RA. Hani Faradis
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penggunaan Gadget Sehat pada Lansia di Sekolah Lansia Tangguh (SELANTANG) di Kecamatan Wonocolo Kota Surabaya RA. Hani Faradis; Windi Indria Rini; Delivia Putri Manzelina; Elysia Rahmayanti Istiazah; Adimas Insrayana Putra; Zumrotul Farikhah; Nurul Hidayatih
Journal of Community Development Diversity Vol. 1 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Pro Panoramic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64595/jcdd.150

Abstract

Penggunaan gadget yang tidak sehat dapat berdampak buruk pada kesehatan mata lansia. Kegiatan pengabdian masyarakat ini akan dilakukan di Sekolah Lansia Tanggung (SELANTANG) di Kecamatan Wonocolo, Surabaya untuk mengidentifikasi praktik terbaik penggunaan gadget yang sehat. Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya penggunaan gadget yang bijak bagi kesehatan mata lansia. Dalam upaya meningkatkan kualitas hidup lansia, tim pengabdian masyarakat UNUSA telah menyelenggarakan sosialisasi mengenai penggunaan gadget yang sehat di Pondok Kecamatan Wonocolo, Surabaya. Sebanyak 27 lansia mengikuti program ini. Metode ceramah interaktif dan sesi tanya jawab dipilih untuk menyampaikan materi secara efektif. Untuk mengukur keberhasilan program, dilakukan pre-test dan post-test yang kemudian dianalisis menggunakan uji N-gain score. Hasil analisis ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai peningkatan pengetahuan para lansia setelah mengikuti program. Hasil analisis N-gain score, diperoleh temuan bahwa 12 orang memperoleh nilai N-gain score > 76%, mengindikasikan bahwa metode penyuluhan yang menggabungkan ceramah interaktif, tanya jawab, dan instrumen pre-test dan post-test sebagai pengukuran tingkat pemahaman secara umum efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta, sebanyak 13 orang dinilai metode tersebut cukup efektif, dan tidak efektif pada 2 orang. Metode ceramah interaktif terbukti cukup efektif meningkatkan pengetahuan peserta penyuluhan tentang penggunaan gadget secara sehat pada kesehatan mata lansia Kecamatan Wonocolo, Surabaya, dibuktikan dengan peningkatan nilai N-gain score pada setiap individu secara umum.
Pencegahan Kebutaan Akibat Kelainan Refraksi Sejak Usia Dini: Edukasi dan Skrining Mata pada Masyarakat RA. Hani Faradis; Windi Indria Rini; Marselli Widya Lestari; Syawa Aurora Syafira; Nurul Hidayatih; Firda Ayu Agustina Arafah; Nur Fajril Arjuna Arif Billah; Moh. Kholil Kholil
Journal of Community Development Diversity Vol. 1 No. 3 (2025): November
Publisher : Pro Panoramic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64595/jcdd.396

Abstract

Kelainan refraksi mata merupakan gangguan penglihatan dengan prevalensi yang meningkat, terutama pada anak usia dini dan remaja. Peningkatan ini dipicu oleh paparan gawai berlebihan, pencahayaan kurang, dan minimnya pemeriksaan mata rutin, yang berdampak negatif pada kualitas belajar dan produktivitas. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan dan deteksi dini kelainan refraksi serta mempromosikan pentingnya pemeriksaan mata berkala. Unsur keterbaruan PkM adalah integrasi edukasi kesehatan mata interaktif yang dikombinasikan dengan evaluasi pengetahuan melalui pretest dan posttest untuk mengukur efektivitas intervensi. Metode yang digunakan adalah penyuluhan kesehatan (ceramah, diskusi, dan tanya jawab) yang melibatkan 23 peserta. Pengukuran dilakukan menggunakan kuesioner dan dianalisis melalui uji pretest dan posttest, dengan hasil utama berupa peningkatan skor pengetahuan dan capaian N-Gain. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman peserta. Nilai rata-rata pretest 69,57 meningkat menjadi 94,78 pada posttest (selisih 25,21 poin). Analisis N-Gain mengindikasikan sebagian besar peserta berada pada kategori tinggi, dengan 12 peserta mencapai kategori tinggi (N-Gain=1,0) berdasarkan kriteria Hake (1999). Temuan ini membuktikan bahwa program edukasi berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat secara bermakna. PkM ini efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan dan deteksi dini kelainan refraksi mata.