Refrigeran R22 telah lama digunakan pada sistem pendingin industri dan komersial karena memiliki karakteristik termodinamika yang baik. Namun, R22 termasuk refrigeran HCFC yang memiliki Ozone Depletion Potential (ODP) dan Global Warming Potential (GWP) sebesar 1760, sehingga penggunaannya dihentikan secara bertahap sesuai Protokol Montreal. Salah satu alternatif yang potensial adalah amonia (R717), yang memiliki ODP nol, GWP mendekati nol, serta performa termodinamika yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kelayakan teknis, ekonomi, dan lingkungan penggunaan R717 sebagai pengganti R22 pada sistem pendingin Plant Dry Ice Expanded Tobacco (DIET). Metode penelitian menggunakan studi literatur dan analisis data sekunder terhadap sifat termodinamika refrigeran, kinerja sistem pendingin yang meliputi Coefficient of Performance (COP), kapasitas pendinginan, konsumsi energi, serta aspek keselamatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan R717 meningkatkan COP sebesar 4,6% dan kapasitas pendinginan sebesar 5,5%, sehingga menghasilkan efisiensi energi yang lebih tinggi dibandingkan R22. Dari aspek ekonomi, diperoleh potensi penghematan biaya operasional sekitar Rp85 juta per tahun dengan payback period selama 11 tahun. Meskipun R717 memiliki sifat toksik dan korosif, penerapannya tetap layak dilakukan dengan memperhatikan desain sistem, pemilihan material, dan penerapan standar keselamatan yang memadai. Secara keseluruhan, R717 merupakan alternatif yang layak menggantikan R22 dari aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan.