Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

THE ROLE OF THE VILLAGE COMMUNITY AS A FORM OF LOCAL WISDOM IN REALIZING ANTI-CORRUPTION CULTURE: A STRATEGY TO ERADICATE CORRUPTION IN THE VILLAGE Agus Surono
Asia Pacific Fraud Journal Vol 3, No 1 (2018): Volume 3, No.1st Edition (January-June 2018)
Publisher : Association of Certified Fraud Examiners Indonesia Chapter

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1125.871 KB) | DOI: 10.21532/apfjournal.v3i1.68

Abstract

No. 6 of 2014 on the Village has given a new hope for Indonesia, because the village is expected to increase the country’s economy through the management of natural resources on a village scale, including in the use of village funds for the welfare of the community. In the provisions of the Village Law, the village has the following authorities: authority based on the right of origin, local authority on village scale, authority in accordance with the duties of the government such as provincial government or district/city government, and other authorities assigned by the Government, Province. In addition to these opportunities, enactment of the Village Law also gives the village the rights to manage its funding resources in the form of village funds that can be used by villagers to support various village activities according to the potential in each village. However, in the implementation of the management of the village funds, there will always be irregularities done by village heads, village officials or local government officials who have authority in disbursing the village funds. Even sometimes there are corrupt practices in the use of the village funds. Paragraph 12 of the explanation of Law No. 31 of 1999 mentions that community can participate in the prevention and eradication of corruption and the members of the community who have participated are given legal protection and appreciation. One step in preventing corruption is done by growing anti-corruption culture through strengthening the role of rural community in improving anti-corruption culture in the village. The role of the village community is very important, as a form of local wisdom, to prevent corruption in the village.
Rekonstruksi Hukum Pembangunan Dalam Kebijakan Pengaturan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Wahyu Nugroho; Agus Surono
Jurnal Hukum Lingkungan Indonesia Vol 4 No 2 (2018): Februari
Publisher : Indonesian Center for Environmental Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38011/jhli.v4i2.62

Abstract

Fungsi hukum dalam pembangunan nasional sebagai sarana pembaruan masyarakat secara singkat dikemukakan pokok-pokok pikiran sebagai berikut: pertama, bahwa hukum merupakan sarana pembaruan masyarakat didasarkan atas anggapan bahwa adanya keteraturan atau ketertiban dalam usaha pembangunan atau pembaruan itu merupakan sesuatu yang diinginkan atau bahkan dipandang (mutlak) perlu; kedua, bahwa hukum dalam arti kaidah atau peraturan hukum memang bisa berfungsi sebagai sarana pembangunan dalam arti penyalur arah kegiatan manusia ke arah yang dikehendaki oleh pembangunan atau pembaruan. Proses pembentukan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup dan sumber daya alam, diperlukan grand design hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat, yang bertitik tolak kepada perubahan-perubahan sosial. Rekonstruksi hukum pembangunan dalam pembentukan hukum pasca reformasi, diarahkan pada daya dukung masyarakat, kesejahteraan sosial, dan lingkungan hidup. Selain itu, proses pembentukan hukum harus menggunakan pendekatan yang holistik dan interdisipliner
COLLABORATIVE (PARTNERSHIP) AS A FORM OF "RESTORATIVE JUSTICE" IN CONFLICT RESOLUTION FOREST RESOURCES MANAGEMENT Agus Surono
Jurnal Dinamika Hukum Vol 16, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdh.2016.16.3.648

Abstract

Conflict management of forest resources among communities around forest areas often occur in various regions, particularly in some national parks and forest management as Perhutani in Java and Inhutani outside Java. These conflicts indicate the forest resources management has not effectively made a positive impact in improving communities welfare around forest areas. Although the provisions of Article 3 in conjunction with Article 68 of Law No. 41 of 1999 on Forestry, provide the basis for communities around the forest rights of forest areas, but in reality there are still people around forest areas that do not enjoy such rights and it is this which often leads to conflicts in the management of forest resources. In the event of conflict, the solution can be done collaboratively (partnership) which is one form of restorative justice is an alternative dispute resolution (ADR).Keywords: collaborative, conflict, restorative justice, forest resources.
Sikap Anti Korupsi di Kalangan Siswa dan Mahasiswa dalam Mewujudkan Penyelenggaraan Negara Anti Korupsi dan Berbasis Keadilan Agus Surono
PADJADJARAN Jurnal Ilmu Hukum (Journal of Law) Vol 3, No 2 (2016): PADJADJARAN Jurnal Ilmu Hukum (Journal of Law)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.729 KB)

Abstract

AbstrakKebijakan negara dalam melakukan pemberantasan korupsi di Indonesia harus mem-perhatikan tiga aspek yang berbeda sifatnya, yaitu: politik, hukum, dan korupsi yang menyatu. Lebih lanjut lagi, masyarakat juga sangat menentukan keberhasilan pencegahan terjadinya tindak pidana korupsi. Untuk menumbuhkan budaya hukum masyarakat, perlu dilakukan sejak pendidikan di usia dini dalam berbagai jenjang pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan sikap anti korupsi dapat melalui kampanye/sosialisasi dengan berbagai pihak khususnya kepada siswa pelajar mulai dari siswa SD, siswa SMP, siswa SMA, serta kalangan mahasiswa. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat termasuk perguruan tinggi dengan bekerja sama dengan pemerintah baik di pusat maupun di daerah harus melaksanakan program tersebut. Menumbuhkan sikap anti korupsi sejak dini tersebut dimulai dengan jenjang pendidikan dari play group ke mahasiswa merupakan langkah konkrit yang dapat dilakukan dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan negara yang anti korupsi dan berbasis keadilan.Anti-Corruption Attitude in Students and College Students on Implementing a Justice-Based and Anti-Corruption StateAbstractThe state policy in combatting corruption in Indonesia must pay attention to three different aspects, such as: politics, law, and integrated corruption. Furthermore, the people will also determine the success of the prevention of corruption. In order to foster a culture of legal awareness on anti-corruption, it should begin from education at an early age in the various levels of education through campaigns/familiarization with the various parties, especially to students ranging from elementary, junior, senior high school, and all the way to college students. Therefore all elements of society, including universities in cooperation with governments at both central and regional governments, should implement the programs. Thus, fostering an attitude of anti-corruption early on began with an education level from play group to college students is a concrete step that can be done in order to realize the implementation of state anti-corruption and based justice.
PERANAN HUKUM DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM SKALA DESA OLEH BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDES) DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DESA Agus Surono
Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional Vol 6, No 3 (2017): Desember 2017
Publisher : Badan Pembinaan Hukum Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33331/rechtsvinding.v6i3.195

Abstract

Kewenangan yang diberikan UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa memberikan landasan bagi desa untuk mengelola dan mengatur sumber daya alam skala desa baik yang berada di wilayah pantai maupun wilayah pegunungan. Dalam UU Desa tersebut memberikan peluang bagi desa untuk mengelola sumber daya alam melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa), sehingga desa benar-benar mempunyai kemandirian dalam mengelola sumber daya alam skala desa. Melalui pendekatan yuridis normatif, penelitian ini mengkaji bagaimanakah pengelolaan sumber daya alam skala desa menurut UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa? Kemudian, bagaimanakah peranan hukum dalam pengelolaan sumber daya alam skala desa oleh BUMDesa dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa? Dan, bagaimanakah konsep pengelolaan BUMDesa dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat? Hasil penelitian menunjukan adanya pengaturan dalam berbagai peraturan perundang-undangan terkait dengan pengelolaan sumber daya alam skala desa oleh BUMDesa dan konsep pengelolaan sumber daya alam skala desa telah sejalan dan sesuai dengan sila kelima Pancasila yaitu ”keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, namun masih perlu dilakukan pengawasan oleh pihak-pihak terkait sesuai kewenangan baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, sehingga pemenuhan hak desa atas sumber daya alam skala desa benar-benar dapat terwujud. Oleh sebab itu perlu diatur ketentuan teknis untuk melakukan monitoring dan evaluasi serta melakukan pembinaan terhadap desa.
UJARAN KEBENCIAN PADA MEDIA SOSIAL PADA SAAT PANDEMI COVID-19 STUDI KASUS PUTUSAN No.72/PID.SUS/2020/PT.DPS Bimawan Domas Hidayat; Agus Surono; Maslihati Nur Hidayati
Jurnal Magister Ilmu Hukum Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Magister Ilmu Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jmih.v6i2.836

Abstract

Abstrak - Penyebaran ujaran kebencian di media sosial bertujuan untuk menimbulkan rasakebencian atau permusuhan antara individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkanatas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Rumusan masalah dalam penelitian ini: Pertama,bagaimanakah penerapan ketentuan-ketentuan ujaran kebencian dalam Undang-undang ITEdalam beberapa kasus di Indonesia? Kedua, bagaimanakah implementasi penafsiran ketentuanketentuanujaran kebencian dalam Putusan Perkara Nomor: 72/PID.SUS/2020/PT.DPS agarmemberikan kepastian hukum? Kerangka teori yang digunakan adalah teori kepastian hukum dankeadilan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode hukum normatif. Kesimpulanpenelitian ini menyatakan bahwa: pertama, penerapan ketentuan tentang ujaran kebencian perludirinci lebih dalam. Kedua, implementasi putusan nomor 72/PID.SUS/2020/PT.DPS belummenjamin kepastian hukum karena terdapat kesalahan penerapan hukum baikpada putusan pengadilan negeri yang juga diamini oleh putusan pengadilantinggi. Kata Kunci: Ujaran Kebencian, Media Sosial, Pandemi Covid-19
DOKTRIN BUSINESS JUDGMENT RULE DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM KEPADA DIREKSI BUMN (STUDI KASUS PT. PLN) Eko Priyono; Agus Surono; Sadino Sadino
Jurnal Magister Ilmu Hukum Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Magister Ilmu Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jmih.v7i2.1264

Abstract

AbstrakDalam rangka mendongkrak investasi, Tindakan direksi dalam menjalankan amanahnya harus sesuai dengan integritas dan profesionalismenya, serta prinsip kehati-hatian dan juga menjalankan fiduciary duty dan berdasarkan itikad baik demi kepentingan korporasi.  Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Kewenangan Direksi PT PLN Persero dalam Menjalankan Tugas Jabatan dan Tujuan Korporasi?  dan Bagaimana Perlindungan Hukum Direksi Direksi PT PLN Persero Dalam Mencapai Tujuan Korporasi? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dimana penulis melakukan analisaa berdasarkan peraturan perundang undangan dikaitkan dengan teori hukum yang terkait. Dari hasil penelitian didapatkan kesimpulan bahwa Direksi BUMN PLN terbebas dari tuduhan korupsi di PLN, karena semua tindakan atau aksi korporasi tersebut sesuai dengan itikad baik dan juga tata kelola yang baik dengan berlandaskan pada fiduciary duty dan juta memegang prinsip Business Judgment Rule, dengan demikian perlindungan hukum direksi korporasi dapat diandalkan selama direksi tersebut menjalankan aksi korporasi yang sesuai dengan RUPS dan ketentuan peraturan perundang-undangan.Kata kunci: Perlindungan, Direksi, Business Jugdment Rule, Tata Kelola,
Tanggung Jawab Perdata Akibat Wanprestasi Dalam Kerjasama Pembangunan Gedung Bioskop Harry Dewantoro; Agus Surono; Maslihati Nurhidayati
Jurnal Magister Ilmu Hukum Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Magister Ilmu Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jmih.v7i1.1187

Abstract

Abstrak Penelitian ini fokus pada pertanggungjawaban Perdata akibat wanprestasi dalam pembangunan gedung bioskop. Terjadinya wanprestasi dilihat dari penyebab kegagalan bangunan itu terjadi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif merupakan penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti data sekunder yang terdiri atas bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Terkait Faktor Penyebab terjadinya wanprestasi dalam kerja sama pembangunan gedung bioskop cinemaxx plaza medan fair disebabkan oleh tidak dipenuhinya janji di dalam Surat Perintah Kerja atau SPK. Bentuk pertanggungjawaban perdata kegagalan bangunan Bioskop di Cinemaxx adalah Pertanggungjawaban Kontraktual, ganti rugi yang merupakan akibat langsung wanprestasi. PT. XYZ selaku kontraktor atau penyedia jasa bertanggung jawab atas kegagalan bangunan melakukan ganti kerugian secara keseluruhan.Kata kunci: tanggung jawab perdata, kegagalan gedung, wanprestasi AbstractThis study focuses on civil liability due to wanprestasi in the construction of a cinema building. The occurrence of wanprestasi is seen from the cause of the failure of the building to occur. This research uses normative legal research methods. Normative legal research is legal research conducted by examining secondary data consisting of primary legal materials, secondary legal materials and tertiary legal materials. Related FactorstThe causes of wanprestasi in the cooperation in the construction of the Cinemaxx Plaza Medan Fair cinema building are caused by non-fulfillment of the promises in the Work Order. The form of civil liability for the failure of Cinema building at Cinemaxx is Contractual Liability, compensation which is a direct result of wanprestasi. PT. XYZ as a contractor or service provider is responsible for the failure of the building to compensate in its entirety. Keyword: civil liability, building failure, wanprestasi
Indonesian Obstacles in the Implementation of Assets Confidential Proceedings from Corruption Crimes Overseas Based on the UN Convention AS Set Forth in UNCAC Muhammad Anwar; Agus Surono
Journal of Law, Politic and Humanities Vol. 5 No. 4 (2025): (JLPH) Journal of Law, Politic and Humanities
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jlph.v5i4.1361

Abstract

The eradication of corruption in Indonesia, classified as an extraordinary crime, has not been optimally implemented, particularly in addressing perpetrators who flee to other countries. The international community, through the United Nations Convention against Corruption (UNCAC), has committed to combating corruption among member states. Corruption, in addition to being an extraordinary crime at the national level, has also become an international (transnational crime) threat, endangering global society and the international economy. Indonesia’s commitment to eradicating corruption includes efforts to recover and repatriate assets resulting from corruption that have been moved abroad. This has been carried out through cooperation agreements, including extradition treaties and mutual legal assistance agreements, with countries where corrupt individuals hide stolen assets. While these measures have shown progress, they remain suboptimal due to obstacles in implementation, arising from political and legal factors as well as the execution of agreements. Consequently, convicted perpetrators of corruption in Indonesian courts are often able to resist enforcement due to differences in legal systems between Indonesia and partner countries. To optimize efforts and reduce these legal and implementation challenges, strong political will from the Indonesian government and proactive diplomatic relations between heads of state and law enforcement officials are needed to foster effective cooperation in pursuing corrupt individuals hiding abroad.
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB PENUMPUKAN LIMBAH PADAT DAN ALTERNATIF SOLUSI PENYELESAIAN DI RSUD TANJUNG BATU KUNDUR KABUPATEN KARIMUN Jeri Rosnadi; Agus Surono; Marthinus Sutena
Journal of Health Service Management Vol 28 No 02 (2025)
Publisher : Departemen of Health Policy and Management, Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281 Telp 0274-547490

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpk.v28i02.21016

Abstract

Latar Belakang: RSUD Tanjung Batu Kundur Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau adalah rumah sakit kelas D Pratama, mulai operasional Oktober 2020 dengan timbulan limbah padat berupa limha infeksius, limbah benda tajam, limbah jaringan tubuh, limbah farmasi, limbah kimia, limbah plastik, per bulan lebih kurang 826,5 kg sehingga pengelolaannya harus sesuai peraturan yang berlaku. Beberapa masalah yang dihadapi RSUD Tanjung Batu Kundur adalah seperti kebijakan, pedoman, SPO, penumpukan limbah padat, limbah padat yang dibakar, anggaran terbatas dan kurangnya sarana prasarana untuk pengelolaan limbah padat rumah sakit. Tujuan: Tujuan Penelitian ini adalah melakukan analisis faktor penyebab dan solusi penyelesaian penumpukan limbah padat di RSUD Tanjung Batu Kundur. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, penelitian dilakukan di RSUD Tanjung Batu Kundur, dengan informan penelitian sebanyak 15 informan. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan. Tahap perencanaan: beberapa kegiatan sudah sesuai dengan peraturan tetapi belum optimal seperti pedoman, kebijakan dan SPO masih terdapat kekurangan perlu penambahan beberapa SPO terkait. Anggaran terbatas, pelatihan petugas tidak dilaksanakan, sarana prasarana tidak memadai. Tahap pelaksanaan: pelanggaran peraturan yaitu terjadi penumpukan limbah, limbah padat dibakar, APD terbatas, tenaga tidak terlatih. Tahap pengawasan dan evaluasi: pengawasan tidak berjalan, sanksi/ teguran tidak diberikan, evaluasi secara berkala tidak dilakukan. Inovasi: Penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) tidak pernah dilaksanakan. Kesimpulan: Karakteristik limbah padat terbanyak berasal dari limbah plastik dengan total 4.108 kg. Pengelolaan Limbah padat di RSUD Tanjung Batu Kundur belum terlaksana dengan baik, mulai dari kebijakan, pelaksanaan dan pemusnahan. Manajemen RSUD Tanjung Batu Kundur agar segera menyusun dan menetapkan pedoman, kebijakan dan SPO pengelolaan limbah medis sesuai peraturan, melengkapi sarana dan prasarana, pengawasan dan evaluasi secara berkala serta lakukan inovasi 3R untuk mengurangi penumpukan limbah padat rumah sakit. Kata kunci: Penumpukan limbah padat, Anggaran, RSUD Tanjung Batu Kundur