Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SOSIALISASI DAN PENDAMPINGAN PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN DI DESA NUNKOLO, NUSA TENGGARA TIMUR Aplimon Jerobisonif; I Gusti Ngurah Wiras Hardy; Debri A. Amabi; Thomas K. Dima; Theodora Murni C. Tualaka; Maria L. Hendrik; Imanuel N. Mbake
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.17003

Abstract

ABSTRAKNusa Tenggara Timur (NTT) dikenal akan keanekaragaman budaya dan keindahan alamnya yang dihasilkan dari kehadiran beragamnya suku yang ada. Desa Nunkolo, sebagai sebuah komunitas pedesaan, menawarkan pengalaman otentik tentang adat istiadat, sosial budaya, arsitektur tradisional, dan kehidupan sehari-hari yang khas. Potensi yang dimiliki tersebut menjadi dasar perlunya menciptakan kesadaran di antara pemerintah daerah, para tetua adat, dan masyarakat terhadap keunikan yang dimiliki sehingga menjadi langkah awal untuk melindungi dan melestarikan arsitektur tradisional sonaf (istana raja) dan aset budaya lainnya. Tujuan kegiatan pengabdian ini dilaksanakan adalah untuk menciptakan kesadaran masyarakat desa tentang keberagaman potensi warisan budaya yang dimiliki untuk dilestarikan serta dikembangkan sebagai potensi pariwisata dan menjadikannya sebagai arahan pengembangan desa wisata. Kegiatan ini dilakukan dengan metode ceramah (sosialisasi), diskusi, serta tanya jawab mengenai pengidentifikasian dan pentingnya melestarikan serta memanfaatkan potensi yang ada sebagai atribut produk pariwisata. Setelah kegiatan ini dilaksanakan dilakukan evaluasi menganai upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan pemangku kepentingan. Hasil dari kegiatan ini adalah meningkatnya animo masyarakat dalam menyadari potensinya sebagai desa wisata untuk dikembangkan serta kesadaran untuk menjaga dan melestarikan budaya yang ada. Kata kunci: desa wisata; potensi pariwisata; Nusa Tenggara Timur; warisan budaya. ABSTRACTEast Nusa Tenggara (NTT) is known for its cultural diversity and natural beauty resulting from the presence of various ethnic groups. Nunkolo Village, as a rural community, offers an authentic experience of customs, socio-culture, traditional architecture and daily life. This potential is the basis for the need to create awareness among local government, elders, and the community of its uniqueness as a step towards protecting and preserving the traditional architecture of the sonaf (king's palace) and other cultural assets. This service activity aims to create awareness in the village community about the diversity of potential cultural heritage owned to be preserved and developed as tourism potential and make it a direction for developing a tourist village. In order to conduct this activity, the method used was lecture (socialization), discussion, question and answer regarding the identification of existing potential as an attribute of tourism products and the importance of preserving and utilizing that potential. In addition to this activity, an evaluation was conducted regarding the efforts made by the community and stakeholders. The result of this activity is the community's increasing interest in realizing the existing potential as a tourist village to be developed as well as the awareness to maintain and preserve the existing culture. Keywords: tourism village; tourism potential; East Nusa Tenggara; cultural herritage.
Penerapan Zonasi Vastu Citra Pada Perancangan Pusat Kesenian Wayang Tradisional Di Bali Tegar Septian Mboro; Imanuel N. Mbake; I Gusti Ngurah Wiras Hardy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4248

Abstract

Abstract:Traditional Balinese wayang, as a cultural heritage, faces the threat of extinction due to digitalization. This research proposes the design of a Wayang Arts Center in Pantai Lembang, Gianyar, as a medium for preserving the artistic meaning through an architectural metaphor approach, utilizing the natural beach lighting as a visual manifestation of "Suryangkara." The methodology begins with field observation, case studies, and secondary data analysis to identify design needs. Based on these findings, the design concept integrates three core principles: Transfer of Illumination, which transforms the philosophy of the cakra into the Vastu Citra structure; Subjective Perception, which creates a dual-stage interpreted as either Kayon (tree of life) or Ajna Chakra (eye of wisdom) depending on the viewer’s perspective; and Hybridization through QR codes embedded in cultural artifacts. This approach is synthesized with Vastu Citra zoning based on Nawa Sanga, linking deity-chakra associations and prana flows, and placing an open stage at the Brahmasthan as a cosmic axis. The result is a symbolic building serving as a space for the "rebirth" of wayang, where the integration of metaphor and Vastu Citra creates a functional space that also acts as a medium for cultural storytelling. The implication offers a locally rooted and adaptive design model for preserving traditional arts in the digital era. Keyword: Balinese wayang, metaphorical architecture, Vastu Citra, arts center, Suryangkara, chakra.  Abstrak: Wayang tradisional Bali sebagai warisan budaya menghadapi tantangan kepunahan akibat digitalisasi. Penelitian ini merancang Pusat Kesenian Wayang di Pantai Lembang, Gianyar, sebagai sarana pelestarian makna seni melalui pendekatan metafora arsitektur dengan memanfaatkan pencahayaan alami pantai sebagai manifestasi visual "Suryangkara". Metode diawali observasi lapangan, studi kasus, dan analisis data sekunder untuk mengidentifikasi kebutuhan desain. Berdasarkan temuan tersebut, konsep desain mengintegrasikan tiga prinsip kunci: (1) Transfer Keterangan mentransformasikan filosofi cakra ke dalam struktur Vastu Citra; (2) Persepsi Subjektif menciptakan panggung ganda yang dibaca sebagai Kayon (pohon kehidupan) atau Cakra Ajna (mata kebijaksanaan) bergantung perspektif pengamat; (3) Hibriditas melalui QR code pada artefak budaya. Pendekatan ini disinergikan dengan zonasi Vastu Citra berbasis Nawa Sanga yang menghubungkan asosiasi dewa-cakra dan aliran prana, serta menempatkan open stage di Brahmasthan sebagai poros kosmis. Hasilnya adalah bangunan simbolis sebagai ruang "kelahiran kembali" wayang, di mana integrasi metafora-Vastu Citra menciptakan ruang fungsional sekaligus medium narasi budaya. Implikasinya menawarkan model desain berbasis kearifan lokal yang adaptif untuk pelestarian kesenian tradisional di era digital Kata Kunci: wayang Bali, Metafora Arsitektur, Vastu Citra, Pusat Kesenian,  Suryangkara, cakra.  
A KAJIAN PRINSIP DESAIN ECO-CULTURE PADA BANGUNAN EDUCATIONAL CRAFTS CENTER DI KOTA SOLO Raimundus Eo; Marianus Bahantwelu; Imanuel N. Mbake
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4268

Abstract

Abstract:The Eco-culture approach is an approach that considers natural conditions and local culture so that it becomes a combination of ecological and cultural approaches. In its application, the Eco-culture approach has 5 main principles that form the basis of design and development. This research aims to examine and explore the application of the 5 main principles in the Educational Crafts Center building. The method used in this research is descriptive qualitative. The results show that the 5 main principles of the Eco-culture approach are Image of Space (applying the shape of the building mass as a representation of the roof shape of a joglo house); Source of Environmental Knowledge (applying sensory experience through light and air conditioning elements); Building Image (using solo batik elements in building design); Technologies (representation and modification of the joglo house construction structure and the use of local materials); and Idealized Concept of Place (applying the concept of joglo house arrangement to the arrangement of building spaces starting from Pendopo as Lobby, Dalem as exhibition space, Senthong Kiwa as management office, Senthong Tengah as craftsman retail, Shentong Tengen as educational studio and library, Gandhok as Food Court). Keywords: Educational Crafts Center, Eco-Culture, Solo City Abstrak:Pendekatan Eco-culture merupakan pendekatan yang mempertimbangkan keadaan alam dan budaya setempat sehingga menjadi perpaduan antara pendekatan ekologi dan budaya. Dalam penerapannya, pendekatan Eco-culture memiliki 5 prinsip utama yang menjadi dasar perancangan dan pengembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengeksplorasi bagaimana penerapan 5 prinsip utama tersebut pada bangunan Educational Crafts Center. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 prinsip utama dari pendekatan Eco-culture yaitu Image of Space (menerapkan bentuk massa bangunan hasil representasi dari bentuk atap rumah joglo); Source of Environmental Knowledge (menerapkan pengalaman sensorik melalui elemen cahaya dan penghawaan); Building Image (menggunakan unsur batik solo dalam desain bangunan); Technologies (representasi dan modifikasi struktur konstruksi rumah joglo dan penggunaan material lokal); serta Idealized Concept of Place (menerapkan konsep penataan rumah joglo pada penataan ruang bangunan berawal dari Pendopo sebagai Lobby, Dalem sebagai ruang pameran, Senthong Kiwa sebagai kantor pengelola, Senthong Tengah sebagai retail pengrajin, Shentong Tengen sebagai studio edukasi dan perpustakaan, Gandhok sebagai Food Court). Kata Kunci: Educational Crafts Center, Eco-Culture, Kota Solo