Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KEPUTUSAN CHILDFREE DALAM PERNIKAHAN PERSEPEKTIF AL-QUR'AN (Analisis Hermeneutik Ma'na Cum Maghza Surah An-Nahl Ayat 72) Masrufah -; Nafilah Sulfa
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i1.1577

Abstract

Childfree saat ini menjadi salah satu topik yang cukup banyak diperbincangkan di berbagai kalangan. Fenomena childfree menarik banyak perhatian masyarakat, bahkan beberapa tokoh intelektual memberikan tanggapan mengenai hal tersebut, mulai dari sisi psikologis dan juga dari sisi agama, utamanya agama Islam, karena hal tersebut terkesan seakan menentang fitrah pernikahan, maka dari hal itu fenomena childfree ini menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan baik individu ataupun kelompok (agama, organisasi dan budaya). Berdasarkan hal tersebut, tujuan artikel ini adalah untuk menganalis QS. an-Nahl ayat 72 terkait dengan keputusan childfree dalam pernikahan. Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an shahih likulli makan wa zaman untuk digunakan sebagai tolok ukur atau pedoman dalam memecahkan suatu masalah, demi mencapai kebaikan dunia dan akhirat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan metode analisis deskriptif dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Ma’na Cum Maghza. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa,  ayat yang disuguhkan oleh penulis, yakni QS. An-Nahl bertolak belakang dengan tindakan childfree. Jika alasan Childfree dikarenakan faktor kesehatan (medis), seperti membahayakan terhadap nyawa ibunya, maka dalam hal ini childfree dapat dibenarkan, karena tidak bertentangan dengan tujuan pernikahan dan tidak termasuk pada pengingkaran nikmat Allah. Akan tetapi childfree yang tidak disertai dengan alasan-alasan syar’i maka tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan.
Konsep Mahar dalam Surah An-Nisa Ayat 4: Pendekatan Maqasid Al-Qur’an dalam Perspektif Rasyid Ridha Nafilah Sulfa; Nafilatul Khair
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 9 No. 1 (2025): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v9i1.303

Abstract

This research is motivated by the attention of researchers to the current dowry problem which according to researchesrs is very irrelevant to sharia recommendation and provisions. Which at the time the dowryis more emphasized on the basis of interest and profit. This type of researchesr uses library researchesr or library researchesr. The data collection method used is the documentation method. Meanwhile, the analytical method used is the maudhui/thematic method, namely examining verses that have the same discussion and then compiling them into a discussion. The result of researchesr conducted by researchesrs on surah an-nisa verse 4 are: according to Rashid Ridha, dowry is something that is given by a man to a woman sincerely without any element of coercion and is an obligation due to marriage. A husband may not take anything from a wife except for the pleasure of a wife. Mahar is something tha is the right of a wife as compentation for the pleasure that wil be felt by a husband after they do the marriage.
Interpretasi Ayat-Ayat Double Burden Perempuan Perspektif Hermeneutika Double Movement Fazlur Rahman Nafilah Sulfa; Delta Yaumin Nahri
Al-Fanar: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Vol 6 No 2 (2023): Al-Fanar: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33511/alfanar.v6n2.11-29

Abstract

Peran ganda (double burden) perempuan adalah kondisi perempuan dalam dua bagian domestik seperti, ibu rumah dan publik salah satunya dalam bidang politik. Perempuan zaman pra Islam terbelenggu oleh budaya patriaki, adat istiadat yang mengakar pada masyarakat Arab pada waktu itu. Mereka bagaikan barang komoditi yang diperjual-belikan. Ketika Islam datang, kedudukan mereka mulai menjadi mulia, hal ini terbukti dengan tidak ada larangan perempuan untuk bekerja berkiprah dalam ranah publik. Namun salah satu faktor penyebab kaum perempuan mengalami bias (ketimpangan) gender sehingga mereka belum setara adalah interpretasi teks-teks agama yang bias gender. Selama ini penafsiran al-Qur’an didominasi ideologi patriarki sebab kebanyakan mufasir adalah kaum laki-laki, sehingga kurang mengahargai kepentingan kaum perempuan terutama mufassir era klasik. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif metode tinjauan literatur, dengan mengaimat fenomena serta mengumpulkan data dan informasi dari berbagai literature relevan buku, teks dan sumber internet. A-Qur’an tidak secara langsung menyebut ayat-ayat double burden perempuan dalam al-Qur’an, tetapi ada indikasi al-Qur’an yang menyebutkan double burden dalam al-Qur’an itu sendiri seperti surah al-Qashas: 23. Melalui pendekatan hermeneutika Fazlur Rahman hasil dari kajian menyatakan bahwa surah al-Qashas: 23, salah satu surah yang tidak mempunyai asbabun nuzul, sehingga untuk melihat kondisi ayat pada waktu diturunkan harus memahami kondisi arab pada waktu itu. Oleh karena itu, surah al-Qashas: 23 ini merupakan syar’u man qabalana (syariat yag terjadi sebelum Nabi Muhammad), membolehkan perempuan bekerja dn berbaur dengan laki-laki, sehingga berdasarkan teori double movement jika diimpletasikan kepada zaman sekarang perempuan boleh berkarir berbaur denga laki-laki selama itu membawa manfaat, mafsadat dan kemaslahata. Tetapi ada etika yang harus diperhatikan oleh perempuan tersebut yakni izin suami serta menjaga kehormatannya.