Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) is a vital instrument in the Kurikulum Merdeka for character strengthening, particularly the cooperation (gotong royong) dimension, which emphasizes collaboration and care. This study aims to analyze the implications of P5 on the formation of students' moral action, specifically within the cooperation dimension at SDN 3 Depok Trenggalek. The research employed a descriptive qualitative method. Data collection was conducted through direct observation of student actions, documentation of activities, and in-depth interviews with the principal, teachers, and parents. Data analysis included reduction, data display, and conclusion drawing with source triangulation validation. The results showed that P5 management encompassed design stages, facilitator team formation, and evaluation. The manifestation of moral action in the cooperation dimension was concretely realized through the "Jumat Bersih" (environmental care), "Jumat Sehat" (togetherness), and "Senin Berbagi" (social empathy) programs. These findings indicate that P5 effectively transforms moral values into practical actions, not merely theoretical understanding. In conclusion, the internalization of P5 successfully establishes sustainable habituation of the mutual-cooperation character. Students demonstrated a significant increase in initiative to collaborate and share, positively impacting the school climate and home environment, although consistency in facilitator monitoring requires optimization for program sustainability. Abstrak Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan instrumen vital dalam Kurikulum Merdeka untuk penguatan karakter, khususnya dimensi gotong royong yang menekankan kolaborasi dan kepedulian. Penelitian ini bertujuan menganalisis implikasi P5 terhadap pembentukan moral action murid, spesifik pada dimensi gotong royong di SDN 3 Depok Trenggalek. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap tindakan murid, dokumentasi kegiatan, serta wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan wali murid. Analisis data meliputi reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan validasi triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen P5 meliputi tahap desain, pembentukan tim fasilitator, hingga evaluasi. Manifestasi moral action dimensi gotong royong terwujud nyata melalui program "Jumat Bersih" (kepedulian lingkungan), "Jumat Sehat" (kebersamaan), dan "Senin Berbagi" (empati sosial). Temuan ini mengindikasikan bahwa P5 efektif mentransformasi nilai moral menjadi tindakan praktis, bukan sekadar pemahaman teori. Kesimpulannya, internalisasi P5 berhasil membangun habituasi karakter gotong royong yang berkelanjutan. Murid menunjukkan peningkatan signifikan dalam inisiatif bekerja sama dan berbagi yang berdampak positif pada iklim sekolah maupun lingkungan rumah, meskipun konsistensi monitoring dari fasilitator tetap memerlukan optimalisasi agar program berjalan konsisten. Kata Kunci: gotong royong; Kurikulum Merdeka; moral action; P5; sekolah dasar