Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Semiotika Pesan Moral Film Dua Garis Biru karya Gina S. Noer Nadira Hajarani; Rifa Aisa Nabillah; Sella Noviyah Ramadhani; Weni Adityasning Arindawati
Journalism, Public Relation and Media Communication Studies Journal (JPRMEDCOM) Vol 4 No 2 (2022): JPRMEDCOM
Publisher : Journalism, Public Relation and Media Communication Studies Journal (JPRMEDCOM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/jprmedcom.v4i2.8242

Abstract

The film “Dua Garis Biru” is a romantic drama film by Ginatri S. Noer which will be shown in Indonesian cinemas in 2019. It tells of a pair of high school student lovers who have free sex and end in pregnancies outside of marriage, to the importance of the role of parents and the environment in growing up. child flower. This film can open our eyes about the importance of sexual education from an early age, psychology of adolescents & communication between family members. This study uses a qualitative study with technical content analysis. This study will analyze the moral message about early marriage in "Dua Garis Biru" where, the contents of the message contained in this film will be observed, both verbal and nonverbal moral messages. This research uses qualitative descriptive research with research methods that use Charles Sanders Pierce's semiotic analysis with a constructivist paradigm. This method is used in order to help the public to see and interpret the signs of a film, that from the film "Dua Garis Biru" it can be seen what moral messages are obtained through the signs. Keywords: Film, Semiotics, Moral Message, Constructive Paradigm.
KONSTRUKSI MAKNA TEMPAT TINGGAL BAGI WARGA WILAYAH RAWAN BANJIR: SEBUAH KAJIAN FENOMENOLOGI DI DESA KARANGLIGAR, KABUPATEN KARAWANG Sella Noviyah Ramadhani; Mayasari Mayasari; Reddy Anggara
KENDALI: Economics and Social Humanities Vol. 4 No. 3 (2026): KENDALI: Economics and Social Sciences Humanities, Maret 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/kendali.v4i3.1323

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena warga yang tetap bertahan di Desa Karangligar, Kabupaten Karawang, meskipun wilayah tersebut mengalami banjir berulang akibat luapan Sungai Cibeet dan Citarum dengan intensitas mencapai lebih dari dua puluh kali dalam setahun. Pertanyaan penelitian dirumuskan untuk mengungkap motif warga tetap bertahan dan tidak melakukan relokasi, mendeskripsikan makna tempat tinggal yang mereka konstruksi, serta menganalisis bagaimana pengalaman hidup menghadapi banjir berulang membentuk konstruksi makna terhadap tempat tinggal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi terstruktur, observasi partisipan moderat, dan studi dokumentasi. Dua informan dipilih secara purposif dari Desa Karangligar Ibu Indah (warga dan pemilik warung) dan Ibu Bocih (Ketua RT) dengan kriteria pernah mengalami dampak langsung banjir, tinggal minimal lima tahun, dan bersedia menceritakan pengalaman secara terbuka. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang diverifikasi dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan bertahan didorong oleh because motive yang bersumber dari pengalaman masa lalu (rumah warisan, keterikatan emosional sejak lahir, ingatan akan kondisi bebas banjir di masa kecil, dan pengalaman adaptasi selama empat puluh tahun) serta in order to motive yang berorientasi pada tujuan masa depan (keberlangsungan ekonomi keluarga melalui usaha warung, stabilitas pendidikan anak, dan harapan terhadap perbaikan infrastruktur pemerintah). Makna tempat tinggal dikonstruksi secara multidimensional sebagai ruang emosional dan kelekatan keluarga yang menyimpan sejarah hidup lintas generasi, simbol identitas dan keberlangsungan hidup yang merepresentasikan warisan leluhur, ruang solidaritas dan jejaring kekerabatan yang memperkuat ikatan komunitas, ruang adaptasi dan ketahanan dalam menghadapi bencana berulang, serta ruang ambivalen yang dicintai sekaligus menjadi sumber kerentanan. Simpulan penelitian menegaskan bahwa tindakan bertahan di wilayah rawan banjir merupakan tindakan sosial yang rasional dan bermakna, bukan semata bentuk keterpaksaan. Pengalaman banjir berulang tidak melahirkan keputusasaan, melainkan membentuk kesadaran reflektif dan strategi adaptif yang justru memperkuat keterikatan warga terhadap tempat tinggalnya.