Jordy Oktobiannobel
Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERBEDAAN KADAR SATURASI OKSIGEN PADA SISWA KELAS 6 SD PEROKOK AKTIF, PEROKOK PASIF DAN BUKAN PEROKOK DI KABUPATEN PRINGSEWU Retno Ariza Soeprihatini Soemarwoto; Fransisca Sinaga; Jordy Oktobiannobel; Khamid Ali Shodikin
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 7 (2023): Volume 10 Nomor 7
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i7.10807

Abstract

Abstrak Perbedaan Kadar Saturasi Oksigen Pada Siswa Kelas 6 SD Perokok Aktif, Perokok Pasif Dan Bukan Perokok Di Kabupaten Pringsewu. Merokok merupakan kebiasaan yang dapat merusak kesehatan dan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit yang dapat berakibat kepada terjadinya morbiditas maupun mortalitas. Merokok merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya penurunan saturasi oksigen dalam aliran darah. Di kalangan remaja saat ini, merokok bisa dikatakan sebagai kebiasaan yang wajar. Bahkan di mata perokok, menganggap bahwa laki yang tidak merokok seperti seorang pecundang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara kadar Oksigen (O2) pada anak SD perokok aktif, perokok pasif dan bukan perokok di Kabupaten Pringsewu. Penelitian yang dilakukan ini menggunakan metode penelitian observasi analitik dengan pendekatan pengambilan data cross sectional. sampel penelitian ini adalah 379 siswa dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode cluster random sampling. Analisa data menggunakan analisis deskriptif. Terdapat perbedaan kadar saturasi perokok aktif, perokok pasif dan bukan perokok dengan hasil rata-rata kadar saturasi oksigen pada perokok aktif adalah 98,05%, perokok pasif 98,48% dan pada bukan perokok 98,40%. Terdapat perbedaan kadar saturasi pada perokok aktif, pasif dan bukan perokok pada siswa kelas 6 SD di Kabupaten Pringsewu.
Gambaran Skoring Kuesioner Puma Dengan Peak Flow Meter Pada Petugas Keamanan Di RSUD DR. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Marlina Apriliani Harahap; Retno Ariza Soeprihatini Soemarwoto; Fransisca Tarida Yuniar Sinaga; Sandhy Arya Pratama; Jordy Oktobiannobel
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2026): Volume 13 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i1.20708

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan global yang dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian. Banyak kasus PPOK tidak terdiagnosis, terutama di layanan kesehatan primer, karena gejala yang ringan atau tidak muncul sama sekali. Kuesioner PUMA adalah alat skrining sederhana dan efektif untuk mengidentifikasi individu dengan risiko tinggi PPOK. Selain itu, pengukuran fungsi paru menggunakan peak flow meter dapat mendukung deteksi dini. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan skor kuesioner PUMA dengan hasil pengukuran laju ekspirasi puncak (APE) pada petugas keamanan di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Sebanyak 63 orang menjadi partisipan dalam studi kuantitatif dengan desain potong lintang ini. Data dikumpulkan melalui kuesioner PUMA dan pemeriksaan APE menggunakan peak flow meter. Hasil menunjukkan bahwa 32 orang (50,8%) memperoleh skor 1 pada kuesioner PUMA, 21 orang (33,3%) skor 2, 8 orang (12,7%) skor 3, dan 2 orang (3,2%) skor 4. Berdasarkan APE, sebanyak 24 orang (38,1%) memiliki nilai normal, 2 orang (3,2%) memiliki nilai 50% dari normal, dan 37 orang (58,7%) berada pada kisaran 50%–80% dari nilai normal. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar petugas keamanan berisiko mengalami gangguan fungsi paru, sehingga penting dilakukan skrining dan pencegahan sejak dini pada kelompok pekerja beresiko.
Gambaran Skoring Puma Dan Skoring Mmrc Pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Di Pringsewu Galuh Pravitasari; Retno Ariza Soeprihatini Soemarwoto; Apri Lyanda; Deviani Utami; Jordy Oktobiannobel; Dwi Robbiardy Eksa; Hetty Rusmini
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 8 (2026): Volume 13 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i8.26325

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronik progresif yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara persisten dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas serta mortalitas di dunia. Deteksi dini dan penilaian gejala penting dilakukan dalam penatalaksanaan PPOK. Kuesioner Proyecto Latinoamericano de Investigación en Obstrucción Pulmonar (PUMA) digunakan sebagai alat skrining risiko PPOK, sedangkan modified Medical Research Council (mMRC) digunakan untuk menilai derajat sesak napas pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran skoring PUMA dan skoring mMRC pada pasien PPOK di Pringsewu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di Klinik Harum Melati Pringsewu menggunakan data rekam medis pasien PPOK periode 1 Januari 2024 hingga 28 Februari 2026. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 170 pasien. Analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi serta persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi skoring PUMA terbanyak terdapat pada skoring 6 sebanyak 66 pasien (38,8%), diikuti skoring 7 sebanyak 42 pasien (24,7%) dan skoring 5 sebanyak 40 pasien (23,5%). Berdasarkan skoring mMRC, mayoritas pasien berada pada skoring 3 sebanyak 72 pasien (42,4%), diikuti skoring 4 sebanyak 50 pasien (29,4%), skoring 2 sebanyak 42 pasien (24,7%), dan skoring 1 sebanyak 6 pasien (3,5%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien PPOK di Pringsewu memiliki skoring PUMA yang menunjukkan risiko PPOK tinggi serta derajat sesak napas mMRC kategori sedang hingga berat. Penerapan skrining PUMA dan mMRC secara rutin di layanan primer dapat membantu mengidentifikasi risiko PPOK dan derajat sesak napas secara lebih dini.