Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Integrasi Pemikiran Filsafat Pragmatisme John Dewey Dengan Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam di Era Abad 21 Cindy Zamer Liya Putri; Hana Mufidah; Herlini Puspika Sari
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 2 (2025): 2025
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v1i2.400

Abstract

Penelitian ini membahas integrasi pemikiran pragmatisme John Dewey dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21. Permasalahan utama terletak pada bagaimana menggabungkan rasionalitas modern yang menekankan pengalaman empiris dengan nilai-nilai spiritual Islam yang berorientasi pada moralitas dan ketakwaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis relevansi dan keterpaduan antara konsep learning by doing Dewey dengan prinsip ilmu dan amal dalam pendidikan Islam. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis isi terhadap karya-karya Dewey serta literatur pendidikan Islam klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat titik temu antara pragmatisme dan pendidikan Islam, terutama dalam aspek pengalaman, refleksi, dan penerapan nilai dalam kehidupan nyata. Integrasi ini berpotensi menciptakan model pembelajaran Islam yang kontekstual, aktif, dan berorientasi karakter tanpa meninggalkan dimensi spiritual. Kesimpulannya, pemikiran Dewey dapat memperkaya inovasi pembelajaran Islam di era modern jika diterapkan dalam kerangka nilai-nilai tauhid dan akhlak
Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari tentang Pendidikan Islam dan Relevansinya terhadap Tantangan Moral di Era Globalisasi Nurwan Azlin; Veriska; Herlini Puspika Sari
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 2 (2025): 2025
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v1i2.403

Abstract

Pendidikan Islam memiliki peran penting dalam membentuk moralitas dan spiritualitas manusia di tengah perubahan global yang cepat. Pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari sebagaimana tercermin dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim memberikan landasan filosofis bagi pendidikan yang memadukan ilmu, iman, dan akhlak. Penelitian ini bertujuan menganalisis filsafat pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari serta relevansinya terhadap tantangan moral di era globalisasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, melalui analisis karya primer, jurnal ilmiah, dan dokumen historis yang berkaitan dengan pemikiran pendidikan Hasyim Asy’ari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikannya menekankan pentingnya keseimbangan antara dimensi intelektual, moral, dan spiritual, dengan adab sebagai inti proses pembelajaran. Pemikirannya relevan untuk menjawab krisis moral dan pergeseran nilai akibat arus modernisasi dan digitalisasi. Selain itu, gagasannya memberikan implikasi bagi pengembangan pendidikan Islam modern yang mengharmonikan tradisi pesantren dengan paradigma pendidikan kontemporer. Kesimpulannya, pemikiran Hasyim Asy’ari memberikan dasar filosofis dan praktis bagi penguatan pendidikan Islam yang bermoral, adaptif, dan responsif terhadap tantangan global.
Strategi Pengembangan Konsep Lifelong Learning dalam Pendidikan Islam Sejak Usia Dini: Studi Kualitatif Peran Edukatif Keluarga dan Lembaga Pendidikan Islam Husen firdaus; Rivaldi Kurniawan; Herlini Puspika Sari
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 2 (2025): 2025
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v1i2.427

Abstract

Pendidikan Islam menempatkan proses belajar sebagai bagian dari ibadah yang berlangsung sepanjang hayat, sesuai dengan prinsip lifelong learning yang menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan sejak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan konsep lifelong learning dalam pendidikan Islam usia dini dengan menyoroti peran keluarga dan lembaga pendidikan Islam sebagai pilar utama. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka (library research) terhadap berbagai literatur akademik dan hasil penelitian relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk kebiasaan belajar anak melalui teladan, dukungan moral, dan kegiatan edukatif di rumah; (2) lembaga pendidikan Islam berperan dalam menguatkan nilai pembelajaran sepanjang hayat melalui kurikulum reflektif dan pembelajaran aktif; serta (3) sinergi antara keluarga, lembaga, dan masyarakat diperlukan untuk menciptakan ekosistem pendidikan kolaboratif yang berkelanjutan. Kesimpulannya, penguatan kolaborasi antara keluarga dan lembaga pendidikan menjadi kunci utama dalam mewujudkan budaya belajar sepanjang hayat pada anak sejak usia dini
Integrasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam: Menjawab Tantangan Global Dengan Landasan Filosofis Teguh Maulana Ihsan; Muhammad Ikbal; Herlini Puspika Sari
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 2 (2025): 2025
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v1i2.436

Abstract

Globalisasi menuntut sistem pendidikan Islam untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep integrasi kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan landasan filosofis sebagai upaya menjawab tantangan global. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi kepustakaan dengan menelaah buku, jurnal, dan dokumen akademik yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi kurikulum PAI diperlukan untuk menghapus dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum serta membentuk paradigma pendidikan yang berorientasi pada kesatuan ilmu dan keseimbangan antara akal, iman, dan moral. Landasan filosofis pendidikan Islam menjadi dasar penting dalam menciptakan kurikulum yang tidak hanya mencerdaskan intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan spiritualitas peserta didik. Melalui pendekatan integratif, kurikulum PAI terbukti lebih relevan dalam membangun generasi Muslim yang berakhlak mulia, adaptif terhadap perubahan global, dan mampu memadukan nilai-nilai keislaman dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, integrasi kurikulum berbasis filosofis menjadi langkah strategis untuk memperkuat peran pendidikan Islam dalam membentuk manusia seutuhnya.
Peran Pendidikan Inklusif dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Anak Berkebutuhan Khusus (ABK): Miftahul Jannah; Dika Merlianda; Herlini Puspika Sari
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 2 (2025): 2025
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v1i2.589

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran konkret pendidikan inklusif dalam meningkatkan indikator kualitas hidup anak berkebutuhan khusus (ABK), dengan fokus pada peningkatan kemandirian fungsional, adaptasi sosial, dan kesejahteraan psikologis. Meskipun landasan filosofis pendidikan inklusif di Indonesia kuat, implementasinya masih menghadapi tantangan, terutama dalam memastikan dampak nyata terhadap kualitas hidup ABK setelah lulus. Penelitian ini mengisi kekosongan dalam literatur mengenai hubungan komprehensif antara layanan inklusif dan hasil kualitas hidup holistik, yang menghasilkan hipotesis bahwa pendidikan inklusif komprehensif memiliki peran positif yang signifikan. Studi ini menggunakan penelitian perpustakaan, dengan fokus pada pengumpulan dan analisis kritis data dari berbagai sumber literatur terverifikasi seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dan dokumen resmi yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitis, dengan menafsirkan isi literatur berdasarkan relevansinya terhadap masalah penelitian untuk memberikan sintesis komprehensif tentang konsep dan praktik. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan inklusif berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kemandirian, kepercayaan diri, adaptasi sosial, dan kesejahteraan psikologis anak-anak dengan kebutuhan khusus. Faktor kunci yang diidentifikasi adalah implementasi kurikulum adaptif dan diferensiasi. Penelitian ini menyoroti bahwa lingkungan belajar yang mendukung merupakan faktor penting untuk perkembangan holistik yang sukses. Implikasi penelitian ini menekankan perlunya reformasi sistemik dalam pendidikan inklusif. Tantangan desain kurikulum harus diatasi dengan mengintegrasikan pembelajaran diferensiasi ke dalam sistem nasional. Selain itu, terdapat kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kompetensi guru dalam pedagogi inklusif, memperkuat ikatan sosial di sekolah melalui program dukungan sesama, dan mereformasi sistem evaluasi untuk mencakup penilaian holistik (sosial, emosional, dan psikologis) di luar hasil akademik semata. Penelitian ini berfungsi sebagai panduan praktis bagi pemangku kepentingan untuk mewujudkan model inklusi yang transformatif dan berorientasi pada hasil.
Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Pembelajaran PAI: Peluang, Tantangan, dan Etika Pendidikan Islam Rusdiah Roitona Nasution Rusdiah; Lilis Gusliyah; Indra Rhammadhanny; Herlini Puspika Sari
GHIROH Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : MGMP PAI SMP BINTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan menyoroti peluang, tantangan, dan aspek etika penggunaannya. Permasalahan yang dikaji meliputi kesiapan guru, keterbatasan infrastruktur, potensi ketergantungan teknologi, serta isu etika seperti keamanan data dan kejujuran akademik. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan library research melalui analisis berbagai literatur relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI memiliki potensi besar dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran melalui sistem adaptif, personalisasi materi, serta kemudahan akses sumber belajar. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai kendala teknis dan pedagogis. Oleh karena itu, pemanfaatan AI dalam pembelajaran PAI perlu dilakukan secara bijak dengan tetap berlandaskan nilai-nilai pendidikan Islam agar mampu mendukung pembelajaran yang efektif, etis, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik
Problematika Lembaga Pendidikan Islam dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Era Digital ​ Ana Susiana; Indriayu Ramadani; Abdul Hadi Al-Ghani; Herlini Puspika Sari
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i2.5151

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawaperubahan signifikan terhadap sistem pendidikan, termasuklembaga pendidikan Islam yang memiliki peran pentingdalam membentuk karakter dan kompetensi peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis problematikayang dihadapi lembaga pendidikan Islam dalammeningkatkan mutu pendidikan di era digital. Penelitianmenggunakan pendekatan kualitatif dengan metode libraryresearch melalui kajian terhadap berbagai sumber literaturseperti buku, jurnal ilmiah, dan penelitian terdahulu yang relevan dengan pendidikan Islam dan transformasi digital. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi tantangan utamaserta strategi yang dapat dilakukan dalam meningkatkanmutu pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa lembagapendidikan Islam menghadapi beberapa tantangan utama, yaitu penyesuaian kurikulum dengan kebutuhanpembelajaran digital, keterbatasan infrastruktur teknologi, rendahnya kompetensi digital guru dan tenagakependidikan, serta masih lemahnya literasi digital pesertadidik. Kurikulum pada sebagian lembaga pendidikan Islam belum sepenuhnya mengintegrasikan literasi digital dengannilai-nilai keislaman, sementara fasilitas teknologi danakses internet masih belum merata. Selain itu, keterbatasankemampuan guru dalam memanfaatkan platformpembelajaran digital menyebabkan proses pembelajaranberbasis teknologi belum berjalan secara optimal. Pesertadidik juga menghadapi tantangan dalam memanfaatkanmedia digital secara bijak akibat kurangnya pemahamantentang literasi digital dan etika penggunaan teknologi. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang komprehensifseperti reformasi kurikulum yang mengintegrasikan literasidigital dengan pendidikan karakter Islam, peningkataninfrastruktur teknologi, pelatihan berkelanjutan bagi guru, serta penguatan literasi digital peserta didik. Kerja samaantara lembaga pendidikan, pemerintah, dan sektorteknologi juga menjadi faktor penting dalam mendukungtransformasi digital pendidikan Islam. Dengan demikian, digitalisasi seharusnya dipandang sebagai peluang strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam dan melahirkangenerasi yang unggul secara intelektual, adaptif terhadapteknologi, serta tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman.
Reimagining the Meaning of Learning: The Relevance of Educational Philosophy in the Face of the Onslaught of Digital Technology Bagas Agamy Bakti; Muhammad Suma Hafiz; Herlini Puspika Sari
Cendekiawan : Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol 4 No 4 (2025): December: Multiple Intelligences of Students in Formal, Informal, and Nonformal E
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/cendekiawan.v4i4.486

Abstract

This study aims to formulate a theoretical model on the relevance and strategic role of the philosophy of education in redefining the meaning of learning amid the dominance of digital technology. The central issue is how the philosophy of education can offer a robust conceptual framework to navigate, not merely utilize, the digital ecosystem. This research employs a qualitative approach using the Library Research method, focusing on philosophical-conceptual analysis.The findings indicate that technology triggers a shift in the meaning of learning from a one-way transfer of information to the active construction of knowledge (constructivism), transforming the teacher into a critical facilitator. The core relevance of philosophy (Axiology, Epistemology, Ontology) is heightened. Epistemology serves as a fortress against the "Digital Truth Crisis" by demanding critical literacy, while Axiology provides a moral compass for digital ethics issues. In synthesis, the enriched meaning of learning is a metacognitive process that merges technical proficiency with moral maturity (wisdom). The philosophy of education acts as a moral and intellectual regulator, ensuring that technology serves the ultimate goal of education: the holistic development of human beings.
Inclusive Education as a Manifestation of the Value of Mercy in Islamic Education Bagus Jordan; Bagas Agamy Bakti; Muhammad Syahrul Hidayatullah Pasaribu; Herlini Puspika Sari
Cendekiawan : Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol 5 No 1 (2026): March: Multiple Intelligences of Students in Formal, Informal, and Nonformal Educ
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/cendekiawan.v5i1.550

Abstract

This study aims to formulate a theoretical model regarding the relevance and strategic role of educational philosophy in redefining the meaning of learning amidst the dominance of digital technology. The central issue is how educational philosophy can offer a robust conceptual framework for navigating rather than simply exploiting the digital ecosystem. This study uses a qualitative approach with library research methods, focusing on philosophical-conceptual analysis. The research findings show that technology triggers a shift in the meaning of learning from merely a one-way transfer of information to an active process of knowledge construction (constructivism), so that the role of teachers is transformed into critical facilitators. The relevance of the core of philosophy, including axiology, epistemology, and ontology, is becoming increasingly stronger. Epistemology serves as a bulwark against the “Digital Truth Crisis” by demanding critical literacy, while axiology provides a moral compass for issues of digital ethics. In its synthesis, the meaning of enriched learning is a metacognitive process that combines technical skills with moral maturity (wisdom). Educational philosophy plays a moral and intellectual role that ensures that technology remains within the corridor of the main goal of education: holistic human development.
TANTANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENGHADAPI ERA DIGITAL Intan Probowati; Nova Mulyani; Rizky Azzahra; Herlini Puspika Sari
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 4 (2025): APRIL 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan era digital membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan besar dalam beradaptasi dengan kemajuan teknologi agar tetap relevan dan kompetitif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi era digital serta strategi yang dapat diterapkan untuk mengatasinya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui studi literatur dan wawancara dengan para pendidik di lembaga pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama yang dihadapi meliputi kesiapan infrastruktur teknologi, keterampilan digital tenaga pendidik, serta penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan zaman. Selain itu, terdapat kekhawatiran terhadap dampak negatif digitalisasi terhadap nilai-nilai keislaman dalam pembelajaran. Untuk mengatasi tantangan ini, lembaga pendidikan Islam perlu mengadopsi teknologi secara bijak, meningkatkan literasi digital bagi pendidik dan peserta didik, serta mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai Islam. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa meskipun era digital membawa tantangan, dengan strategi yang tepat, lembaga pendidikan Islam dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas jangkauan dakwah Islam.