. Results: Six themes emerged: (1) meanings of health along the mental-health dimension (knowledge of the issue); (2) a “quiet yet important” issue (community climate); (3) abundant but unguided potential (existing community efforts); (4) mental-health benefits that remain unpublicized (knowledge of efforts); (5) “If educated, we are ready” (leadership); and (6) potential that is not yet connected (resources). A core theme was synthesized, conditional readiness: “If educated, we are ready.” CRM mapping indicated a position spanning vague awareness to preplanning. Discussion/Recommendations: Stage-matched priorities include strengthening culturally sensitive mental-health literacy; reframing destination narratives toward “restorative tourism”; appointing and training relevant actors; piloting small-scale packages with clear standard operating procedures and referral pathways; and consolidating assets-networks-funding. Community mental-health nurses should act as key collaborators linking Pokdarwis and puskesmas (primary health centers) to support standardization, capacity building, and ongoing quality monitoring of the program.
Adaptasi Sosiokultural Pendatang dan Penerimaan Masyarakat Lokal dalam Perspektif Keperawatan Transkultural: Scoping Review Kadek Widya Purnama Yani; Kadek Candra Dwi Anindhita; Shofi Khaqul Ilmy
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 3 (2026): Juni 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i3.2106

Abstract

Mobilitas penduduk dan interaksi lintas budaya meningkatkan kebutuhan akan pemahaman adaptasi sosiokultural pendatang dan penerimaan masyarakat lokal dalam perspektif komunitas. Dalam konteks keperawatan transkultural, perbedaan nilai, norma, bahasa, dukungan sosial, dan lingkungan budaya dapat memengaruhi kesejahteraan pendatang serta hubungan sosial dengan masyarakat penerima. Penelitian ini bertujuan memetakan proses dan faktor yang memengaruhi adaptasi sosiokultural pendatang dan penerimaan masyarakat lokal. Metode penelitian menggunakan scoping review berpedoman PRISMA-ScR dengan kerangka PCC. Artikel yang digunakan berasal dari database elektronik, meliputi ScieneceDirect, PubMed, dan Google Scholar menggunakan kombinasi kata kunci cross-cultural, contact/intercultural, contact, community/social acceptance, perception/social integration, migrants/immigrants/refuges, dan host/local community. Artikel yang ditelaah merupakan hasil publikasi tahun 2021-2016. Dari 17.817 artikel yang ditemukan, 11 artikel memenuhi kriteria inklusi. Telaah dilakukan oleh da penilai independen menggunakan checklist JBI. Hasil telaah menunjukkan bahwa kontak lintas budaya, dukungan sosial, kompetensi antarbudaya, toleransi, dan kesiapan komunitas mendukung adaptasi serta penerimaan sosial. Sebaliknya, diskriminasi, persepsi ancaman, stereotip, dan hambatan komunikasi menjadi faktor penghambat. Temuan ini menegaskan pentingnya keperawatan transkultural dalam membangun komunitas inklusif.