Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kesiapan Masyarakat Kecamatan Langgam terhadap Pembangunan Kawasan Techno Park Pelalawan Azzi Muhammad Arkan; Tarlani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8734

Abstract

Abstract. One of the 100 Techno Parks that have been planned by the central government is in Pelalawan Regency in which a palm oil downstream industry will be built and making the Pelalawan Techno Park is largest Techno Park Area in Indonesia today with an area of 4.380 hectares, this is in accordance with the potential owned by Pelalawan Regency, namely oil palm as its mainstay commodity. Development is closely related to the readiness of the community, in this case the readiness of the community in Langgam District in facing the development of the Pelalawan Techno Park Area. If the community is not ready to face the existing development, it will affect the condition of the community itself. This studi used a quantitative approach with analysis of community readiness model (CRM) which was used to identify the level of community readiness in Langgam District through interviews with 11 key respondents. This study uses a quantitative approach with descriptive statistical analysis to identify the impacts arising from the development of the Techno Park Area and analysis of the community readiness model (CRM) which is used to identify the level of community readiness in Langgam District. Based on the results of the analysis that has been carried out, readiness of community in Langgam District for development of Pelalawan Techno Park Area is at level 6 of 9 levels of community readiness, initation. In initation stage marked by existence of sufficient information abaout effort is available at least most of the community has basic knowledge of the effort, the leader plays a key role in planning the effort, the community begins to get involved in handling existing problems because it is their responsibilitu, the resource used to support new efforts obtained, but tis action that have been taken and are ongoing are still seen as new ventures. Abstrak. Salah satu dari 100 Techno Park yang telah direncanakan oleh pemerintah pusat berada di Kabupaten Pelalawan yang didalamnya akan dibangun industri hilirisasi kelapa sawit dan menjadikan Techno Park Pelalawan sebagai Kawasan Techno Park terluas di Indonesia saat ini dengan luas wilayah mencapai 4.380 hektar, hal tersebut sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Pelalawan yaitu kelapa sawit sebagai komoditi andalannya. Pembangunan erat kaitannya dengan kesiapan masyarakat dalam hal ini kesiapan masyarakat di Kecamatan Langgam dalam menghadapi pembangunan Kawasan Techno Park Pelalawan. Jika masyarakat tidak siap menghadapi pembangunan yang ada, maka akan mempengaruhi kondisi masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kesiapan masyarakat di Kecamatan Langgam terdahap pembangunan Kawasan Techno Park Pelalawan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dengan analisis community readiness model (CRM) yang digunakan untuk mengidentifikasi tingkat kesiapan masyarakat di Kecamatan Langgam melalui wawancara kepada 11 responden kunci. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, kesiapan masyarakat di Kecamatan terhadap pembangunan Kawasan Techno Park Pelalawan berada pada tingkatan ke 6 dari 9 tingkat kesiapan masyarakat yaitu initiation. Tahap initiation ditandai dengan keberadaan informasi mengenai upaya sudah cukup tersedia setidaknya sebagian besar masyarakat memiliki pengetahuan dasar akan upaya, pemimpin berperan kunci untuk merencanakan upaya, masyarakat mulai terlibat dalam penanganan masalah yang ada karena merupakan tanggung jawab mereka, sumber daya yang digunakan untuk mendukung upaya baru diperoleh, namun tindakan yang telah dilakukan dan sedang berlangsung masih dipandang sebagai usaha yang baru.
Pengaruh Ekosistem terhadap Pembiayaan Heritage di Kota Lama Tangerang Muhamad Fahri Al Hakim; Imam Indratno; Tarlani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8882

Abstract

Abstract. Heritage area located in the City of Tangerang. This area holds a lot of history in it, such as the history of the Chinese nation and the Islamic community that developed since the 80th century. This historical character is not accompanied by complex conservation efforts so that gradually the Old City of Tangerang experiences a degradation of historical values, the influencing factor is budget constraints. One way that is considered to be an alternative financing is to apply Land Value Capture as a measurement instrument in heritage areas from an ecosystem perspective through Structural Equation Modeling. This measurement is able to identify the relationships that affect the land values and heritage ecosystems that make up the Old City Area of Tangerang. The final results show that there is a strong relationship between land value and heritage ecosystem on the development of the Kota Lama Tangerang heritage area. This research has a novelty in its implementation, because the application of Land Value Capture to heritage areas with cases in Indonesia has not been carried out by anyone, so this research is able to co. Abstrak. Kawasan heritage yang berada di Kota Tangerang. Kawasan ini menyimpan banyak sejarah didalamnya, seperti sejarah bangsa cina dan masyarakat islam yang berkembang sejak abad-80. Karakter sejarah tersebut tidak diiringi dengan tupaya konservasi yang kompleks sehingga lambat laun Kota Lama Tangerang mengalami degradasi value sejarah, faktor yang mempengaruhinya yaitu keterbatasan anggaran. Salah satu cara yang dinilai dapat menjadi alternative pembiayaan adalah dengan menerapkan Land Value Capture sebagai instrument pengukuran pada Kawasan heritage dari perspektif ekosistem melalui pemodelan structural equational modelling. pengukuran ini mampu mengidentifikasi hubungan yang mempengaruhi land value dan ekosistem heritage yang membentuk Kawasan Kota Lama Tangerang. Hasil akhir menunjukan bahwa adanya hubungan yang kuat antara land value dan ekosistem heritage terhadap pengembangan Kawasan heritage Kota Lama Tangerang. Penelitian ini memiliki kebaharuan dalam pelaksanaannya, karena penerapan land value capture terhadap Kawasan heritage dengan kasus di Indonesia belum dilakukan oleh siapapun, sehingga penelitian ini mampu berkontribusi terhadap peningkatan wawasan land value capture dalam lingkup yang lebih luas.