Ignatius Suksmadi Sutoyo
Universitas Jenderal Soedirman

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANAK MISKIN BOLEH SEKOLAH Mintarti Mintarti; Tri Rini Widyastuti; Ignatius Suksmadi Sutoyo
Hermeneutika : Jurnal Hermeneutika Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Pendidikan Sosiologi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/hermeneutika.v9i1.19171

Abstract

Penelitian ini bertujuan menunjukkan pengalaman bersekolah siswa miskin di sekolah alternatif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif berdasar data lapangan. Penelitian dilakukan di sebuah sekolah alternatif setingkat SMP, yaitu MTs PAKIS, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Partisipan penelitian berjumlah 10 orang, terdiri atas siswa, orang tua, dan pengelola sekolah. Pengumpulan data dilakukan saat pandemi Covid-19 sedang mencapai puncaknya. Oleh karena itu, wawancara dilakukan secara daring melalui Google-Meet dan dilanjutkan secara langsung ke lapangan dengan menerapkan protokol kesehatan. Data dianalisis melalui tahap sajian data berupa restatement kutipan hasil wawancara, diinterpretasikan, lalu ditarik kesimpulan sementara. Proses ini bersifat ongoing sampai didapatkan kesimpulan akhir.            Hasil penelitian menunjukkan, pengabaian hak atas pendidikan mewujud dalam berbagai problem kompleks yang muncul di masyarakat yang telah dicoba atasi dengan mendirikan sekolah berbasis agroforestry tidak berbayar setingkat SMP. Keberadaan sekolah ini memungkinkan anak-anak miskin dapat mengakses pendidikan tanpa tercerabut dari lingkungannya serta memberi mereka pengalaman bersekolah. Pengalaman itu menumbuhkan semangat dan motivasi belajar tanpa kehilangan keceriaan dan kegembiraan sebagai anak-anak. Hal itu juga menumbuhkan rasa percaya diri, berani bercita-cita dan membayangkan masa depan yang lebih baik yang merupakan modal awal untuk keluar dari kemiskinan. Temuan penelitian ini dapat mengisi celah kekosongan dalam kajian sosiologi pendidikan khususnya mengenai praktik pendidikan alternatif sebagai bagian dari pendidikan berparadigma kritis, terutama yang bersumber dari gagasan Paulo Freire tentang pendidikan hadap masalah. Model pendidikan ini bersifat emansipatoris yang menjadikan siswa sebagai subjek belajar, tidak sekadar sebagai objek sebagaimana dalam model pendidikan konvensional yang oleh Freire disebut sebagai pendidikan “gaya bank”.Kata Kunci: akses pendidikan; hak pendidikan; pengalaman bersekolah; siswa miskin.
TRADISI DAN TEKNOLOGI: ADAPTASI RESIPROSITAS SOSIAL DALAM UNDANGAN DIGITAL Muhammad Ihsan Aulia Rahman; Soetji Lestari; Ignatius Suksmadi Sutoyo
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 9 (2025): Nusantara : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i9.2025.3681-3693

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perspektif generasi Z dalam memaknai resiprositas pada tradisi kondangan Kuningan di era digital. Fenomena ini penting dikaji sejak kemunculan undangan digital yang merubah pola-pola konvensional di tradisi kondangan Kuningan. Hal tersebut menjadi dinamika tersendiri dalam menjalankan hubungan resiprositas generasi Z. Teori yang digunakan dalam menganalisis hasil penelitian adalah teori pemberian yang diprakarsai Marcel Mauss. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melaui observasi non-partisipan, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan metode snowball sampling. Proses dimulai dengan satu informan kunci yang kemudian merekomendasikan informan lain, sehingga terbentuk jaringan responden secara bertahap. Fokus utama seleksi informan adalah individu dari Generasi Z yang telah terlibat langsung dalam praktik resiprositas pada tradisi kondangan, dengan kriteria telah memiliki pengalaman sebagai pemberi maupun penerima. Dari sepuluh individu yang diwawancarai, hanya empat informan yang memenuhi kriteria selektif, yakni kesesuaian usia, pengalaman empirik, serta pemahaman terhadap konteks tradisi yang diteliti. Teknik analisis data dengan menggunakan skema analisis Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukan bahwa undangan digital semakin masif khususnya di kalangan generasi Z. Timbulnya undangan digital merubah pola resiprositas pada tradisi kondangan Kuningan jadi lebih bersifat investasi dan transaksional.