Hilman Adam
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan antara stres dengan kualitas tidur pada peserta didik di SMA Lastri Ningsih Zendrato; Hilman Adam; Nancy Swanida Henriette Malonda
Hik Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1393

Abstract

Background: Sleep plays a vital role in maintaining a person’s physical, cognitive, and psychological health. Globally, the prevalence of sleep disorders ranges from 15.3% to 39.2%. In Indonesia, around 10% of the population, equivalent to approximately 23 million people, are estimated to experience sleep disturbances. Based on data from Basic Health Research (Riskesdas), 43.7% of individuals aged 12–18 years reported sleep problems. Moreover, previous studies have shown that 71.3% of adolescent girls experience inadequate sleep compared to 66.4% of boys. Purpose: To determine the correlation between stress levels and sleep quality among high school students. Method: A quantitative analytical observational design with a cross-sectional approach. The study was conducted at State Senior High School 9 Manado from May to July 2025. The sampling technique used was total sampling, with a total of 285 respondents who met the inclusion criteria. Data were collected online using a structured questionnaire distributed via Google Forms through WhatsApp. The data were analyzed using univariate and bivariate methods, and the Spearman Rank correlation test was applied to identify the relationship between variables. Results: The majority of respondents were aged 18 years (48.4%) with a standard deviation of 0.7332. Most participants were female (157 respondents or 55.1%). Regarding sleep quality, 221 respondents (77.5%) reported poor sleep quality, and 225 respondents (78.9%) experienced stress. The analysis showed an r value of 0.215 and a p value of 0.000, indicating a significant positive relationship between stress and poor sleep quality among respondents. Conclusion: The findings indicate that higher stress levels are significantly associated with poor sleep quality among students. It is suggested that schools and health professionals provide stress management programs, promote awareness of healthy sleep patterns, and encourage balanced academic workloads to enhance students’ overall well-being. Suggestion: Future studies are recommended to include other factors that may influence sleep quality, such as anxiety levels, social media habits, and peer support. In addition, the use of qualitative or mixed-methods approaches is encouraged to explore adolescents’ subjective experiences related to stress and sleep disturbances in more depth.   Keywords: Adolescents; High School Students; Mental Health; Sleep Quality; Stress.   Pendahuluan: Tidur merupakan suatu hal yang sangat esensial karena dapat memengaruhi kondisi fisik, kognitif, dan psikologis manusia. Secara global, prevalensi gangguan kualitas tidur sangat bervariasi mulai 15.3-39.2%. Indonesia memiliki tingkat penderita gangguan tidur yang diperkirakan mencapai 10% yang berjumlah sekitar 23 juta penduduk. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), sekitar 43.7% penduduk yang berusia 12-18 tahun mengalami gangguan pola kualitas tidur. Selain itu, sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja putri kurang tidur sebesar  71.3%, dibandingkan remaja laki-laki sebesar 66.4%. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara stres dengan kualitas tidur pada peserta didik di SMA. Metode: Penelitian kuantitaif dengan desain studi observasional analitik menggunakan pendekatan cross sectional study. dilaksanakan di SMA Negeri 9 Manado, pada bulan Mei - Juli 2025. Teknik  pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling. Dari total sampel yang telah ditentukan, sampel yang memenuhi kriteria yaitu sebanyak 285 responden. Penelitian dilakukan secara online dengan membagikan kuesioner dalam bentuk google form kepada responden melalui Whatssap. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Rata-rata responden yang berusia 16 tahun berjumlah 138 (48.4%) dengan nilai standar deviasi 0.7332. Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 157 responden (55.1%). Distribusi kualitas tidur, dapat diketahui bahwa sebagian responden memiliki kualitas tidur buruk berjumlah 221 responden (77.5%) dan megalami stres sebanyak 225 responden (78.9%) dengan perolehan nilai r sebesar 0.215 dan p-value 0.000. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas tidur berpengaruh terhadap tingkat stres yang dialami oleh responden. Simpulan: Stres yang dialami oleh peserta didik memiliki hubungan yang signifikan terhadap kualitas tidur yang buruk. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang mencakup manajemen stres, edukasi pola tidur sehat, serta pengaturan akademik yang proporsional agar kesejahteraan siswa secara fisik dan psikologis dapat di tingkatkan. Saran: Peneliti selanjutnya dapat meneliti variabel lain yang dapat memengaruhi kualitas tidur, seperti kecemasan, kebiasan penggunaan media sosial, atau dukungan sosial dari teman sebaya. Selain itu, pendekatan kualitatif atau campuran (mixed-method) dapat memberikan pemahaman yang terkait pengalaman subjektif dan gangguan tidur pada remaja.   Kata Kunci: Kesehatan Mental; Kualitas Tidur; Remaja; Siswa Sekolah Menengah; Stres.
Hubungan antara beban kerja dan lingkungan kerja dengan stres kerja pada perawat Christine Blessing Tumalun; Odi Roni Pinontoan; Hilman Adam
Hik Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1883

Abstract

Background: Nurses are vulnerable to occupational stress due to high workloads, emotional distress, and unstable working conditions. The World Health Organization (WHO) reports that 30–50% of healthcare workers experience chronic occupational stress, with nurses being the most affected group. Initial observations at Pancaran Kasih General Hospital in Manado also revealed complaints of emotional exhaustion, work pressure, and decreased motivation, indicating occupational stress. Purpose: To determine the relationship between workload and work environment and occupational stress in nurses. Method: This was an observational study using a cross-sectional approach. A sample of 97 nurses was selected using a purposive sampling technique. Data collection for the workload variable used the NASA-TLX questionnaire, and for the work environment and work stress variables used questionnaires from previous studies. Results: A total of 67% of nurses experienced moderate to high work stress. A total of 77.3% of nurses had a heavy workload, while 91.8% had a positive perception of the work environment. However, this positive perception was not sufficient to prevent occupational stress. Bivariate analysis showed that workload and work environment were significantly associated with job stress (p < 0.05), confirming that job stress in nurses is a multifactorial phenomenon and requires a comprehensive management approach. Conclusion: Workload and work environment are significantly associated with job stress in nurses. The majority of nurses experience moderate to high job stress and heavy workloads, thus requiring comprehensive management efforts to reduce job stress and improve nurse well-being.   Keywords: Job Stress; Nurses; Workload; Work Environment.   Pendahuluan: Perawat rentan mengalami stres kerja akibat beban kerja tinggi, tekanan emosional, dan kondisi kerja yang tidak menentu. World Health Organization (WHO), melaporkan 30–50% tenaga kesehatan mengalami stres kerja kronis dengan perawat sebagai kelompok paling terdampak. Observasi awal di RSU Pancaran Kasih Manado juga menunjukkan adanya keluhan kelelahan emosional, tekanan kerja, dan penurunan motivasi yang mengindikasikan stres kerja. Tujuan: Untuk mengetahui hubunga antara beban kerja dan lingkungan kerja dengan stres kerja pada perawat. Metode: Jenis penelitian observasional dengan pendekatan studi potong lintang. Sampel berjumlah 97 perawat dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data untuk variabel beban kerja menggunakan kuesioner NASA-TLX dan untuk variabel lingkungan kerja dan stres kerja menggunakan kuesioner dari penelitian-penelitian sebelumnya. Hasil: Sebanyak 67% perawat mengalami stres kerja sedang hingga tinggi. Sebanyak 77.3% perawat memiliki beban kerja berat, sementara 91.8% memiliki persepsi positif terhadap lingkungan kerja. Meskipun demikian, persepsi positif tersebut belum mampu mencegah terjadinya stres kerja. Analisis bivariat menunjukkan bahwa beban kerja dan lingkungan kerja berhubungan signifikan dengan stres kerja (p < 0.05), yang menegaskan bahwa stres kerja pada perawat merupakan fenomena multifaktorial dan membutuhkan pendekatan manajemen yang komprehensif. Simpulan: Beban kerja dan lingkungan kerja memiliki hubungan yang signifikan dengan stres kerja pada perawat. Mayoritas perawat mengalami stres kerja sedang hingga tinggi serta beban kerja berat, sehingga diperlukan upaya manajemen yang komprehensif untuk mengurangi stres kerja dan meningkatkan kesejahteraan perawat.   Kata Kunci: Beban Kerja; Lingkungan Kerja; Perawat; Stres Kerja.