Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENINGKATAN KEMAMPUAN WIRAUSAHA SISWA SMK MELALUI PEMBUATAN SEDIAAN GEL SAMPO ANTI KETOMBE MENGGUNAKAN BAHAN ALAM DARI MINYAK ATSIRI Anayanti Arianto; Nazliniwaty Nazliniwaty; Lia Laila; Bayu Eko Prasetyo; Widya Sari Madina Hasibuan; Vanessa Angkasa
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 8 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i8.2612-2618

Abstract

Saat ini serapan tenaga kerja dari lulusan Sekolah  Menengah Kejuruan (SMK) sangat minim, termasuk lulusan dari SMK Farmasi. Oleh karena itu, diperlukan solusi dalam mengurangi jumlah pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja sendiri atau berwirausaha.  Wirausaha memiliki peranan penting dalam kehidupan bernegara, salah satunya adalah dalam sektor ketenagakerjaan. Wirausaha yang sesuai dengan keahlian dan keilmuan di SMK Farmasi adalah pembuatan produk atau sediaan yang terkait dengan kefarmasian. Salah satu produk yang dapat dikembangkan adalah produk sampo anti ketombe yang menggunakan zat aktif alami sehingga dapat menarik perhatian pasar karena tingginya minat masyarakat terhadap produk berbahan dasar alami.  Kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah dilakukan dengan memberikan edukasi dan pelatihan pembuatan sampo anti ketombe dalam bentuk sediaan gel serta materi tentang kewirausahaan kepada para siswa SMK Farmasi YPFSU Medan. Hasil analisa angket menunjukkan kegiatan pengabdian yang dilaksanakan di SMK Farmasi YPFSU Medan memberikan manfaat dan meningkatkan 72.15% pengetahuan siswa terkait pembuatan sampo anti ketombe dan kewirausahaan.
Formulasi Nanogel Kuersetin dan Evaluasi Stabilitas Fisik, Aktivitas Anti-Inflamasi Pada Tikus Yang Diinduksi Oleh Karagenan Arfayani Isna; Anayanti Arianto; Urip Harahap
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.50816

Abstract

Inflamasi merupakan suatu respon jaringan terhadap rangsangan fisik atau kimiawi yang merusak. Rangsangan ini menyebabkan lepasnya mediator inflamasi yang menimbulkan reaksi radang berupa panas, nyeri, merah, bengkak dan disertai gangguan fungsi. Salah satu zat aktif yang dapat menghambat infiltrasi neutrofil dan mengurangi kadar plasma sitokin inflamasi adalah quersetin. Quercetin juga memiliki fungsi sebagai antioksidan. Dalam penelitian ini quersetin dibuat sediaan nanogel. Kelebihan nanogel lebih mudah penetrasi kedalam kulit sehingga efektivitas antiinflamasinya lebih baik. Untuk mengetahui konsetrasi quersetin dapat diformulasi menjadi nanogel dengan menggunakan karbopol 940 sebagai bahan pembentuk gel serta mennguji memenuhi syarat karakteristik dari gel dan menguji efektivitas anti-inflamasi pada kaki tikus yang diinduksi karagenan. Quersetin dengan konsentrasi 0,06%, 0,08%, dan 0,1% diformulasikan menjadi sediaan nanogel. Diuji aktivitas anti-inflamasi pada tikus yang diinjeksikan dengan karagenan 1% untuk mengetahui dosis topikal yang efektif. Tahap awal formulasi adalah pembuatan nanosuspensi dengan konsentrasi quersetin 0,06g (F1), 0,08g (F2), 0,1g (F3). Nanosuspensi ditambahkan kedalam basis gel dengan pengadukan menggunakan homogenizer untuk mendapatkan nanogel. Nanogel dievaluasi stabilitas fisik dengan penyimpanan pada berbagai suhu selama 12 minggu dan cycling test. Setelah itu diuji anti-inflamasinya pada tikus dibandingkan dengan voltaren emulgel. Nanogel quersetin stabil selama penyimpanan 12 minggu dari organoleptis, homogenitas, pH (4,5-6,0), viskositas (7031-9894 m.Pa.s), daya sebar (4,5-7,1 cm2), ukuran partikel (40-70nm). Efek anti-inflamasi nanogel F3 menunjukan adanya penghambat anti-inflamasi 80,87±3.70%. Berdasarkan hasi penelitian ini nanogel quersetin yang memiliki aktivitas anti -inflamasi pada tikus yang lebih efektif adalah pada konsetrasi quersetin 0,1% (F3) pada tikus dibanding F1 dan F2. kata kunci : quersetin, nanogel, anti-inflamasi Abstract Inflammation is a tissue response to damaging physical or chemical stimuli. This stimulus causes the release of inflammatory mediators, which cause an inflammatory reaction in the form of heat, pain, redness, swelling, and impaired function. One active substance that can inhibit neutrophil infiltration and reduce plasma levels of inflammatory cytokines is quercetin. Quercetin also functions as an antioxidant. In this study, quercetin was made into a nanogel preparation. The advantage of nanogel is that it penetrates the skin more easily, thus improving its anti-inflammatory effectiveness. To determine the concentration of quercetin that can be formulated into nanogel using carbopol 940 as a gel-forming agent and to test whether it meets the characteristics of the gel and to test the anti-inflammatory effectiveness on carrageenan-induced rat paws. Quercetin with concentrations of 0.06%, 0.08%, and 0.1% was formulated into nanogel preparations. Anti-inflammatory activity was tested in mice injected with 1% carrageenan to determine the effective topical dose. The initial stage of the formulation was the preparation of nanosuspensions with quercetin concentrations of 0.06g (F1), 0.08g (F2), 0.1g (F3). The nanosuspensions were added to the gel base with stirring using a homogenizer to obtain nanogels. The nanogels were evaluated for physical stability by storage at various temperatures for 12 weeks and cycling tests. After that, their anti-inflammatory properties were tested in mice compared to voltaren emulgel. Quercetin nanogel was stable during 12 weeks of storage from organoleptic, homogeneity, pH (4.5-6.0), viscosity (7031-9894 m.Pa.s), spreadability (4.5-7.1 cm2), particle size (40-70nm). The anti-inflammatory effect of F3 nanogel showed an anti-inflammatory inhibitor of 80.87±3.70%. Based on the results of this study, quercetin nanogel which has more effective anti-inflammatory activity in mice is at a quercetin concentration of 0.1% (F3) in mice compared to F1 and F2.