Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pekalongan City of Batik: Expression Of Acculturation And Characteristics Diversity: English Yusril Bariki Yusril; Nur Afifah
Kawalu: Journal of Local Culture Vol. 10 No. 01 (2023): January-June 2023
Publisher : Laboratorium Bantenologi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/kwl.v10i01.7873

Abstract

Cultural issues have become a hot topic of discussion in today's society. The usage of batik and the identity should the young people to experience several acculturation problems. This study tries to explain Pekalongan's identity as a city of batik as well as the significance in it. With the use of literature reviews, analyses, and theories supporting acculturation and batik identity, the method of library research is applied to investigate field data. The results revealed that Pekalongan City is a city of batik, that it is actually known as The World City of batik, and that the current batik designs explain what acculturation and diversity of traits entail. This region is home to six distinct types of batik: Batik jlamprang, which conveys the idea that Muslim culture still upholds each other's friendships and lives in harmony; cement batik, which represents a life that can expand, grow, and blossom into a morewealthy life. Bright moon batik This motif's meaning is that everything will always turn out well or perfectly when it should; Seven different types of batik are a representation of the fusion of Javanese and Chinese cultures. The Seven Shapes motif, which means a manifestation of the many abilities of creatures that are united in themselves, demonstrates the wealth of the Pekalongan region. Batik Liong, which means a symbol of power, and Sawat Batik, which means to safeguard. It is clear that the city of Pekalongan has a pluralistic acculturation character based on the local motifs.
Peningkatan Softskill Kewirausahaan dengan Pelatihan Buket untuk Mahasiswa UIN Gus Dur Pekalongan Tara Septiarani; Sapna Khoiriyah; Nur Afifah; Tariq Tazaka; Ferida Rahmawati
Khidmah Nusantara Vol. 2 No. 2 (2026): Februari 2026
Publisher : CV.RIZANIA MEDIA PRATAMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69533/vm1dgd56

Abstract

Mahasiswa umumnya mengalami defisit dalam penguasaan soft skill, khususnya kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi interpersonal. Pelatihan buket berpotensi menjadi intervensi yang efektif untuk mengembangkan kompetensi tersebut melalui pendekatan praktis dan partisipatif. efektivitas pelatihan pembuatan buket dalam meningkatkan softskill kewirausahaan di kalangan mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, khususnya bagi penerima beasiswa BIDIKMISI-KIP Kuliah. Penelitian ini dilatar belakangi oleh tanggung jawab moral mahasiswa penerima beasiswa untuk menjadi agen perubahan dan mengembangkan kemandirian ekonomi. Metode yang digunakan adalah pengabdian kepada masyarakat dengan pendekatan partisipatif, yang melibatkan mahasiswa secara aktif dalam seluruh tahapan kegiatan: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Persiapan meliputi penyusunan tim pelaksana, kerja sama dengan pihak kampus, dan analisis kebutuhan untuk menyesuaikan pelatihan dengan minat mahasiswa. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam beberapa aspek softskill kewirausahaan mahasiswa yaitu kreativitas, inovasi, kerja sama tim, kepercayaan diri dan mindset kewirausahaan. Sebagai kesimpulan, pelatihan ini tidak hanya berhasil meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga memberikan pengalaman sosial dan emosional yang penting bagi mahasiswa. Pendekatan yang menyenangkan dan partisipatif sangat sesuai untuk generasi muda saat ini. Kegiatan ini memberikan kontribusi positif dalam menciptakan mahasiswa yang mandiri secara finansial dan mampu memberdayakan sesama. Pelatihan ini tidak hanya mengasah keterampilan teknis dalam merangkai buket, tetapi juga memberikan pengalaman sosial dan emosional yang relevan bagi pengembangan karakter dan kompetensi interpersonal. Pendekatan yang menyenangkan, interaktif, dan berbasis praktik terbukti efektif dalam menjangkau generasi muda yang cenderung responsif terhadap pembelajaran nonformal. Secara lebih luas, kegiatan ini memberikan kontribusi positif dalam membentuk mahasiswa yang mandiri secara finansial, memiliki jiwa wirausaha, serta mampu memberdayakan masyarakat di sekitarnya yang sejalan dengan nilai-nilai kewirausahaan dan tanggung jawab sosial dalam konteks pendidikan tinggi.