Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL (Memahami Nilai-Nilai Ritual Maulid Nabi di Pekalongan) Nihayatur Rohmah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 9 No 2 (2015): September
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v9i2.70

Abstract

Empirically, a religion can be seen from its followers behaviours in their daily life. The behaviors may become expression of religious sense which can be traced back from the values of religion that they believe. Such expression, later on, makes a religion exist as symbol of culture. This paper will explain about the sample of transformation and acculturation of java and Islam in the Islamic teachings. We shall explore the local wisdom about tradition celebration of the birth of prophet Muhammad in Pekalongan and it’s called muludan. In there are amount of rituals for celebrate of the birth of prophet.
PENGARUH SUHU DAN KELEMBABAN ATMOSFER TERHADAP KETAMPAKAN FAJAR SHADIQ Nihayatur Rohmah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 8 No 2 (2014): September
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v8i2.77

Abstract

Penelitian lapangan ini membahas ketampakan fajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya lewat pendekatan fiqih-astronomis yang disajikan dalam bentuk deskriptif-analitis. Fajar shadiq tampak sebagai cahaya putih yang menyebar di sepanjang ufuk karena hamburan sinar Matahari oleh atmosfer Bumi. Fajar shadiq tampak sebagai cahaya berwarna biru, merah atau orange. Ada korelasi antara posisi astronomis Matahari dan penentuan waktu fajar. Penelitian, berkesimpulan bahwa ada pengaruh suhu terhadap sudut posisi Matahari. Kedua variabel tersebut memiliki hubungan berbanding lurus. Tegasnya, jika besarnya suhu atmosfer itu kecil (menurun) maka cahaya fajar akan tampak pada sudut depresi yang rendah, seperti suhu 18.1° Celcius, fajar shadiq tampak pada posisi Matahari -18°02’08’’. Sebaliknya, jika suhu atmosfer itu besar (meningkat) maka cahaya fajar akan terlihat pada sudut posisi Matahari yang tinggi pula, seperti pada suhu 18.9° Celcius maka fajar shadiq tampak pada sudut Matahari -20°52’29’’. Adapun nilai rata-rata (mean) posisi Matahari dengan merujuk pada keseluruhan data pengamatan, maka diperoleh hasil sudut depresi Matahari -18°39’29.4’’. Penelitian ini menguatkan teori bahwa astronomical twilight yang bersesuaian dengan fenomena fajar astronomi mulai terbit ketika Matahari berada pada kedudukan sudut depresi 18o di bawah horizon.
MEREKONSTRUKSI PERADABAN ISLAM DI INDONESIA DENGAN MEWUJUDKAN KALENDER HIJRIYAH Nihayatur Rohmah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 10 No 1 (2016): MARET
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v10i1.107

Abstract

Kalender merefleksikan daya lenting dan kekuatan suatu peradaban, sehingga dengan demikian kehadiran kalender yang akurat dan konsisten merupakan suatu tuntutan peradaban (civilization imperative). Sejarah perkembangan dunia memperlihatkan bahwa ruang dan waktu menjadi pondasi utama terbangunnya peradaban. Namun demikian peradaban modern utamanya Barat, perkembangannya tak lepas dari teori yang diperkenalkan oleh Anthony Giddens yakni mekanisme disembedding yang diwujudkan dalam pemisahan antara waktu dan ruang. Pemisahan ini menghasilkan waktu global yang dimaknai menjadi token untuk membangun kepercayaan. Dunia Islam yang masih sering terbentur pada dualisme oposisional metode hisab dan rukyat perlu mereposisi keduanya agar dapat membangun sistem waktu global sebagai sebuah instrument untuk pembentukan organisasi social yang juga bersifat global. Kalender hijriyah digagas tidak semata untuk kepentingan administratif bisnis dan politik, namun yang lebih penting adalah guna kepastian waktu ibadah. Ketika kalender dipaksakan menjadi kalender yang berbasis global (waktu berlaku satu dan sama untuk semua lokasi/ruang), maka tentu akan berbenturan dengan kaidah waktu ibadah yang bersifat local kecuali ketika kehadiran kalender hijriyah ini berlaku untuk kepentingan non ibadah. Mengkontekstualisasikan teori Giddens di atas dengan konteks ke Indonesiaan, maka kita memahami arti disembedding atau pemisahan antara ruang dan waktu berskala nasional. Selama ini, yang dianggap sebagai akar permasalahan dalam perbedaan penentuan awal bulan hijriyah terletak pada pemahaman aspek metodologis yakni hisab dan rukyat. Namun, faktanya untuk saat ini tidaklah demikian. Sudah saatnya mengakhiri dikotomi antara Rukyat dan hisab dan kemudian bersama-sama berfikir untuk membangun peradaban Islam yang termanifestasi dalam wujud kalender Islam yang mapan. Merekonstruksi arti disembedding ruang dan waktu dalam konteks Indonesia adalah proses separasi yang menjadikan waktu dan ruang menjadi konfigurasi baru yang tidak lagi terbatas dari lokalitas internal ormas keagamaan, terbatasnya pemahaman antara metodologis hisab atau rukyat sehingga waktu menjadi bersifat nasional dengan konsep Matla‟ Wilayatul Hukmi.
SEGREGASI GENDER DALAM PEMBELAJARAN ILMU FALAK DI PESANTREN SALAFIYAH LIRBOYO KEDIRI DAN PESANTREN MODERN ASSALAM SURAKARTA SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN PERAN PEREMPUAN Nihayatur Rohmah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 11 No 1 (2017): MARET
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v11i1.193

Abstract

Gender mainstreaming in educational institutions is the policy implementation. Based on National Education Minister Regulation No. 84 of 2008 on Guidelines for Mainstreaming Gender Education, then on its appropriateness in all formal educational institutions is mandatory, including a boarding school. Gender equality and justice requires that men and women have access to (opportunities) and equal participation in the educational process, to have a balanced control or authority over resources, and benefit equitably educational outcomes. The study was conducted at boarding Lirboyo and Pesantren Assalam. object of research is the study astronomy. The method applied in this study include (1) Approach and type of study: This study was conducted with a qualitative descriptive approach, this approach was used to explore the process of implementation of gender-based segregation class and excellence as well as the problems that occur in it. (2) Data collection: Observation Techniques, Interview Techniques, and Technical Documentation. (3) Data Analysis Techniques: To analyze the qualitative data analysis techniques the author uses descriptive. The results of this study indicate that the real separation of classes between women and men by applying segregation horizontal which is optional to have positive effects in the learning process, but if the separation is done because of the gender gap by applying segregation vertically, then the model led to negative effects for learners. Achievement and Role of the learner directly proportional to access (opportunities) given. Policy education institutions should be redesigned and directed to responsive and gender-neutral benefit-oriented. Thus, the separation of this class can be applied in schools to improve student achievement
OBSERVASI DAN OBSERVATORIUM (Peluang dan Tantangan Rukyatul Hilal di Indonesia) Nihayatur Rohmah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12 No 2 (2018): SEPTEMBER
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v12i2.316

Abstract

ABSTRAKRukyat merupakan suatu proses pengamatan/observasi yang tergolong sangat membutuhkan persiapan serta mata yang terlatih karena melihat hilal yang redup dalam skala waktu singkat dengan langit latar belakang yang relatif masih terang sangat membutuhkan linearitas deteksi yang memadai. Kiranya jelas bahwa rukyat yang tidak lain merupakan observasi astronomi adalah proses yang hendaknya juga memanfaatkan kemajuan teknologi. Maka observatorium sebagai salah satu sarana para astronom muslim dalam pengamatan hilal hendaknya memperhatikan hal-hal yang dapat menunjang keberhasilan rukyat dengan alat. Tersedianya berbagai tempat penelitian astronomi (observatorium) merupakan syarat utama bagi terciptanya kemajuan ilmu tersebut.Jangan harap suatu Negara dapat mengalami perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat jika tidak menyediakan lembaga penelitian yang memadai. Umumnya ketetapan kebolehnampakan hilal didasarkan pada tinggi bulan, beda azimuth dan umur bulan. Akan tetapi faktor penentu seperti kondisi atmosfer di sekitar tempat pengamatan perlu diperhatikan.Keberhasilan pengamatan benda langit umumnya sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer khususnya kondisi cuaca yang dipengaruhi oleh unsur-unsur tekanan udara, suhu udara, kelembaban udara, polusi udara, arah dan kecepatan angin yang menyebabkan terjadinya fenomena cuaca seperti hujan, kabut dan lain-lain. Fenomena tersebut akan mempengaruhi jarak pandang secara mendatar atau terhalangnya benda langit yang dilihat oleh seseorang. Faktor yang tak kalah pentingnya selain alat yang melengkapi observatorium adalah sumber daya manusia yang memiliki wawasan astronomi luas dan mendalam, serta kemampuan yang memadai dalam elektronika modern dan piranti lunak maupun keras dari komputer. Kata kunci; Observasi, Observatorium, Hilal
Ketaatan Muslim Indonesia terhadap Penetapan Hari Raya antara Itsbat Pemerintah dan Ikhbar Ormas Islam Nihayatur Rohmah
An-Nuha : Jurnal Kajian Islam, Pendidikan, Budaya dan Sosial Vol. 6 No. 2 (2019): Desember
Publisher : LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.803 KB) | DOI: 10.36835/annuha.v6i2.331

Abstract

The issue of “hisab rukyat” in terms of determining the beginning of the Islamic month often makes a difference. Government efforts through itsbat trial basically are based on efforts to achieve uniformity, benefit and unity of Indonesian Muslims. But in the level of reality, it turns out that each party (read; religio social organizations) issued its own decision. Religion has an influence as a motivation in encouraging individuals to carry out an activity, because actions carried out against the background of religious beliefs are considered to have an element of purity and obedience. This connection will influence someone to do something. Then came the Islamic groups who wanted to compromise with the government and Islamic groups who continued to fight outside the system with the wider community. Regulations are less effective if the degree of compliance only revolves around compliance (obeying for fear of being sanctioned) or identification (obeying only because of fear of good relations with someone being damaged). Conversely, if the degree of compliance reaches internalization (obedience to a rule because he truly feels that the rule is material and his spirit is in accordance with the intrinsic values ??adopted), it means the quality of the effectiveness of the regulation is very high, so the system runs according to the rules existing without stressing the strict control function. Of the three motives of obedience it is very likely to be the basis for consideration of the Muslim community in Indonesia to prefer to compromise with the government or mass organizations in terms of the determination of the holiday.
IJTIMAK SEBAGAI PRASARAT PERGANTIAN BULAN BARU DALAM KALENDER HIJRIYAH (Studi Analisis Ijtimak Awal Bulan Syawwal 1441H): Membahas perbedaan dalam penentuan ijtimak Nihayatur Rohmah
AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora (E-ISSN 2745-4584) Vol. 1 No. 1 (2020): AL-Mikraj Jurnal Studi Islam dan Humaniora
Publisher : Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almikraj.v1i1.509

Abstract

Analyzing the problem at the beginning of the Islamic month is basically based on the hadiths of rukyah and the Ulama 'differing opinions in understanding it so that it gives birth to differences of opinion. Some argue that the initial determination of Ramadan, Shawwal and Dhu al-Hijjah must be based on rukyah or seeing the new moon which is carried out on the 29th. Determination of the beginning of the Islamic month in the perspective of astronomy is to calculate the time of the occurrence of conjunctions or known as ijtima. Hilal visibility or rukyat hilal as a marker of the beginning of the month. Hilal can be formed if it has gone through its conjunction / ijtima phase. The number of days in a month consists of 29 days or 30 days. Determination of the beginning of the month by using the criteria for the visibility of the new moon and the presence of the new moon on the 29th of the Islamic month, it is often found under the horizon when the hilal rukyat activities on that date are carried out so that in the Hijriyah calendar there is a special concept if the new moon is not visible. Such conditions occurred at the beginning of the month of 1441 AH, where according to various calculation systems there were differences when ijtima occurred. According to the Sulam Nayyirain ijtimak calculation system occurred on the 29th of Ramadan, whereas according to another calculation system ijtima beginning in the month of syawwal only occurred on the 30th of Ramadlan 1441 H. Other data shows that the hilal position on the 29th of Ramadlan is still below the horizon so that the moon is impossible dirukyah. The difference between Muslims in determining the occurrence of ijtima in the end did not have an impact on the determination of the beginning of Shawwal, because of all the existing calculation systems, Muslims agreed to set the date of Shawwal 1441 H to occur on May 24, 2020 by applying the istikmal concept.
ADAPTASI KEBIASAAN BARU DI MASA PANDEMI COVID-19: Studi Pendekatan Ushul Fiqih dan Psikologi Nihayatur Rohmah
AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora (E-ISSN 2745-4584) Vol. 1 No. 2 (2021): AL-Mikraj Jurnal Studi Islam dan Humaniora
Publisher : Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almikraj.v1i2.767

Abstract

The Covid-19 pandemic has succeeded in changing the habits that we do every day at home, at school, at work, on the road, at the right place of worship and anywhere. New habits for healthier living must be continuously carried out in society and in every individual, so that they become social norms and new individual norms in everyday life. If the new habit is not carried out in a disciplined manner or is only carried out by a group of people, then this could be a threat that the corona virus outbreak will have a longer duration. Old habits that are often carried out, such as shaking hands, crowding / clustering, lazy to wash hands must begin to be abandoned because they support the transmission of Covid-19. Various responses and reactions are shown by the community, some are sad, anxious, afraid, anxious, worried, angry but there are also those who are calm or remain confident. Changing attitudes and behavior in society requires struggles in the form of adaptation or adjustment. Individuals in society always describe themselves with their changing environment, either autoplastically or alloplastically. Thus the relationship between Individuals who interact are always a relationship that influences each other (reciprocally). The adaptation of new habits in this pandemic period is not without purpose. Among them are as a community medium for survival and Conformity which is carried out openly so that it is visible to the public, with the aim of making individuals accepted in group or avoid Rejection from the group. The adaptation of this new habit in the pandemicovid-19 period is in accordance with the principle of benefit because in essence every commandment and prohibition of sharia "is basically for realizing the goals of sharia, which are returned to the rule of" attracting benefit and rejecting damage. Pandemi Covid-19 berhasil mengubah kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari baik di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di jalan, di tepat ibadah dan dimanapun. Kebiasaan baru untuk hidup lebih sehat harus terus menerus dilakukan di masyarakat dan setiap individu, sehingga menjadi norma sosial dan norma individu baru dalam kehidupan sehari hari. Bila kebiasaan baru tidak dilakukan secara disiplin atau hanya dilakukan oleh sekelompok orang saja, maka hal ini bisa menjadi ancaman wabah virus corona ini akan semakin panjang durasinya. Kebiasaan lama yang sering dilakukan, seperti berjabat tangan, berkerumun/ bergerombol, malas cuci tangan harus mulai ditinggalkan karena mendukung penularan Covid-19.Berbagai respon dan reaksi ditunjukkan oleh masyarakat, ada yang sedih, cemas, takut, gemas, khawatir, marah-marah, tetapi ada juga yang tenang atau tetap percaya diri.Perubahan sikap dan perilaku masyarakat ini membutuhkan perjuangan dalam bentuk adaptasi atau penyesuaian diri.Individu dalam masyarakat senantiasa menjelaskan dirinya dengan lingkungan hidupnya secara berubah-ubah, baik secara autoplastis atau alloplastis.Dengan demikian hubungan antara individu yang berinteraksi senantiasa merupakan hubungan yang saling mempengaruhi (timbal balik).Adaptasi kebiasaan baru di masa pandemic ini dilakukan bukan tanpa tujuan.Diantaranya adalah sebagai media masyarakat untuk bertahan hidup dan Konformitas yang dilakukan secara terbuka sehingga terlihat oleh umum, bertujuan agar individu diterima dalam kelompok atau menghindari penolakan dari kelompok.Adaptasi kebiasaan baru di masa pandemicovid-19 ini bersesuaian dengan asas kemaslahatan karenapada hakikatnya setiap perintah dan larangan syara’ pada dasarnya untuk mewujudkan tujuan syariah, yang dikembalikan pada satu kaidah “menarik kemaslahatan dan menolak kerusakan”.