Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENDAMPINGAN IBU HAMIL TANDA BAHAYA KEHAMILAN DI PUSKESMAS TRUCUK KLATEN Endang Wahyuningsih; Lilik Hartati; Endang Sawitri; Amanda Putri Angelina
WASATHON Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 02 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/wasathon.v1i02.616

Abstract

Kehamilan merupakan masa yang dimulai dari pembuahan atau bertemunya sel telur dengan sperma sampai dengan lahirnya janin. Lamanya kehamilan normal yaitu 40 minggu. Kehamilan ini dibagi menjadi 3 trimester yaitu kehamilan trimester pertama mulai 0-14 minggu, kehamilan trimester kedua mulai 14-28 minggu, dan kehamilan trimester ketiga mulai 28-42 minggu. Tanda bahaya kehamilan yaitu tanda-tanda yang mengindikasikan adanya bahaya atau ancaman dalam kehamilan. Macam-macam tanda bahaya kehamilan dalam buku KIA (2020) yaitu janin dirasakan kurang bergerak dibandingkan sebelumnya, muntah terus menerus dan nafsu makan berkurang, demam tinggi, bengkak pada kaki, tangan, wajah atau sakit kepala disertai kejang, perdarahan pada hamil muda atau tua, dan air ketuban keluar sebelum waktunya. Dengan mengenal tanda bahaya kehamilan diharapkan ibu hamil dapat mendeteksi dan mencegah adanya bahaya atau ancaman dalam kehamilan, sehingga ibu hamil dapat segera mengambil keputusan dengan cepat untuk segera datang ketenaga kesehatan. Jika tanda bahaya kehamilan ini tidak terdeteksi dengan cepat maka dapat mengakibatkan AKI, AKB, kehamilan dengan komplikasi dan persalinan dengan patologi . Penyebab kematian ibu di Puskesmas Trucuk 2 yaitu infeksi dalam kehamilan (Dinkes, 2020). upaya yang dilakukan adalah selama ini berupa penyuluhan pada kelas ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan. Hasil pengkajian di Puskesmas Trucuk 2, Klaten terdapat 54 ibu hamil yang periksa dan Pelaksana mengambil 16 sampel ibu hamil yang periksa di Puskesmas Trucuk 2 Klaten. Penerapan teknologi tepat guna sepertimedia konseling , lembar balik, leaflat video serta materi konseling untuk edukasi bagi layanan kelas ibu hamil atau pelayanan kesehatan ibu dan anak sangat diperlukan keberadaannya untuk meningkatkan kualitas hidup ibu hamil. Ibu hamil dapat melakukan pemeriksaan secara berkala di wilayah masing masing untuk mencegah terjadinya kondisi sakit yang tidak diharapkan yang dilakukan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang lain. Melalui program pengabdian kepada masyarakat pada mitra dapat meningkatkan derajat kesehatan ibu hamil di wilayah puskesmas Trucuk. Metode pelaksanaan Pendampingan Ibu Hamil Tanda Bahaya Kehamilan Di Puskesmas Trucuk Klaten dengan melalui edukasi,Ceramah,dan diskusi dengan menggunakan media cetak leaflet dan video, dengan sasaran ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kesehatan di puskesmas trucuk sejumlah 32 peserta. Kesimpulan yang didapatkan dari hasil pengabdian dengan tema Pendampingan Ibu Hamil Tanda Bahaya Kehamilan Di Puskesmas Trucuk Klaten yaitu Perbandingan peningkatan pengetahuan ibu hamil sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dengan media video dan leaflet
PEMBERDAYAAN KELUARGA TERHADAP PEMANFAATAN TANAMAN OBAT KELUARGA (TOGA) PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI DESA DERSANAN, BUTUHAN, DELANGGU, KLATEN Puput Risti Kusumaningrum; Endang Sawitri
Musyawarah: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 3 (2023): Musyawarah: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Family medicinal plants (TOGA) are one of the people's choices for planting in their yards, with the consideration that they can be used for health. Medicinal plants can be used as drugs that are safe, do not contain chemicals, are cheap, and are easy to obtain. Utilization of these traditional medicines as an effort to maintain health, prevent disease and health care, including during a public health emergency and/or the 2019 Corona Virus Disease (COVID-19) national disaster. The methodology used is that the target family is given education regarding family medicinal plants and the benefits of TOGA as an to increase body immunity during Covid 19. The next stage is preparing empty yards ready for planting several types of TOGA plants as well as evaluating and following up community empowerment programs on the use of Family Medicinal Plants (TOGA). 8 (50%) people, enough for 6 (37.5%) people, and good for as many as 2 (12.5%) people.After being given health counseling the level of knowledge of respondents increased with less knowledge of 3 (18.75%) people, 3 (18.75%) people are enough, and 10 (62.5%) people are good. The results after counseling can be seen that the respondent's knowledge has increased and this method is considered effective in increasing the respondent's knowledge.
Identifikasi Determinan Kepatuhan Kunjungan Posyandu Balita Puput Risti Kusumaningrum; Endang Sawitri; Fitri Suciana; Nabila Amalia Inka Putri
TRIAGE Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 12 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/triage.v12i1.1602

Abstract

The process of toddler growth and development is a crucial stage. This period greatly determines the success of the child's development in the future. Therefore, the involvement of mothers in posyandu activities is very important to monitor the growth and development of toddlers, reduce maternal and infant mortality, and expand the scope of basic health services. This study aims to describe various factors that influence the level of maternal compliance in bringing toddlers to posyandu in RW 2, Cawan Village, Jatinom, Klaten. This study uses a quantitative descriptive approach. The population in this study were all mothers of toddlers registered at Posyandu Lestari 2, totaling 60 people, with a sample size of 40 people selected using the accidental sampling technique. The research instrument was adapted from previous studies. The results showed that the average age of respondents was 31.5 years, all of whom were female. The majority of respondents (72.5%) had a high school/vocational high school education, and the majority (85.0%) were housewives. As many as 37.5% had one to two children, and 65.0% lived close to the posyandu location. Most respondents (95.0%) had high knowledge about posyandu. All respondents (100.0%) stated their support for toddler posyandu activities and felt they received support from health workers. In addition, 92.5% of respondents also felt supported by their families, and 72.5% considered that the facilities available at Posyandu Lestari 2 were adequate.Keyword: Factors, Compliance, Visits, Posyandu, Toddlers