Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

DEMISOGINI TAFSIR Shofi'i, Eri Nur; Sulaiman, Akhmad; Aji, Herlambang A.P.
MAGHZA Vol 4 No 1 (2019): Januari - Juni 2019
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.769 KB) | DOI: 10.24090/maghza.v4i1.2717

Abstract

This research purposes to reinterpret relation between husband and wife in the Qur?an. It is focused at verse that is frequently understood misogynistic namely QS al-Nis?: 34. The understanding is caused by using the literalistic-legalistic approach. In this research, the writer uses different approach namely the socio-historical approach. It requires four-step namely 1) step of encounter with text 2) step of critical analysis step, 3) step of meaning for the first recipients, 4) step of meaning for the contemporary context. The result of this research is that the concept of a husband?s leadership for wife at this time is. It is built above a patriarchal worldview, perilous country, and employment that requires effort and power. In this situation, the women are in low position and debt of gratitude to men till the Qur?an appropriates this condition. Contemporary reality does not indicate situation like that so the relation between husband and wife is more appropriate as a partnership
Living al-Qur’an dan Hadis: Pendekatan Filsafat Pragmatisme Charles Sanders Peirce Akhmad Sulaiman; Eri Nur Shofi’i
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 2, No 2 (2020): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article aims to describe the relevant theories of Charles Sanders Peirce's pragmatism philosophy and explain how these theories work in the research of the living Qur'an and hadith. It is encouraged by the lack of this research on aspects of philosophy. The significance of the theories is that the research, besides focusing on the rituals or traditions in a particular community, also focuses on the belief. The position of the agent in this research becomes very significant because the social phenomena that are the object of the research are manifestations of his subjective interpretations. It is the advantage of these theories compared to the applied sociological and anthropological theories. Peirce's pragmatism philosophy directs researchers to target the belief aspect as well as the practical aspect of research with the sociology and anthropology approach. The belief includes how subjects believe what they practice and how the belief is constructed. At this point, Peirce's pragmatism philosophy notice how the agent interprets texts subjectively to produce traditions in society. The ritual changes is also a research concern because it is part of the dynamics of pragmatic meaning. Keywords: Pragmatism Philosophy, Peirce, Living al-Qur’an and Hadith. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan teori-teori relevan dari filsafat pragmatisme Charles Sanders Peirce (1839-1914) dan menjelaskan bagaimana teori-teori ini bekerja dalam penelitian living al-Qur’an dan hadis. Ini didorong oleh kekurangan penelitian ini pada aspek filsafat. Signifikansi filsafat pragmatisme Peirce adalah bahwa penelitian, selain fokus pada sisi ritual-ritual atau tradisi-tradisi dalam komunitas tertentu, juga fokus pada keyakinan. Kedudukan agen dalam penelitian ini menjadi sangat signifikan karena fenomena sosial yang menjadi objek penelitian merupakan manifestasi dari interpretasi subjektifnya. Ini merupakan kelebihan dari filsafat pragmatisme dibanding teori-teori sosiologi dan antropologi yang telah diterapkan. Keyakinan meliputi bagaimana subjek-subjek meyakini apa yang mereka kerjakan dan bagaimana terbentuknya keyakinan tersebut. Pada titik ini, filsafat pragmatisme Peirce memperhatikan bagaimana agen memaknai teks secara subjektif untuk menghasilkan tradisi-tradisi di dalam masyarakat. Perubahan-perubahan ritual juga menjadi perhatian penelitian kerena itu merupakan bagian dari dinamika makna pragmatis. Kata Kunci: Filsafat Pragmatisme, Peirce, Living al-Qur’an dan Hadis.
Demisogini Tafsir Eri Nur Shofi'i; Akhmad Sulaiman; Herlambang A.P. Aji
MAGHZA Vol 4 No 1 (2019): Januari - Juni 2019
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.769 KB) | DOI: 10.24090/maghza.v4i1.2717

Abstract

This research purposes to reinterpret relation between husband and wife in the Qur’an. It is focused at verse that is frequently understood misogynistic namely QS al-Nisā: 34. The understanding is caused by using the literalistic-legalistic approach. In this research, the writer uses different approach namely the socio-historical approach. It requires four-step namely 1) step of encounter with text 2) step of critical analysis step, 3) step of meaning for the first recipients, 4) step of meaning for the contemporary context. The result of this research is that the concept of a husband’s leadership for wife at this time is. It is built above a patriarchal worldview, perilous country, and employment that requires effort and power. In this situation, the women are in low position and debt of gratitude to men till the Qur’an appropriates this condition. Contemporary reality does not indicate situation like that so the relation between husband and wife is more appropriate as a partnership
TAFSIR MEDIA SOSIAL: Bingkai Q.S. An-Nisa’ Ayat 3 dalam Meme Poligami Eri Nur Shofi’i
Hujjah: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Hujjah: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pernikahan merupakan suatu jalan yang dianjurkan dalam Islam. Hal itu dilakukan demi keberlangsungan hidup berketurunan serta demi terciptanya kasih sayang diantara insan manusia. Salah satu bentuk kehidupan berumahtangga dalam Islam adalah menikah dengan lebih dari satu istri, yang akrab disebut poligami. Dalam perjalanannya, persoalan poligami senantiasa menjadi isu yang hangat diperbincangkan, ia menuai dukungan pada satu sisi, karena terlegitimasi oleh al-Qur’an, dan pada sisi yang lain ia dikecam, karena dianggap merugikan kaum perempuan. Beberapa waktu terakhir ini, isu poligami kian mencuat dengan munculnya meme-meme di media sosial yang seolah mendukung praktek poligami. Tulisan ini berusaha menganalisis diskursus poligami melalui meme poligami dalam media sosial.
MEME POLIGAMI (Studi Q.S. An-Nisa’ Ayat 3) Eri Nur Shofi’i
Hujjah: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Hujjah: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pernikahan merupakan suatu jalan yang dianjurkan dalam Islam. Hal itu dilakukan demi keberlangsungan hidup berketurunan serta demi terciptanya kasih sayang diantara insan manusia. Salah satu bentuk kehidupan berumahtangga dalam Islam adalah menikah dengan lebih dari satu istri, yang akrab disebut poligami. Dalam perjalanannya, persoalan poligami senantiasa menjadi isu yang hangat diperbincangkan, ia menuai dukungan pada satu sisi, karena terlegitimasi oleh al-Qur’an, dan pada sisi yang lain ia dikecam, karena dianggap merugikan kaum perempuan. Beberapa waktu terakhir ini, isu poligami kian mencuat dengan munculnya meme-meme di media sosial yang seolah mendukung praktek poligami. Tulisan ini berusaha menganalisis diskursus poligami melalui meme poligami dalam media sosial.
PREJUDICE AND RELIGIOUS CONFLICT IN MULTICULTURAL SOCIETY Eri Nur Shofi'i
PROCEEDING AL GHAZALI International Conference Vol. 1 (2023): INCLUSIVENESS, DIGITAL TRANSFORMATION, AND RENEWABLE ENERGY FOR A BETTER FUTURE
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Indonesian nation is a multicultural nation with diversity found in several aspects of life, such as ethnicity, culture, religion, social status and so on. Basically, multiculturalism not only has potential for the development of the Indonesian nation, but on the other hand it can also bring about horizontal conflicts that must be resolved wisely. Conflicts that occur in multicultural societies must be processed so that they can lead to a dynamic process of change in a constructive and positive direction, rather than leading to destructive actions. The resolution of a conflict will generally depend heavily on internal and external factors. Internal factors are how the conflicting parties respond to the conflict they face, while external factors are how outside parties play a role in handling the conflict. Therefore, it is important to create a plan and steps for conflict management in the form of peace building, so that the dynamic process of multicultural society is maintained well.
Living al-Qur’an dan Hadis: Pendekatan Filsafat Pragmatisme Charles Sanders Peirce Sulaiman, Akhmad; Shofi'i, Eri Nur
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 2 No. 2 (2020): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article aims to describe the relevant theories of Charles Sanders Peirce's pragmatism philosophy and explain how these theories work in the research of the living Qur'an and hadith. It is encouraged by the lack of this research on aspects of philosophy. The significance of the theories is that the research, besides focusing on the rituals or traditions in a particular community, also focuses on the belief. The position of the agent in this research becomes very significant because the social phenomena that are the object of the research are manifestations of his subjective interpretations. It is the advantage of these theories compared to the applied sociological and anthropological theories. Peirce's pragmatism philosophy directs researchers to target the belief aspect as well as the practical aspect of research with the sociology and anthropology approach. The belief includes how subjects believe what they practice and how the belief is constructed. At this point, Peirce's pragmatism philosophy notice how the agent interprets texts subjectively to produce traditions in society. The ritual changes is also a research concern because it is part of the dynamics of pragmatic meaning. Keywords: Pragmatism Philosophy, Peirce, Living al-Qur’an and Hadith.   Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan teori-teori relevan dari filsafat pragmatisme Charles Sanders Peirce (1839-1914) dan menjelaskan bagaimana teori-teori ini bekerja dalam penelitian living al-Qur’an dan hadis. Ini didorong oleh kekurangan penelitian ini pada aspek filsafat. Signifikanisi filsafat pragmatisme Peirce adalah bahwa penelitian, selain fokus pada sisi ritual-ritual atau tradisi-tradisi dalam komunitas tertentu, juga fokus pada keyakinan. Kedudukan agen dalam penelitian ini menjadi sangat signifikan karena fenomena sosial yang menjadi objek penelitian merupakan manifestasi dari interpretasi subjektifnya. Ini merupakan kelebihan dari filsafat pragmatisme dibanding teori-teori sosiologi dan antropologi yang telah diterapkan. Keyakinan meliputi bagaimana subjek-subjek meyakini apa yang mereka kerjakan dan bagaimana terbentuknya keyakinan tersebut. Pada titik ini, filsafat pragmatisme Peirce memperhatikan bagaimana agen memaknai teks secara subjektif untuk menghasilkan tradisi-tradisi di dalam masyarakat. Perubahan-perubahan ritual juga menjadi perhatian penelitian kerena itu merupakan bagian dari dinamika makna pragmatis. Kata Kunci: Filsafat Pragmatisme, Peirce, Living al-Qur’an dan Hadis.
KESIAPAN INFRASTRUKTUR DAN DAMPAK SOSIAL PEMANFAATAN JAM DIGITAL BERBASIS IOT DI MASJID KABUPATEN CILACAP Safiq Rosad; Eri Nur Shofi’i; Arizal Caesar Romadhon
Jurnal Informatika dan Rekayasa Elektronik Vol. 9 No. 1 (2026): JIRE April 2026
Publisher : LPPM STMIK Lombok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36595/jire.v9i1.1882

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan infrastruktur dan dampak sosial dari pemanfaatan jam digital jadwal waktu sholat berbasis Internet of Things (IoT) di masjid-masjid Kabupaten Cilacap. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena digitalisasi fasilitas masjid yang semakin meluas, namun belum sepenuhnya terintegrasi dengan sistem IoT. Metode penelitian yang digunakan adalah survei deskriptif dengan instrumen kuesioner yang disebarkan kepada 20 masjid sebagai responden. Data yang diperoleh dianalisis untuk mengetahui ketersediaan perangkat, pemanfaatan fitur, dukungan infrastruktur, kesiapan teknisi, kualitas perangkat, integrasi IoT, serta dampak sosial terhadap jamaah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh masjid responden (100%) telah memiliki Jam Digital Jadwal Waktu Sholat Berbasis IoT, sehingga perangkat ini telah menjadi standar dalam pengelolaan waktu ibadah. Mayoritas masjid (90%) menggunakan jam digital sebagai acuan utama waktu sholat, dengan 80% memanfaatkan alarm adzan, namun hanya 60% yang menggunakan alarm iqomah secara konsisten. Dari sisi infrastruktur, hanya 30% masjid yang memiliki jaringan internet dan 35% yang memiliki teknisi internal, sehingga penerapan IoT belum sepenuhnya optimal. Meskipun sebagian besar perangkat berfungsi baik (75% tidak mengalami error), masih terdapat 25% masjid yang menghadapi kendala teknis. Integrasi IoT juga masih terbatas, dengan hanya 40% masjid yang sudah terhubung dengan internet. Secara sosial, jam digital memberikan dampak positif yang signifikan, di mana 85% masjid menyatakan bahwa jamaah merasakan manfaat nyata berupa keteraturan, kenyamanan, dan peningkatan partisipasi ibadah berjamaah. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa jam digital berbasis IoT memiliki relevansi sosial yang kuat, namun keberhasilan penerapannya sangat bergantung pada dukungan infrastruktur internet, kesiapan teknisi lokal, serta sosialisasi manfaat teknologi agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.