Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PREVENTION OF HYPERTENSION BY USING FRUIT THROUGH ONLINE WRITING Datukarama, Salbya; Paputungan, Frezy; Umar, Sri Yulan
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Budaya Vol 3 No 2 (2023): Journal of Education and Culture (JEaC)
Publisher : LPPM UNiversitas Bina Mandiri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47918/jeac.v3i2.1552

Abstract

According to Sarwono (2011), the emergence of problems in adolescent reproductive health is a consequence. Suddenly pregnant and there will also be ridicule of rejection (in F.Paputungan: 2023). Hypertension is a health problem throughout the world and is one of the main risk factors for cardiovascular disease. Hypertension is also referred to as a non-communicable disease, because hypertension is not transmitted from person to person. Non-communicable diseases are chronic diseases that cannot be transmitted to other people. Non-communicable diseases are still a health problem of concern in Indonesia today. This is because the emergence of PTM is generally caused by the lifestyle of each individual who pays little attention to health (Riskesdas, 2018). Data released by WHO (2018) shows that around 26.4% of the world's population suffers from hypertension, with a ratio of 26.6% of men and 26.1% of women. Approximately 60% of hypertension sufferers are in developing countries, including Indonesia. According to data released by the Ministry of Health, hypertension and other heart diseases account for more than a third of the causes of death, with hypertension being the second cause of death after stroke. Hypertension is defined as an increase in systolic blood pressure greater than or equal to 140 mmHg, and an increase in diastolic blood pressure greater than or equal to 90 mmHg. Hypertension is the main cause of heart failure, stroke and kidney failure. Many factors can influence blood pressure, both factors that can be changed and not. One factor that can be changed is lifestyle, where a person's lifestyle is greatly influenced by their knowledge of a disease. And the factor that cannot be changed is genetic.
EFFECTIVENESS OF PROJECT-BASED LEARNING MODELS TO IMPROVE INDEPENDENCE AND COLLABORATION IN CHILDREN AGED 4-5 YEARS Sulastya; Sodik, Nurul Aini MM; Sumirat, Elva S; Umar, Sri Yulan; Putri, Fiola Indah; Mannaasai, Annisa Fahmi
JP2KG AUD (Jurnal Pendidikan, Pengasuhan, Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini) Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : PG PAUD Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jp2kgaud.2024.5.2.432-446

Abstract

The project-based learning approach allows children to be actively involved in activities encouraging them to take independent roles and work together to complete tasks. This study used a quantitative experimental method with a single-group pretest-posttest design involving 30 children. The sample in the survey was group A children aged 4-5 years at Agropolitan Kindergarten, Kabila District, Kabila Bone Regency, Gorontalo, totaling 15 children. The study results showed that Before treatment (pretest), the average scores of independence and collaboration were at a lower level, namely 52 and 48 respectively. After being given treatment in the form of Project-Based Learning (posttest), the independence score increased to 78, while the collaboration score increased to 75. From the results of the statistical analysis of the t-test hypothesis test above, the researcher can conclude that the significant test obtained a t-count value = 14.38 independence and 14.68 collaboration while the t-table value at (α) = 0.05 is as large as 0.242. If t-count> t-table; 14.38> 0.242 and 14.68> 0.242 then H0 is rejected and H1 is accepted. By being accepted, the hypothesis is accepted, meaning that there is an Influence of the Project-Based Learning Model to Improve Independence and Collaboration in Children Aged 4-5 Years at TK Pembina Agropolitan Kabila Bone Gorontalo. This study enriches the literature on project-based learning in early childhood education and implies that this approach effectively builds the foundation of independence and collaboration. Further studies can explore the long-term impact of this model on other aspects such as children's creativity and problem solving. situs slot gacor   Key Words: Project Based Learning (PBL) Model; Independence, Collaboration
Perilaku Bermasalah pada Anak Autis di Sekolah Inklusif Umar, Sri Yulan; Umar, Veroyunita; Prabawati, Wening
Jambura Early Childhood Education Journal Vol 7 No 1 (2025): Jambura Early Childhood Education Journal
Publisher : JURUSAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37411/jecej.v7i1.3568

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk medeskripsikan bentuk perilaku bermasalah pada anak dengan gangguan autis di sekolah inklusi. Metode penelitian yang digunakan adalah literatur review. Referensi yang dipilih ditentukan berdasarkan beberapa kata kunci, tahun terbit, dan artikel dengan akses terbuka. Kualitas hasil studi penelitian ini menggunakan tiga tahapan utama yakni tahap currency, tahap conducting, dan tahap reporting. Hasil penelitian ini yakni bentuk perilaku bermasalah yang dimiliki oleh anak dengan gangguan autis antara lain hiperaktif, inatensi, impulsive, agresif, rendahnya kemauan belajar, menolak instruksi, menarik diri, menyakiti diri, kesulitan melakukan transisi kegiatan, depresi, cemas, harga diri rendah, masalah social, dan masalah tidur. Bentuk perilaku bermasalah yang sering muncul pada anak dengan gangguan autis yakni hiperaktif, impulsive, agresif, menarik diri, dan melukai diri sendiri.
ANALISIS PEMAHAMAN GURU TERHADAP KONSEP DASAR PENDIDIKAN INKLUSIF Umar, Sri Yulan; Pratama, Fiola Indah Putri; Mannassai , Annissa Fahmi
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9137

Abstract

The Government of Indonesia mandates that all schools must accept children with special needs within the inclusive education system. However, this obligation is not accompanied by a requirement for schools to fully understand the characteristics and needs of these children. This study aims to describe teachers’ understanding of the basic concepts of inclusive education in Early Childhood Education (ECE) schools throughout Gorontalo City. The research employed a quantitative descriptive approach, with data collected through a Likert scale (1–5) questionnaire. Data analysis was conducted using SPSS version 27. The results indicate that teachers’ understanding of the fundamental concepts of inclusive education is at a moderate level. This is reflected in teachers’ limited ability to implement learning style differentiation, inadequate school support services, and a lack of inclusive curriculum and assessment design. Therefore, it is necessary to strengthen teachers’ competencies through 1) practical training on differentiated instruction and inclusive assessment design; 2) enhance access to support services such as counseling and therapy, and 3) promote effective collaboration among teachers, specialists (therapists, psychologists, doctors), and parents. ABSTRAKPemerintah Indonesia mewajibkan semua sekolah untuk menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus dalam sistem pendidikan inklusif. Namun, kewajiban ini tidak disertai dengan persyaratan bagi sekolah untuk sepenuhnya memahami karakteristik dan kebutuhan anak-anak tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pemahaman guru terhadap konsep dasar pendidikan inklusif di sekolah-sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di seluruh Kota Gorontalo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, dengan data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert (1–5). Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 27. Hasil menunjukkan bahwa pemahaman guru tentang konsep dasar pendidikan inklusif berada pada tingkat sedang. Hal ini tercermin dalam kemampuan guru yang terbatas dalam menerapkan diferensiasi gaya belajar, layanan dukungan sekolah yang tidak memadai, dan kurangnya desain kurikulum dan penilaian inklusif. Oleh karena itu, perlu memperkuat kompetensi guru melalui 1) pelatihan praktis tentang pengajaran diferensiasi dan desain penilaian inklusif; 2) meningkatkan akses ke layanan dukungan seperti konseling dan terapi, dan 3) mendorong kolaborasi efektif antara guru, spesialis (terapis, psikolog, dokter), dan orang tua.
Bimbingan Teknis Pengenalan Anak Berkebutuhan Khusus dan Strategi Pembelajaran Inklusif di Sekolah Reguler Umar, Sri Yulan; Mannasai, Annisa Fahmi; Pratama, Fiola Indah Putri
SERAMBI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2025): SERAMBI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : TRANSBAHASA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54923/serambi.v2i1.17

Abstract

Pendidikan inklusif bertujuan memberikan akses dan kesempatan belajar yang setara bagi semua anak, termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Namun, banyak guru sekolah dasar belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai ABK dan strategi pembelajaran yang sesuai. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan melalui bimbingan teknis (bimtek) yang bertujuan meningkatkan literasi guru terhadap ABK dan penerapan pendekatan inklusif dalam pembelajaran. Kegiatan dilaksanakan selama dua hari di SD Negeri 7 Batudaa, Kabupaten Gorontalo, dengan melibatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua. Metode pelaksanaan meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi lapangan, dan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) inklusif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa guru memiliki antusiasme tinggi, meskipun sebagian besar belum memiliki latar belakang pendidikan khusus. Selama kegiatan, terjadi peningkatan pemahaman mengenai deteksi dini ABK dan modifikasi pembelajaran yang sesuai. Kegiatan ini membuktikan bahwa bimtek dengan pendekatan partisipatif dan berbasis pengalaman nyata dapat meningkatkan kesiapan guru dalam mengelola kelas inklusif. Diperlukan pelatihan lanjutan dan dukungan sistemik agar pendidikan inklusif dapat terimplementasi secara berkelanjutan di sekolah dasar.
Penguatan Kesadaran Lingkungan melalui Program Pengabdian Berbasis Edukasi Ekosistem Laut Pratama, Fiola Indah Putri; Ardini, Pupung Puspa; Mannassai, Annisa Fahmi; Umar, Sri Yulan
SERAMBI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2025): SERAMBI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : TRANSBAHASA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54923/serambi.v2i1.18

Abstract

Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat pesisir Pantai Leato, Kota Gorontalo, adalah pencemaran ekosistem laut akibat tingginya limbah plastik, khususnya mikroplastik, yang berasal dari perilaku masyarakat dan wisatawan yang belum sadar lingkungan. Fokus pengabdian ini adalah penguatan kesadaran lingkungan melalui edukasi tentang ekosistem laut dan bahaya mikroplastik, serta aksi nyata berupa kegiatan bersih pantai dan penyediaan tempat sampah kreatif. Subjek dalam kegiatan ini adalah masyarakat Pantai Leato yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan pelaku wisata, serta mahasiswa dan stakeholder seperti TNI AL dan pemerintah desa. Tujuan pengabdian adalah meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat dari aspek pengetahuan hingga perubahan perilaku konkret terhadap lingkungan. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), yang mengedepankan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari identifikasi masalah, edukasi, hingga aksi dan monitoring. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan pantai, perubahan perilaku terhadap sampah, serta munculnya struktur sosial baru yang lebih peduli lingkungan. Inovasi seperti tempat sampah daur ulang juga menjadi pemicu kesadaran visual. Keberhasilan program ini menegaskan bahwa pendekatan edukatif, partisipatif, dan kolaboratif lintas sektor efektif dalam menciptakan transformasi sosial dan keberlanjutan lingkungan pesisir.