Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pengaruh Kualitas Lingkungan Fisik Ruang Rawat Inap Dengan Keselamatan Pasien Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sitanala Tangerang Mita Wastu Adhitama; Elise Garmelia; Eka Yoshida
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.281

Abstract

Kualitas pelayanan dalam rumah sakit dapat ditingkatkan apabila didukung oleh peningkatan kualitas fasilitas fisik. Ruang rawat inap merupakan salah satu wujud fasilitas fisik yang penting keberadaannya bagi pelayanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan menjelaskan hubungan kualitas lingkungan fisik ruang rawat inap dengan keselamatan pasien berdasarkan baku mutu Kepmenkes 1204/MENKES/SK/X/2004 dan kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sitanala. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik observasional menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, dengan rancangan cross sectional/potong lintang, melibatkan 180 responden pasien rawat inap dan pengisian kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas lingkungan fisik yang meliputi suhu, kelembaban, pencahayaan dan kebisingan berpengaruh secara parsial terhadap keselamatan pasien. Kualitas lingkungan fisik secara simultan (bersama-sama) juga berpengaruh terhadap keselamatan pasien. Nilai pengukuran parameter suhu (21°C - 23°C), kelembaban (45% – 60%) dan pencahayaan (150 – 170 Lux) masih memenuhi baku mutu sesuai standar Kepmenkes 1204/MENKES/SK/X/2004 dan Kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sitanala. Sedangkan nilai pengukuran parameter kebisingan sedikit melebihi baku mutu yaitu 44 - 48 dB. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas lingkungan fisik yang meliputi suhu, kelembaban, pencahayaan dan kebisingan berpengaruh terhadap keselamatan pasien di RSUP Dr. Sitanala.
Analisis Implementasi Rekam Medis Elektronik Terhadap Pemenuhan Standar Akreditasi Rumah Sakit Pada Aspek Mutu Dokumentasi dan Patient Safety di Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP Dr M. Jamil Padang Tahun 2025 Almidawati Almidawati; Yanuar Jak; Eka Yoshida
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56424

Abstract

Penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) memiliki peran strategis dalam mendukung rumah sakit memenuhi standar akreditasi, khususnya pada aspek mutu dokumentasi dan keselamatan pasien. Dalam standar akreditasi rumah sakit, mutu dokumentasi dinilai berdasarkan kelengkapan, ketepatan waktu, serta akurasi dan konsistensi data klinis. Sistem RME memungkinkan pemantauan pengisian rekam medis secara real time oleh perawat maupun dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), sehingga kekurangan dokumentasi dapat segera teridentifikasi. Selain itu, fitur digital dalam RME mendorong pencatatan tepat waktu dan menyediakan mekanisme validasi otomatis untuk meminimalkan kesalahan input dan duplikasi data. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kemudahan penggunaan, kemanfaatan kualitas sistem, dan ketersediaan infrastruktur RME terhadap pemenuhan standar akreditasi rumah sakit berdasarkan aspek mutu dokumentasi dan keselamatan pasien, baik secara langsung maupun melalui motivasi pengguna sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik. Responden terdiri dari tenaga kesehatan profesional pemberi asuhan (PPA). Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM). Selain itu, penelitian ini dilengkapi dengan telaah dokumen data sekunder dan observasi lapangan untuk memperkuat interpretasi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden didominasi oleh laki-laki (54,8%) dengan tingkat pendidikan terbanyak adalah spesialis (29,6%). Kemudahan penggunaan dan ketersediaan infrastruktur RME tidak berpengaruh langsung terhadap pemenuhan standar akreditasi (p>0,05), sedangkan kemanfaatan kualitas sistem (p=0,021) dan motivasi pengguna (p=0,000) berpengaruh signifikan. Motivasi terbukti memediasi pengaruh kemudahan dan ketersediaan infrastruktur terhadap pemenuhan standar. Telaah dokumen dan observasi menunjukkan adanya ketidakkonsistenan dalam pengisian identitas pasien, asesmen awal medis, dan CPPT, serta belum optimalnya audit mutu rekam medis. Motivasi pengguna merupakan faktor kunci dalam pemenuhan standar akreditasi rumah sakit melalui pemanfaatan RME. Optimalisasi RME perlu difokuskan tidak hanya pada aspek teknis sistem, tetapi juga pada penguatan motivasi, audit mutu dokumentasi, dan tata kelola rekam medis untuk meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien secara berkelanjutan.
Analisis Implementasi Perencanaan dan Pengendalian Obat dengan Pendekatan Pareto ABC Iman Nurwafdan; Eka Yoshida; Tinon Ambarini
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.303

Abstract

Perencanaan dan pengendalian obat yang efektif bagi pelayanan farmasi di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi perencanaan dan pengendalian obat di Unit Farmasi Rumah Sakit Baiturrahim Jambi dengan pendekatan Pareto-ABC tahun 2025, serta mengidentifikasi kesesuaiannya dengan kondisi aktual di lapangan. Penelitian menggunakan desain mixed-method dengan pendekatan deskriptif eksploratif. Data kuantitatif diperoleh dari rekap pemakaian obat dan BMHP periode April 2024–Maret 2025 yang dianalisis melalui klasifikasi Pareto ABC, Jaccard Similarity Index (JSI), Pareto Stability Index (PSI), serta koefisien variasi (CV). Data kualitatif diperoleh melalui wawancara dengan enam informan kunci dan observasi langsung terhadap proses perencanaan serta pengendalian logistik farmasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15% item obat (kategori A) menyerap hampir 80% total nilai pemakaian. Nilai PSI obat sebesar 0,84 dan nilai JSI obat sebesar 0,73, serta nilai PSI BMHP sebesar 0,72 dan nilai JSI BMHP sebesar 0,56. Sistem perencanaan masih bersifat manual, belum mengintegrasikan parameter pengendalian seperti ROP, safety stock, dan klasifikasi ABC. Triangulasi data mengungkap kesenjangan antara teori dan praktik, terutama pada ketiadaan sistem prediktif, dashboard monitoring dinamis, serta keterbatasan kompetensi analisis SDM. Kesimpulan penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi pendekatan kuantitatif dalam perencanaan obat.
Analisis Kebutuhan Tenaga Farmasi dengan Pendekatan Metode Workload Indicators of Staffing Need Salman Shiddiq; Eka Yoshida; Laila Ulfa
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 4 (2025): Journal of Language and Health: December 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i4.491

Abstract

Kecukupan tenaga farmasi sangat penting dalam kualitas pelayanan farmasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan tenaga farmasi dengan metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN) dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perencanaan, distribusi, serta ketersediaan sumber daya manusia farmasi di Rumah Sakit Umum UKI Tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan metode WISN untuk menghitung kebutuhan tenaga berdasarkan beban kerja aktual. Analisis kualitatif dilaksanakan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan tematik. Hasil penelitian menunjukkan adanya kekurangan tenaga farmasi dibandingkan kebutuhan menurut WISN, yaitu kekurangan 3 orang tenaga pada depo rawat jalan dan rawat inap, kekurangan 1 orang tenaga di depo IGD dan didapat kelebihan 1 orang tenaga di depo OK. Ketersediaan obat yang lengkap akan mengurangi kebutuhan tenaga farmasi sebanyak 1 orang pada depo rawat jalan, rawat inap dan juga OK. Beban kerja tidak merata, terutama pada shift pagi, menyebabkan tenaga sering lembur dan waktu istirahat berkurang. Dari temuan kualitatif, apoteker banyak terserap dalam pekerjaan teknis karena kekurangan tenaga teknis kefarmasian. Hambatan pelayanan juga timbul akibat keterlambatan penyerahan obat dan kekosongan stok yang memicu keluhan pasien. Kesimpulannya, kebutuhan tenaga farmasi belum terpenuhi berdasarkan perhitungan WISN. Beban kerja, cakupan tugas apoteker dan ketersediaan obat mempengaruhi kebutuhan.
Factors Affecting Coding Inaccuracy on Pending Claims Santy Yuliana Gultom; Eka Yoshida; Susiana Nugraha; Siti Maemun; Aninda Dinar Widiantari
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 8 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v8i3.981

Abstract

In 2025, coding inaccuracies in National Insurance Health (NIH) inpatient claims at Sulianti Saroso Infectious Disease Hospital (SSIDH) significantly contributed to pending claims, negatively impacting the hospital's financial performance. This study aimed to identify the factors influencing coding inaccuracies on NHI pending claims. Using a mixed-methods approach with an explanatory sequential design, researchers analyzed 425 randomly selected NHI inpatient claim files. Chi-Square tests revealed significant relationships between pending claims and five variables: incomplete supporting data, differences in perception between coders and NIH verifiers, incomplete medical administration, incomplete medical resumes, and coding non-compliance (all with p-values of 0.000). Logistic regression analysis showed that differences in perception between coders and the SSAA verifier had the greatest impact, increasing the likelihood of pending claims by a factor of 1,789.5. Incomplete supporting data increased the likelihood by 1.1 times, while coder competence and experience increased it by 6.1 times. The study concluded that coding inaccuracy is primarily influenced by differences in perception between hospital coders and SSAA verifiers, followed by coder competence and incomplete documentation.  To reduce pending claims, the study recommends improving coder training, standardizing communication protocols between hospitals and SSAA, and strengthening administrative completeness. These measures are crucial for enhancing claim accuracy and improving hospital financial outcomes.
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Turnover Intention Perawat Di Unit Rawat Inap RS Juanda Kuningan Dhimas Akbar Mulia; Eka Yoshida; Yanuar Jak
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 10, No 2 (2026): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v10i2.8330

Abstract

Turnover intention pada perawat rawat inap merupakan indikator yang dapat mengganggu kontinuitas asuhan. Penelitian kuantitatif ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan turnover intention pada perawat rawat inap di RS Juanda Kuningan, meliputi work life balance, kebijakan organisasi, lingkungan kerja, kepuasan pekerjaan, kepemimpinan transformasional, dan tuntutan pekerjaan. Desain penelitian menggunakan cross sectional dengan pengumpulan data melalui kuesioner pada 75 perawat rawat inap. Analisis dilakukan secara univariat, uji chi square disertai estimasi risk ratio, serta regresi logistik biner. Proporsi perawat dengan turnover intention sebesar 44,0%. Pada analisis bivariat, work life balance (p = 0,036), kebijakan organisasi (p = 0,050), kepuasan pekerjaan (p = 0,001), kepemimpinan transformasional (p = 0,014), dan tuntutan pekerjaan (p = 0,001) berhubungan bermakna dengan turnover intention, sedangkan lingkungan kerja tidak bermakna (p = 0,163). Pada model akhir multivariat, kebijakan organisasi (p = 0,041; OR = 3,776), kepuasan pekerjaan (p = 0,001; OR = 8,776), dan tuntutan pekerjaan (p = 0,001; OR = 12,348) merupakan prediktor bermakna, dengan tuntutan pekerjaan sebagai faktor paling dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi retensi perlu diprioritaskan pada pengendalian tuntutan pekerjaan, perbaikan kebijakan organisasi, dan penguatan kepuasan pekerjaan pada perawat rawat inap. RS Juanda Kuningan disarankan mengembangkan program retensi melalui penataan uraian tugas keperawatan, optimalisasi sistem rekam medis elektronik, serta pembenahan kebijakan organisasi terkait mekanisme pengangkatan status kerja dan penyesuaian kompensasi berbasis jenjang karier Perawat Klinis.
Analisis Kelengkapan Resume Rekam Medis Dengan Hasil Klaim Pasien Rawat Inap Jaminan Kesehatan Nasional Di Rumah Sakit X Tipe B Jakarta Muhammad Yahya Shobirin; Eka Yoshida; Ahdun Trigono
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 10, No 2 (2026): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v10i2.8506

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Hasil observasi pendahuluan masih terdapat hasil dari berita acara hasil verifikasi klaim pasien JKN Rumah Sakit X tipe B Jakarta periode Bulan Januari – Mei tahun 2023, yang masuk kategori pending, yang diakibatkan oleh kurang lengkapnya resume rekam medis. Tujuan: Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kelengkapan identifikasi pasien, bukti rekaman, keabsahan rekaman, kelengkapan lampiran medis, kesesuaian coding diagnosa dengan hasil klaim pasien rawat inap JKN. Metode: Jenis penelitian ini adalah menggunakan analisis penelitian analitik, dengan pendekatan cross sectional. subjek penelitian adalah pasien rawat inap peserta JKN, di Rumah Sakit X tipe B Jakarta pada Juli 2023. Hasil: Variabel kelengkapan identifikasi, kelengkapan bukti rekaman, kelengkapan keabsahan rekaman, kelengkapan lampiran medis, kesesuaian coding memiliki hubungan (p < 0,05) dengan hasil klaim pasien rawat inap JKN. Variabel yang paling dominan adalah kesesuaian coding diagnosa (OR= 18,514, p< 0,05). Kesimpulan: klaim pasien rawat inap JKN dipengaruhi oleh variabel kelengkapan identifikasi pasien, kelengkapan bukti rekaman, kelengkapan lampiran medis dan kesesuaian coding diagnosa. Kata Kunci: Resume, Rekam, Klaim
Perbandingan Biaya Total Herniorepair Dengan Dan Tanpa Mesh Pada Pasien JKN Dengan Diagnosis Hernia Inguinalis Reponibel Di RS Tugu Ibu Depok Tahun 2023 Iskandar Iskandar; Eka Yoshida; Yuli Prapancha Satar
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 9, No 4 (2025): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v9i4.7093

Abstract

ABSTRAK Penelitian terkait biaya total dari prosedur herniorepair dengan mesh di Indonesia masih minim sehingga menyisakan celah bagi rumah sakit dalam melakukan perencanaan dan pengelolaan biaya yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan biaya dan efisiensi prosedur operasi herniorepair menggunakan mesh dan tanpa mesh, serta mengevaluasi kesenjangan biaya antara klaim JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dan tarif yang dikeluarkan oleh rumah sakit Tugu Ibu Depok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarif yang dikeluarkan oleh rumah sakit untuk prosedur dengan mesh adalah Rp. 7.396.300, lebih rendah dibandingkan tanpa mesh sebesar Rp. 8.492.900. Biaya yang diklaim oleh JKN untuk tindakan dengan mesh adalah Rp. 5.491.600, dengan selisih Rp. 1.904.700, sementara tanpa mesh Rp. 5.893.600 dengan selisih Rp. 2.599.300. Analisis bivariat menunjukkan perbedaan signifikan pada total biaya, lama rawat inap, dan kontrol rawat jalan (Sig. 0.000). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa biaya total untuk pasien yang menjalani teknik Mesh lebih rendah sebesar Rp 743.469,49 (Sig. 0.000), menunjukkan efisiensi biaya pada teknik Mesh dibandingkan dengan teknik Tanpa mesh. Kata Kunci: Herniorepair, Mesh, Efisiensi Biaya, JKN, Tarif yang dikeluarkan oleh rumah sakit, Klaim JKN, cost reduction, cost saving, dan lean management
Strategi Pengembangan Pelayanan Fisioterapi Dengan Pendekatan Balance Scorecard Di Rumah Sakit Radjak Lianna Panjaitan; Eka Yoshida; Supardjo Supardjo
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 9, No 4 (2025): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v9i4.6947

Abstract

Penelitian ini di latar belakangi oleh ratio jumlah kunjungan pasien dari unit pelayanan Fisioterapi di RS Radjak tidak sebanding dengan ketenagaan yang ada. Menurut Permenkes Nomor 65 tahun 2015 dengan ketenagaan yang ada yaitu sebanyak 4 orang Fisioterapi, dimana 1 orang fisioterapi idealnya melayani 8 – 10 pasien setiap harinya dapat dikatakan jumlah kunjungan pasien di pelayanan Fisioterapi belum maksimal. Sehingga dirasa perlu menyiapkan strategi untuk pengembangan unit Pelayanan Fisioterapi dengan pendekatan Balance Scorecard. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan jumlah kunjungan pasien pada unit fisioterapi RS Radjak dengan pendekatan Balanced Scorecard. Penelitian ini termasuk penelitian mix metode dengan mengambil sebanyak 20 responden sebagai Informan kunci baik dari pihak Rumah Sakit dan Pasien. Data yang diambil meliputi data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi dan Telaah dokumen. Hasil penelitian pada Prespektif Pembelajaran dan pertumbuhan ada 4 strategi yang harus di perkuat, pada prespektif Proses Bisnis Internal terdapat 3 strategi yang harus di perkuat, Pada prespektif pelanggan ada 4 strategi yang harus di perkuat dan pada prespektif keuangan terdapat 3 strategi yang harus di perkuat. Tentunya strategi dari ke-empat prespektif ini saling berkesinambungan. Kesimpulan dari penelitian adalah terapat beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh Rumah Sakit dalam mewujudkan pengembangan pelayanan fisioterapi di Rumah Sakit Radjak. Ke-empat prespektif dalam balance scorecard saling berhubungan dan mempengaruhi satu dengan yang lain sehingga menjadi satu kesatuan untuk dapat dilakukan secara sistematis jika ingin mencapai tujuan. Pemenuhan kebutuhan Biaya operasional berbanding lurus dengan kegiatan operasional yang dilakukan.
Analisis Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Loyalitas Kunjungan Pasien di RS. Bhayangkara TK II Jambi Herawati Herawati; Alih Germas Kodiyat; Eka Yoshida
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 9, No 4 (2025): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v9i4.7096

Abstract

ABSTRAK Rumah Sakit saat ini tengah dihadapkan dengan era persaingan global diberbagai sektor kesehatan. Berdasarkan data satu dekade terakhir tepatnya 2002-2021 jumlah rumah sakit di Indonesia bertambah 169,73% menjadi 2.522 pada tahun 2021. Loyalitas dari pasien sangatlah penting bagi kelangsungan dan pertumbuhan sebuah Rumah Sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Bauran Pemasaran Rumah Sakit terhadap Loyalitas Kunjungan Pasien di RS. Bhayangkara TK II Jambi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 170 orang. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 100 responden. Cara pengambilan sampe dengan random sampling. Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan univariat, bivariat dan multi variat. Hasil analisis multivariat menunjukkan ada pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Loyalitas Kunjungan Pasien di RS adalah Pada variabel Harga(Price), nilai koefisien regresi (B) sebesar 0.858 dengan POR (Prevalence Odds Ratio) 2.360 dan interval kepercayaan 95% (0.868-6.415) serta p-value sebesar 0.093, variabel Promosi (Promotion) memiliki koefisien regresi (B) sebesar 0.799 dengan POR 2.224 dan interval kepercayaan 95% (0.929-5.326) serta p-value sebesar 0.073. variabel Produk(Product) memiliki koefisien regresi (B) sebesar 0.819 dengan POR 2.268 dan interval kepercayaan 95% (0.913-5.633) serta p-value sebesar 0.078 yang terbukti signifikan lebih kecil dari 0,05 Sementara itu, variabel Tempat(Place) memiliki koefisien regresi (B) sebesar 0.401 dengan POR 1.494 dan interval kepercayaan 95% (0.591-3.777) serta p-value sebesar 0.397.Hasil menunjukan terdapat pengaruh Produk (Product), Harga (Price), Tempat (Place) dan Promosi (Promotion) terhadap Loyalitas Kunjungan Pasien di RS Bhayangkara TK II Jambi Kata Kunci : Loyalitas, Bauran Pemasaran, Rumah Sakit, Rawat Inap