Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

KAJIAN SEMIOTIKA PADA VISUALISASI TOKOH ALL MIGHT DALAM MANGA BOKU NO HERO ACADEMIA SEBAGAI REPRESENTASI SUPERHERO AMERIKA I Gusti Bagus Bayu Baruna Ariesta; Made Vairagya Yogantari; Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha
Jurnal Nawala Visual Vol 1 No 2 (2019): Jurnal Nawala Visual Oktober 2019
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/nawalavisual.v1i2.40

Abstract

Delivering a story through visual comic characters can make it easier for readers to understand the contents and distinguish one character from another. Not only as a distinguishing element, but visualization of comic characters can represent areas where the visual is commonly used and found. In the comic titled Boku No Hero Academia (BNHA) found elements and terms that are commonly found in comics and American superhero characters in general, one of them through the All Might character. Through qualitative research methods, with data collection techniques through observation, literature, and internet studies, this paper aims to examine how the characters of All Might represent American superheroes through his visuals.
Refleksi Situasi Sosial Budaya Masyarakat Bali Melalui Analisa Film Dokumenter Karya Mahasiswa/I IDB Bali Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha; Ramanda Dimas Surya Dinata
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 2 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i2.745

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis film dokumenter yang dikaitkan dengan situasi sosial budaya masyarakat Bali saat ini. Film dokumenter mampu merangkum catatan yang dapat memperlihatkan keseluruhan malalui sebuah karya dan dapat dinikmati oleh orang banyak. Catatan yang dimaksud ialah sebuah film dokumenter, nilai lebih dari sebuah film dokumenter yaitu dapat menarik minat audiens untuk peduli terhadap kebudayaan Bali, dan juga dapat dijadikan media pembelajaran. Dari segi kuantitas dan kualitas, cukup banyak informasi yang dapat dirangkum ke dalam bentuk film dokumenter, nilai-nilai yang tersirat lebih cepat ditangkap karena adanya kelebihan dari sisi audio dan visual. Lima Film Dokumenter, mulai dari Film Dokumenter Pengrajin Gamelan Bali, Film Dokumenter Kopi Zeen, Film Dokumenter Pengrajin Makrame, Film Dokumenter Seniman Papan Lukis, Dan Film Dokumenter LYS memiliki kaitan yang erat dengan situasi sosial dan budaya masyarakat Bali saat ini. Nilai-nilai yang mapan selama ini telah mengalami perubahan yang pada gilirannya menimbulkan keresahan psikologis dan krisis identitas di banyak kalangan masyarakat Bali. Dalam hal ini sangat penting jika tidak menutup diri dari perkembangam zaman saat ini, masuknya budaya modern menjadikan generasi muda untuk mampu beradaptasi tanpa menghilangkan budaya sendiri. Adaptasi ini dilakukan dengan tetap mengikuti perkembangan zaman dan senantiasa melestarikan budaya yang sudah ada sebelumnya.
MAKNA ELEMEN VISUAL MASKOT “CURIK” PORPROV BALI XV TAHUN 2022 Ni Wayan Nandaryani; Ngurah Adhi Santosa; Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha
Jurnal Nawala Visual Vol 5 No 2 (2023): Jurnal Navala Visual Oktober 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/nawalavisual.v5i2.516

Abstract

Pekan Olah Raga Provinsi atau Porprov merupakan sebuah ajang kejuaraan olahraga tingkat daerah yang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali. Pada tahun 2022 untuk pertama kalinya Porprov Bali dilaksanakan secara gotong royong. Dalam rangka Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali ke XV, Gubernur Bali melaunching maskot untuk Porprov Bali XV Tahun 2022, maskot tersebut di beri nama “Curik”. Maskot “Curik” pada Porprov Bali XV sangat menarik karena visual ditampilkan secara modern tetapi tetap memperhatikan kearifan budaya lokal. Pada visual maskot menggunakan burung jalak bali atau curik putih yang merupakan hewan endemik Bali dan dipadukan dengan simbol atau benda yang erat kaitannya dengan budaya Bali. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data observasi dan kepustakaan. Teori yang digunakan untuk menganalisa makna visual adalah teori semiotika Roland Barthes. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna visual baik secara denotasi maupun konotasi yang terdapat dalam maskot “Curik”. Hasil penelitian menunjukkan, makna pada maskot “Curik” dapat ditemukan dari objek maskot, warna, dan pakaian yang digunakan. Dari keseluruhan visual maskot mempunyai makna penuh energi, kebaikan, kalah menang, sportivitas dan semangat yang tidak pernah padam dalam meraih prestasi, dalam hal ini berkaitan dengan perhelatan acara olahraga Porprov Bali XV Tahun 2022.
PENERAPAN ILUSTRASI PROTOKOL KESEHATAN DALAM KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DI SD SARASWATI 2 DENPASAR Gede Lingga Ananta Kusuma Putra; Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha; Ni Wayan Nandaryani
Jurnal Lentera Widya Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Lentera Widya Desember 2021
Publisher : LPPM Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/lenterawidya.v3i1.276

Abstract

Ilustrasi merupakan bagian dari Keilmuan Desain Komunikasi Visual, khususnya bagi Dosen Institut Desain dan Bisnis Bali. Seorang dosen memiliki kewajiban untuk menerapkan bidang keahliannya dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dimasa pandemi ini banyak ditemukan himbauan mengenai protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran covid 19. Sekolah dasar merupakan tempat banyak anak melakukan aktivitas, baik belajar maupun bermain. Oleh karena itu Anak perlu diberikan informasi yang jelas dan menarik perhatian mereka untuk mengetahui informasi yang disajikan. Di sekolah dasar ada juga anak yang belum bisa membaca, sehingga perlu adanya bantuan ilustrasi dalam menyampaikan isi pesannya. Sehingga menggunakan Ilustrasi yang menarik dan dapat menampilkan sebuah aktivitas protokol kesehatan, dapat membantu anak untuk memahami isi dari informasi yang disampaikan
PEMANFAATAN KOMIK DIGITAL SEBAGAI SARANA BISNIS DIGITAL PADA MEDIA SOSIAL INSTAGRAM Gede Lingga Ananta Kusuma Putra; Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha
Jurnal Imagine Vol 1 No 2 (2021): Jurnal IMAGINE Nopember 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/imagine.v1i2.264

Abstract

Comics are increasingly being used as a means of doing business in today's era. Many companies, business entities and individuals do business through online media. The use of comics as a promotional medium in this digital era, of course, must pay attention to the advantages of using comics as a means of digital business. This study was conducted to determine the use of digital comics as a means of digital business on Instagram social media. The qualitative research method is carried out in an inductive way, namely examining the characteristics of each part in Digital Comics that is used as a Digital Business. The use of digital comics as a means of digital business is also a good choice, because by using digital comics the content will become more interesting because in the digital comics, illustrations and text balloons can be applied. Not only as an added attraction, but illustrations and text balloons can also be used as a means of delivering information in digital business activities.
Retorika Kuasa Menuju Budaya Resistensi Digital: Krisis Komunikasi Pejabat Indonesia pada Media Massa Yudha, Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma; Yogantari, Made Vairagya
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 8, No 2 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i2.362

Abstract

Abstract - Words are meant to serve as bridges, not walls. However, within the current landscape of political communication in Indonesia, public officials' statements often deepen the divide between the ruling power and the people. This study examines how state officials’ communication—through unequal and non-empathetic rhetoric—creates dissonance that erodes public trust. Employing a qualitative approach grounded in an interpretive-critical paradigm, this research analyzes ten official statements drawn from national media coverage in 2025, where political communication failed to respond to social realities in a just and humane manner. The theoretical framework employed includes Agenda Setting Theory, Symbolic Domination, and Crisis Communication. Critical discourse analysis is used to uncover hidden layers of meaning embedded in official rhetoric, dissect power relations, and understand the dynamics of social representation constructed within the digital public sphere. The findings reveal that the pattern of politically insensitive communication within Indonesia's current administration, as reflected in digital mass media, accelerates the degradation of governmental legitimacy, amplifies digital resistance, and widens the gap between the state and its citizens. In a world increasingly connected through technology, it is ironically fractured emotionally. This research serves as a reminder that genuine democracy can only flourish in a communicative space that is equal, honest, and empathetic—across both digital and physical platforms of information exchange.Keywords: political communication; social dissonance; crisis of representation; digital public sphere; civic resistance. Abstrak - Kata-kata seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Namun dalam lanskap komunikasi politik Indonesia hari ini, ujaran para pejabat sering kali membentang jurang antara kekuasaan dan rakyat. Penelitian ini membedah bagaimana komunikasi pejabat negara, melalui ujaran-ujaran yang timpang dan tidak empatik, menciptakan disonansi yang merusak kepercayaan publik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berparadigma interpretatif-kritis, penelitian ini menganalisis sepuluh pernyataan pejabat yang diambil dari pemberitaan media nasional dalam tahun 2025, di mana komunikasi politik gagal merespons kenyataan sosial secara adil dan manusiawi. Kerangka teori yang digunakan meliputi Teori Agenda Setting, Dominasi Simbolik dan Komunikasi Krisis. Metode analisis wacana kritis juga digunakan untuk menggali lapisan makna yang tersembunyi. Metode analisis wacana kritis digunakan untuk menggali lapisan makna yang tersembunyi di balik retorika pejabat, membedah relasi kuasa, serta memahami dinamika representasi sosial yang terbangun dalam ruang publik digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya pola komunikasi politik yang nir-sensitif pada pemerintahan Indonesia saat ini, yang tercermin melalui media massa digital, mempercepat degradasi legitimasi pemerintah, menguatkan resistensi digital, dan “memperlebar jarak” antara negara dan warganya. Di tengah dunia yang semakin terhubung secara teknologi, namun sayangnya, retak secara emosional. Penelitian ini menjadi pengingat bahwa demokrasi sejati hanya bisa tumbuh dalam ruang percakapan yang setara, jujur nan empatik. Dalam berbagai ruang penyaluran informasi baik secara digital maupun secara nyata.Kata kunci: komunikasi politik; disonansi sosial; krisis representasi; ruang publik digital; resistensi masyarakat.
Retorika Kuasa Menuju Budaya Resistensi Digital: Krisis Komunikasi Pejabat Indonesia pada Media Massa Yudha, Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma; Yogantari, Made Vairagya
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 8 No. 2 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i2.362

Abstract

Abstrak - Kata-kata seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Namun dalam lanskap komunikasi politik Indonesia hari ini, ujaran para pejabat sering kali membentang jurang antara kekuasaan dan rakyat. Penelitian ini membedah bagaimana komunikasi pejabat negara, melalui ujaran-ujaran yang timpang dan tidak empatik, menciptakan disonansi yang merusak kepercayaan publik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berparadigma interpretatif-kritis, penelitian ini menganalisis sepuluh pernyataan pejabat yang diambil dari pemberitaan media nasional dalam tahun 2025, di mana komunikasi politik gagal merespons kenyataan sosial secara adil dan manusiawi. Kerangka teori yang digunakan meliputi Teori Agenda Setting, Dominasi Simbolik dan Komunikasi Krisis. Metode analisis wacana kritis juga digunakan untuk menggali lapisan makna yang tersembunyi. Metode analisis wacana kritis digunakan untuk menggali lapisan makna yang tersembunyi di balik retorika pejabat, membedah relasi kuasa, serta memahami dinamika representasi sosial yang terbangun dalam ruang publik digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya pola komunikasi politik yang nir-sensitif pada pemerintahan Indonesia saat ini, yang tercermin melalui media massa digital, mempercepat degradasi legitimasi pemerintah, menguatkan resistensi digital, dan “memperlebar jarak” antara negara dan warganya. Di tengah dunia yang semakin terhubung secara teknologi, namun sayangnya, retak secara emosional. Penelitian ini menjadi pengingat bahwa demokrasi sejati hanya bisa tumbuh dalam ruang percakapan yang setara, jujur nan empatik. Dalam berbagai ruang penyaluran informasi baik secara digital maupun secara nyata. Kata kunci: komunikasi politik; disonansi sosial; krisis representasi; ruang publik digital; resistensi masyarakat.