Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Representasi Israel dalam Media Massa Daring CNN Indonesia: Analisis Wacana Kritis Theo Van Leeuwen Herliana Juliyanti; Ian Wahyuni; Ahmad Mubarok
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v10i2.22713

Abstract

Fungsi media tidak hanya sekadar menyajikan fakta, tetapi juga dapat melakukan konstruksi sosial berdasarkan ideologi media. Dalam konteks ini, tujuan peneliti adalah menelaah cara Israel direpresentasikan oleh CNN Indonesia melalui pemberitaan konflik dengan Palestina, terutama pada periode Oktober 2023 hingga Agustus 2024. Representasi tersebut dianalisis menggunakan pendekatan analisis wacana kritis untuk mengetahui bagaimana Israel dimunculkan dalam teks berita. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian kepustakaan. Data yang dikumpulkan berupa kutipan teks dari berita daring CNN Indonesia yang membahas konflik Israel-Palestina. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode Simak Bebas Libat Cakap (SBLC), teknik dokumentasi, dan teknik catat. Dalam penelitian ini digunakan teori Analisis Wacana Kritis (AWK) model Theo Van Leeuwen, khususnya strategi inklusi, untuk menganalisis cara Israel dimunculkan dalam pemberitaan. Data dianalisis menggunakan metode padan referensial dengan teknik Pilah Unsur Penentu (PUP) dan Hubung Banding Menyamakan (HBS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya bentuk strategi inklusi yang digunakan CNN Indonesia untuk menampilkan Israel dalam teks berita, diantaranya yaitu diferensiasi-indiferensiasi digunakan untuk menampilkan Israel sebagai aktor tunggal yang bertanggung jawab atas penderitaan warga palestina; objektivitas-abstraksi digunakan untuk menegaskan perlakuan ataupun jumlah korban imbas serangan Israel; kategorisasi, identifikasi dan determinasi digunakan untuk menampilkan citra Israel yang cenderung negatif; individualisasi-asimilasi digunakan untuk menjelaskan bahwa yang bertanggung jawab hanya pihak Israel secara individu atau berkelompok; dan asosiasi-disosiasi digunakan untuk menunjukkan ada atau tidaknya keterkaitan Israel terhadap konflik lainnya. Mengenai representasi, CNN Indonesia membentuk konstruksi makna melalui pemilihan kata, frasa, dan struktur kalimat yang menunjukkan Israel dengan konotasi negatif sehingga dapat menggiring opini pembaca.
APPRAISING ENVIRONMENTAL CRISIS: AN ECOLINGUISTIC EVALUATION OF THE LOS ANGELES WILDFIRE COVERAGE IN NATIONAL GEOGRAPHIC MAGAZINE Mardliya Pratiwi Zamruddin; Famala Eka Sanhadi Rahayu; Ahmad Mubarok; Jonathan Irene Sartika Dewi Max
Linguists : Journal of Linguistics and Language Teaching Vol 11, No 2 (2025): December
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ling.v11i2.7773

Abstract

Environmental crises are increasingly mediated through global media platforms, shaping public perception and ecological awareness. National Geographic, as a prominent environmental outlet, plays a key role in constructing narratives around ecological issues. However, the linguistic strategies it employs—particularly evaluative language—remain underexplored. This study aims to investigate the evaluation of LA Wildfire in National Geographic Magazine through an ecolinguistic framework. The study is designed as qualitative research with a content analysis approach, which analyzed four articles discussing LA Wildfire 2025 in the National Geographic Magazine in the Environmental Section. The analysis focuses on appraisal patterns which cover three aspects: attitude, engagement, and graduation where each aspects has their sub categories which makes this analysis detailed.  The findings reveal a dominant use of appreciation and judgment to evoke urgency and moral responsibility, while affect is comparatively minimized. Salience patterns foreground scientific authority and global impact, often marginalizing local ecological voices. Metaphors such as “tipping point” and “planetary fever” reinforce crisis framing but risk oversimplifying complex ecological dynamics. This study contributes to ecolinguistics by demonstrating how evaluative language in environmental media can both amplify ecological concern and obscure systemic causes, highlighting the need for more reflexive and inclusive environmental storytelling.