Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Kualitas Lingkungan Fisik Ruang Rawat Inap Dengan Keselamatan Pasien Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sitanala Tangerang Mita Wastu Adhitama; Elise Garmelia; Eka Yoshida
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.281

Abstract

Kualitas pelayanan dalam rumah sakit dapat ditingkatkan apabila didukung oleh peningkatan kualitas fasilitas fisik. Ruang rawat inap merupakan salah satu wujud fasilitas fisik yang penting keberadaannya bagi pelayanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan menjelaskan hubungan kualitas lingkungan fisik ruang rawat inap dengan keselamatan pasien berdasarkan baku mutu Kepmenkes 1204/MENKES/SK/X/2004 dan kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sitanala. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik observasional menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, dengan rancangan cross sectional/potong lintang, melibatkan 180 responden pasien rawat inap dan pengisian kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas lingkungan fisik yang meliputi suhu, kelembaban, pencahayaan dan kebisingan berpengaruh secara parsial terhadap keselamatan pasien. Kualitas lingkungan fisik secara simultan (bersama-sama) juga berpengaruh terhadap keselamatan pasien. Nilai pengukuran parameter suhu (21°C - 23°C), kelembaban (45% – 60%) dan pencahayaan (150 – 170 Lux) masih memenuhi baku mutu sesuai standar Kepmenkes 1204/MENKES/SK/X/2004 dan Kebijakan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sitanala. Sedangkan nilai pengukuran parameter kebisingan sedikit melebihi baku mutu yaitu 44 - 48 dB. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas lingkungan fisik yang meliputi suhu, kelembaban, pencahayaan dan kebisingan berpengaruh terhadap keselamatan pasien di RSUP Dr. Sitanala.
Analisis Implementasi Rekam Medis Elektronik Terhadap Pemenuhan Standar Akreditasi Rumah Sakit Pada Aspek Mutu Dokumentasi dan Patient Safety di Instalasi Rawat Inap Bedah RSUP Dr M. Jamil Padang Tahun 2025 Almidawati Almidawati; Yanuar Jak; Eka Yoshida
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56424

Abstract

Penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) memiliki peran strategis dalam mendukung rumah sakit memenuhi standar akreditasi, khususnya pada aspek mutu dokumentasi dan keselamatan pasien. Dalam standar akreditasi rumah sakit, mutu dokumentasi dinilai berdasarkan kelengkapan, ketepatan waktu, serta akurasi dan konsistensi data klinis. Sistem RME memungkinkan pemantauan pengisian rekam medis secara real time oleh perawat maupun dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), sehingga kekurangan dokumentasi dapat segera teridentifikasi. Selain itu, fitur digital dalam RME mendorong pencatatan tepat waktu dan menyediakan mekanisme validasi otomatis untuk meminimalkan kesalahan input dan duplikasi data. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kemudahan penggunaan, kemanfaatan kualitas sistem, dan ketersediaan infrastruktur RME terhadap pemenuhan standar akreditasi rumah sakit berdasarkan aspek mutu dokumentasi dan keselamatan pasien, baik secara langsung maupun melalui motivasi pengguna sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan analitik. Responden terdiri dari tenaga kesehatan profesional pemberi asuhan (PPA). Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM). Selain itu, penelitian ini dilengkapi dengan telaah dokumen data sekunder dan observasi lapangan untuk memperkuat interpretasi hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden didominasi oleh laki-laki (54,8%) dengan tingkat pendidikan terbanyak adalah spesialis (29,6%). Kemudahan penggunaan dan ketersediaan infrastruktur RME tidak berpengaruh langsung terhadap pemenuhan standar akreditasi (p>0,05), sedangkan kemanfaatan kualitas sistem (p=0,021) dan motivasi pengguna (p=0,000) berpengaruh signifikan. Motivasi terbukti memediasi pengaruh kemudahan dan ketersediaan infrastruktur terhadap pemenuhan standar. Telaah dokumen dan observasi menunjukkan adanya ketidakkonsistenan dalam pengisian identitas pasien, asesmen awal medis, dan CPPT, serta belum optimalnya audit mutu rekam medis. Motivasi pengguna merupakan faktor kunci dalam pemenuhan standar akreditasi rumah sakit melalui pemanfaatan RME. Optimalisasi RME perlu difokuskan tidak hanya pada aspek teknis sistem, tetapi juga pada penguatan motivasi, audit mutu dokumentasi, dan tata kelola rekam medis untuk meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien secara berkelanjutan.
Analisis Implementasi Perencanaan dan Pengendalian Obat dengan Pendekatan Pareto ABC Iman Nurwafdan; Eka Yoshida; Tinon Ambarini
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.303

Abstract

Perencanaan dan pengendalian obat yang efektif bagi pelayanan farmasi di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi perencanaan dan pengendalian obat di Unit Farmasi Rumah Sakit Baiturrahim Jambi dengan pendekatan Pareto-ABC tahun 2025, serta mengidentifikasi kesesuaiannya dengan kondisi aktual di lapangan. Penelitian menggunakan desain mixed-method dengan pendekatan deskriptif eksploratif. Data kuantitatif diperoleh dari rekap pemakaian obat dan BMHP periode April 2024–Maret 2025 yang dianalisis melalui klasifikasi Pareto ABC, Jaccard Similarity Index (JSI), Pareto Stability Index (PSI), serta koefisien variasi (CV). Data kualitatif diperoleh melalui wawancara dengan enam informan kunci dan observasi langsung terhadap proses perencanaan serta pengendalian logistik farmasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15% item obat (kategori A) menyerap hampir 80% total nilai pemakaian. Nilai PSI obat sebesar 0,84 dan nilai JSI obat sebesar 0,73, serta nilai PSI BMHP sebesar 0,72 dan nilai JSI BMHP sebesar 0,56. Sistem perencanaan masih bersifat manual, belum mengintegrasikan parameter pengendalian seperti ROP, safety stock, dan klasifikasi ABC. Triangulasi data mengungkap kesenjangan antara teori dan praktik, terutama pada ketiadaan sistem prediktif, dashboard monitoring dinamis, serta keterbatasan kompetensi analisis SDM. Kesimpulan penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi pendekatan kuantitatif dalam perencanaan obat.
Analisis Kebutuhan Tenaga Farmasi dengan Pendekatan Metode Workload Indicators of Staffing Need Salman Shiddiq; Eka Yoshida; Laila Ulfa
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 4 (2025): Journal of Language and Health: December 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i4.491

Abstract

Kecukupan tenaga farmasi sangat penting dalam kualitas pelayanan farmasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan tenaga farmasi dengan metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN) dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perencanaan, distribusi, serta ketersediaan sumber daya manusia farmasi di Rumah Sakit Umum UKI Tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan metode WISN untuk menghitung kebutuhan tenaga berdasarkan beban kerja aktual. Analisis kualitatif dilaksanakan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan tematik. Hasil penelitian menunjukkan adanya kekurangan tenaga farmasi dibandingkan kebutuhan menurut WISN, yaitu kekurangan 3 orang tenaga pada depo rawat jalan dan rawat inap, kekurangan 1 orang tenaga di depo IGD dan didapat kelebihan 1 orang tenaga di depo OK. Ketersediaan obat yang lengkap akan mengurangi kebutuhan tenaga farmasi sebanyak 1 orang pada depo rawat jalan, rawat inap dan juga OK. Beban kerja tidak merata, terutama pada shift pagi, menyebabkan tenaga sering lembur dan waktu istirahat berkurang. Dari temuan kualitatif, apoteker banyak terserap dalam pekerjaan teknis karena kekurangan tenaga teknis kefarmasian. Hambatan pelayanan juga timbul akibat keterlambatan penyerahan obat dan kekosongan stok yang memicu keluhan pasien. Kesimpulannya, kebutuhan tenaga farmasi belum terpenuhi berdasarkan perhitungan WISN. Beban kerja, cakupan tugas apoteker dan ketersediaan obat mempengaruhi kebutuhan.