Fithrotin
Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah, Lamongan, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Redesain Penguatan ‘Asabiyyah Perempuan Dalam Mengatasi Queen Bee Syndrome:Perspektif Al-Qur’an Dan Pemikiran Ibnu Khaldun Nawang Wulandari; Fithrotin; Sifwatir Rifah
EQUALITY: Journal of Gender, Child, and Humanity Studies Vol. 4 No. 1 (2026): Equality: Journal of Gender, Child, and Humanity
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Tarbiyatut Tholabah Lamongan, Jawa Timur Indoensia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/equality.v4i1.5201

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena  Queen Bee Syndrome dalam perspektif Al-Qur'an dan konsep ‘asabiyyah Ibnu Khaldun serta merumuskan model penguatan solidaritas perempuan sebagai upaya mengatasi degradasi moral dalam relasi sosial perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber primer dan sekunder, meliputi Al-Qur'an, Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, Fi Zilal al-Qur'an karya Sayyid Qutb, serta berbagai literatur ilmiah yang membahas Queen Bee Syndrome, kepemimpinan perempuan, moralitas, dan solidaritas sosial. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dan interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  Queen Bee Syndrome tidak hanya merupakan persoalan psikologis individual, tetapi juga mencerminkan melemahnya solidaritas sosial (‘asabiyyah) perempuan akibat struktur sosial yang kompetitif, budaya patriarki, dan internalisasi nilai-nilai dominan. Dalam perspektif Al-Qur'an, khususnya QS. Al-Hujurat ayat 11, perilaku tersebut bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap martabat manusia, persamaan derajat, dan saling mendukung antarsesama. Sementara itu, teori ‘asabiyyah Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa melemahnya solidaritas sosial akan melahirkan fragmentasi dan konflik dalam suatu kelompok. Penelitian ini menawarkan redesain skema penguatan ‘asabiyyah perempuan melalui internalisasi nilai Qur'ani, pembentukan kesadaran moral, penguatan budaya kolaboratif, serta kepemimpinan inklusif yang meneladani Aisyah binti Abu Bakar. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi konsep sosiologi Ibnu Khaldun dengan nilai-nilai Al-Qur'an dalam merumuskan pendekatan moral dan sosial untuk mengatasi Queen Bee Syndrome. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian sosial Islam, pemberdayaan perempuan, dan penguatan solidaritas perempuan dalam kehidupan modern.
THE CONCEPT OF NASKH MANSUKH TEUKU MUHAMMAD HASBI AL-SHIDDIQIE: A SOCIOLOGICAL OVERVIEW OF KNOWLEDGE (QS ANALYSIS. ALBAQARAH: 106 IN THE TAFSIR AN-NUR) Fithrotin; Baiti Sekar Wangi; Fadlillah Fadlillah
Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol 8 No 2 (2025): Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Universitas Tarbiyatut Tholabah Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/alfurqan.v8i2.4146

Abstract

The concept of naskh–mansūkh (abrogation) has long remained one of the most contested issues in ʿUlūm al-Qurʾān, particularly with regard to its methodological legitimacy and epistemological implications in Qur’anic interpretation. This study critically examines the construction of naskh–mansūkh in Hasbi al-Shiddiqie’s interpretation of Qur’an 2:106 in Tafsir an-Nur by employing Karl Mannheim’s sociology of knowledge as its analytical framework. The primary objective of this research is to uncover how the meaning of naskh is produced, negotiated, and reconfigured within the socio-intellectual context of post-independence Indonesia. Adopting a qualitative-descriptive design grounded in library research, the study applies discourse analysis to Qur’anic exegesis, situating the interpretive text within the historical position of the exegete and the dynamics of Islamic intellectual tradition. Primary data are drawn from Tafsir an-Nur, supported by classical exegetical sources, Hasbi al-Shiddiqie’s intellectual writings, and theoretical works on the sociology of knowledge. The findings demonstrate that Hasbi al-Shiddiqie does not conceptualize naskh–mansūkh as the literal annulment of Qur’anic rulings or texts, but rather as a process of contextualization and semantic reconciliation aimed at preserving the enduring normative relevance of revelation. From a Mannheimian perspective, this interpretive stance reflects a pattern of relationism, in which the meaning of naskh emerges through a dialectical engagement between classical exegetical authority and the social demands of modern Indonesian society. This study argues that naskh–mansūkh in Tafsir an-Nur represents a socially situated intellectual construction that embodies an effort toward exegetical reform without undermining the authority of the Qur’anic text. By doing so, the article contributes to Indonesian Qur’anic studies and advances broader discussions on the interplay between interpretation, social context, and epistemic authority in Islamic scholarship.