Noni Zakiah
Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Aceh, Aceh

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun jamblang dari kawasan geotermal: Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) Berwi Fazri Pamudi; Munira Munira; Noni Zakiah; Muhammad Nasir
Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2023): Desember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/gikes.v5i1.1371

Abstract

Background: Jamblang is one of the plants that have the potential to be an antibacterial agent. Jamblang plants can grow in the geothermal area of Ie Seum Aceh Besar. This area has higher soil temperature and pH compared to areas outside of geothermal zones. Environmental conditions influence the chemical composition and pharmacological activities of a plant. Jamblang leaves contain several chemical compounds, including polyphenols, flavonoids, triterpenoids, saponins, and tannins, which function as antibacterials.Objectives: This research aims to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) of jamblang leaf extract obtained from the geothermal area of Ie Seum Aceh Besar against Staphylococcus aureus.Methods: The MIC and MBC testing will be conducted using the dilution method with extract concentrations of 1,56%, 3,12%, 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, and 100%. The negative control will use distilled water, while the positive control will use amoxicillin. The medium used in this research is Mueller Hinton Agar (MHA).Results: The results indicate that the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of the Jamblang leaf extract grown in the Ie Seum Aceh Besar geothermal area is 50%. In comparison, the Minimum Bactericidal Concentration (MBC) is 100%.Conclusion: The ethanolic extract of jamblang leaves from the geothermal area of Ie Seum Aceh Besar, at a concentration of 50%, inhibited the growth of Staphylococcus aureus. In comparison, at a concentration of 100%, it killed the Staphylococcus aureus.
Uji daya aktivitas antelmintik perasan daun pala (Myristica fragrans houtt) terhadap cacing gelang ayam (Ascaridia galli) secara in vitro Nelsa Arahma; Rini Handayani; Vonna Aulianshah; Noni Zakiah
Nutrition and Health Insights Vol. 1 No. 2 (2024): October
Publisher : DAPU Aceh Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63197/nahi.v1i2.19

Abstract

Antelmintik adalah obat yang dapat mematikan atau melumpuhkan cacing dalam usus manusia atau hewan sehingga cacing dapat dikeluarkan bersama dengan kotoran atau feses. Daun pala (Myristica fragrans Houtt) mengandung senyawa alkaloid, terpenoid, saponin, flavonoid, dan fenolik yang berkhasiat sebagai antelmintik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh perasan daun pala (Myristica fragrans Houtt) dapat mengakibatkan mortalitas terhadap cacing Ascaridia galli secara in vitro dengan konsentrasi 10%; 20%; dan 30%. Kontrol negatif menggunakan NaCl 0.9% dan kontrol positif menggunakan pirantel pamoat 0.5%. Cacing Ascaridia galli sebanyak 25 ekor dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan dengan pengamatan setiap 12 jam selama 36 jam pada inkubator dengan suhu 37⁰C. Setiap 12 jam sekali cacing Ascaridia galli yang sudah tidak bergerak dicelupkan pada air hangat dengan suhu 50⁰C, apabila setelah dicelupkan cacing kembali bergerak maka dinyatakan hanya mengalami paralisis, namun apabila cacing tidak bergerak lagi maka cacing tersebut dinyatakan telah mati. Perasan daun pala (Myristica fragrans Houtt) dengan konsentrasi 10%; 20%; dan 30% pasca inkubasi selama 36 jam dapat menyebabkan kematian. Hasil penelitian membuktikan bahwa perbedaan konsentrasi perasan daun pala menunjukkan perbedaan mortalitas, dimana persentase kematian terbesar berada pada konsentrasi 30% yaitu sebanyak 100% cacing mati dan disusul dengan konsentrasi 10%; dan 20% yaitu sebanyak 80% cacing mati. Kesimpulan, persentase kematian ini membuktikan bahwa perasan daun pala efektif berkhasiat sebagai antelmintik karena dapat mempercepat kematian cacing dengan perasan daun pala dibandingkan dengan NaCl sebanyak 60% cacing mati.