Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena Queen Bee Syndrome dalam perspektif Al-Qur'an dan konsep ‘asabiyyah Ibnu Khaldun serta merumuskan model penguatan solidaritas perempuan sebagai upaya mengatasi degradasi moral dalam relasi sosial perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber primer dan sekunder, meliputi Al-Qur'an, Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, Fi Zilal al-Qur'an karya Sayyid Qutb, serta berbagai literatur ilmiah yang membahas Queen Bee Syndrome, kepemimpinan perempuan, moralitas, dan solidaritas sosial. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dan interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Queen Bee Syndrome tidak hanya merupakan persoalan psikologis individual, tetapi juga mencerminkan melemahnya solidaritas sosial (‘asabiyyah) perempuan akibat struktur sosial yang kompetitif, budaya patriarki, dan internalisasi nilai-nilai dominan. Dalam perspektif Al-Qur'an, khususnya QS. Al-Hujurat ayat 11, perilaku tersebut bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap martabat manusia, persamaan derajat, dan saling mendukung antarsesama. Sementara itu, teori ‘asabiyyah Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa melemahnya solidaritas sosial akan melahirkan fragmentasi dan konflik dalam suatu kelompok. Penelitian ini menawarkan redesain skema penguatan ‘asabiyyah perempuan melalui internalisasi nilai Qur'ani, pembentukan kesadaran moral, penguatan budaya kolaboratif, serta kepemimpinan inklusif yang meneladani Aisyah binti Abu Bakar. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi konsep sosiologi Ibnu Khaldun dengan nilai-nilai Al-Qur'an dalam merumuskan pendekatan moral dan sosial untuk mengatasi Queen Bee Syndrome. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian sosial Islam, pemberdayaan perempuan, dan penguatan solidaritas perempuan dalam kehidupan modern.
Copyrights © 2026