Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Literary Semiotic Studies in the Novel Ringin Kurung Winarsih Winarsih; Endang Winasih; Cahya Indah Apriliyana
Abjad Journal of Humanities & Education Vol. 1 No. 1 (2023): Abjad Journal of Humanities & Education
Publisher : Centre for Literary and Cultural Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62079/abjad.v1i1.14

Abstract

This study aims to analyze and describe the semiotic system that refers to the elements of icons, indexes, and symbols in Pak Mett's novel Ringin Kurung. The novel is a Javanese language novel that has a romance genre. It is a novel that has prominent elements, both intrinsic and extrinsic. The novel is interesting to study because it has elements of signs and implied meanings. The problem of understanding meaning in a complex literary work full of language games and elements of the author's creativity is not easy. So, this kind of study is needed. Analyzing the novel is a novelty that has never been done before. This study used a descriptive qualitative method. To be able to describe and analyze text in the form of words or sentences. The qualitative in question places more emphasis on the element of meaning. The approach used is Charles Sanders Pierce's semiotic theory. Literary semiotic theory interprets signs through icons, indexes, and signs. Sources of data from the novel Ringin Kurung by Pak Mett, journals, and books as references that support studies in research. The data collection technique is observation, namely observing and recording, followed by searching, reading, understanding, and concluding. The data analysis is thorough. From this research, it was found that there are signs in the form of icons, indexes, and symbols in Pak Mett's novel Ringin Kurung. There are icons, including plants (banyan trees), food (tempe and arem-arem), and places (square and hospital). The index is in the form of subordinate behaviour to the employer, polite behaviour index, firefly index, sultry index, and strategic index. As well as symbols, namely Ringin Kurung, vehicles (cars), goods (reclining chairs), blushing, fast breathing, and katresnan.
Citra Wanita Karir dalam Novel Amrike Kembang Kopi Karya Sunaryata Soemardjo Endang Winasih; Rahma Ari Widihastuti
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i4.4194

Abstract

Selama ini hak dan kebebasan perempuan di Indonesia masih dibatasi oleh aturanaturan yang dapat menyebabkan kesenjangan gender. Oleh karena itu, diperlukan suatu perubahan tatanan sosial yang dapat menciptakan kesetaraan gender bagi kaum perempuan. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan karya sastra sebagai media untuk melawan subordinasi perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis citra wanita karir dalam Novel Amrike Kembang Kopi karya Sunaryata Soemardjo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis dokumen. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kata, frasa, kalimat, paragraf maupun wacana dalam Novel Amrike Kembang Kopi karya Sunaryata Soemardjo yang mengandung informasi mengenai citra wanita karir. Sumber data yang digunakan yaitu Novel Amrike Kembang Kopi karya Sunaryata Soemardjo. Hasil penelitian yaitu terdapat dua bentuk pendeskripsian citra wanita karir dalam Novel Amrike Kembang Kopi karya Sunaryata Soemardjo, yaitu dengan cara: 1) perempuan bekerja, 2) perempuan intelektual, 3) perempuan dapat bekerja untuk memperoleh transformasi sosial masyarakat, dan 4) perempuan dapat menolak keliyanannya. Hal ini ditunjukkan dengan Tita yang memiliki karir cemerlang dan mampu membiayai adiknya untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Tita mampu melakukan penolakan atas asumsi-asumsi bahwa perempuan dianggap lemah dan menyusahkan. Tindakan dan pemikiran Tita sangat menegaskan bahwa perempuan bisa hidup mandiri dengan mengandalkan dirinya sendiri dan mampu menunjukkan eksistensi dan kesetaraan dirinya dengan laki-laki tanpa menentang kodratnya sebagai wanita yang bisa merasa lemah dan sedih