Merry Pongdatu
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Mandala Waluya

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Penyakit Frambusia Di Desa Lolibu Wilayah Kerja Puskesmas Wamolo Kabupaten Buton Tahun 2010 Apriyanti; Merry Pongdatu; Wa Ode Aisa Zoahira
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 1 No. 2 (2022): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v1i2.316

Abstract

Penyakit Frambusia merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh kuman Treponema pertenue. Di Desa Lolibu pada tahun 2009 terdapat 9 penderita frambusia dari 3.198 jiwa dengan prevalensi 2,8 per 1.000 penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit frambusia di Desa Lolibu wilayah kerja puskesmas Wamolo kabupaten Buton tahun 2010. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional,. Besar populasi dalam penelitian ini adalah 710 KK, sampel di ambil secara random sampling dengan jumlah sampel 256 KK. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa dari 119 responden yang menderita penyakit frambusia terdapat 87 responden (33,9%) memiliki pengetahuan kurang dan 32 responden (12,5%) memiliki pengetahuan baik,96 responden (37,5) memiliki penyediaan air bersih tidak memenuhi syarat dan 23 responden (8,9%) memiliki penyediaan air bersih memenuhi syarat, 93 responden (36,3%) memiliki kondisi rumah tidak memenuhi syarat dan 26 (10,2%) responden memiliki kondisi rumah memenuhi syarat serta 88 (34,3%)responden memiliki hygine perorangan kurang dan 31 (12,1%) responden memiliki hygiene perorangan baik. Hasil chi square (X2) diketahui bahwa tingkat pengetahuan, penyediaan air bersih, kondisi rumah dan hygiene perorangan berhubungan dengan kejadian penyakit frambusia. Disarankan kepada Dinas kesehatan Kabupaten Buton dan puskesmas terus menerus tentang penyakit frambusia agar menambah pengetahuan masyarakat tentang penyebab penyakit frambusia, cara pengobatannya dan akibat yang ditimbulkan oleh penyakit frambusia, Perlu adanya perhatian dari pemerintah setempat untuk memberikan fasilitas air bersih menjangkau daerah-daerah pelosok yang kesulitan mendapatkan air bersih, Perlu ditingkatkan kerjasama oleh petugas kesehatan baik kerjasama lintas program dan lintas sektoral serta kerjasama antar wilayah untuk membenahi pemukiman masyarakat, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memelihara dan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan selalu berupaya untuk berprilaku bersih dan sehat guna mengurangi penularan penyakit frambusia baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pengaruh Psikoedukasi Audio Visual Terhadap Peningkatan Pengetahuan Keluarga Dalam Pencegahan Tuberkulosis Paru Di Wilayah Pasisir Kecamatan Soropia Sitti Masriwati; Merry Pongdatu
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 1 No. 2 (2022): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v1i2.323

Abstract

Tuberkulosis (TB) telah ada selama ribuan tahun dan tetap menjadi masalah utama kesehatan global. Data wilayah kerja Puskesmas Soropia Kabupaten Konawe, pada tahun 2017, kasus TB Paru berjumlah 17 kasus, Tahun 2018 terdapat 31 kasus, Tahun 2019 terdapat 40 kasus TB Paru dan tahun 2020 TB bulan Januari sampai April kasus TB Paru yang menjalani pengobatan sebanyak 42 orang. Psikoedukasi adalah pendidikan kesehatan pada klien aau keluarga baik yang mengalami masalah fisik maupun gangguan jiwa yang bertujuan untuk mengatasi masalah psikologis yang dialami mereka Tujuan peneliti ini untuk mengetahui pengaruh psikoedukasi audio visual terhadap peningkatan pengetahuan keluarga dalam pencegahan tuberkulosis parudi Wilayah Pesisir Kecamatan Soropia. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi ekperiment dengan desain pre test-post test design. Jumlah Sampel 27 responden seluruh keluarga pasien penderita TB dengan teknik penarikan sampel non probability sampling dengan pendekatan consecutive sampling. Data diolah secara deskriptip dan uji paired t test. Hasil penelitian di peroleh bahwa ada pengaruh psikoedukasi audio visual terhadap peningkatan pengetahuan keluarga dalam pencegahan tuberkulosis paru di Wilayah Pesisir Kecamatan Soropia pada nilai ρValue = 0,000 <α = 0,05, sebelum pemberian intervensi rerata pengetahuan yaitu 43,85 dengan standar deviasi 14,718 setelah pemberian intervensi terjadi peningkatan rerata pengetahuan yaitu 69,62 dengan standar 19,490. Kesimpulan penelitian adalah ada pengaruh psikoedukasi audio visual terhadap peningkatan pengetahuan keluarga dalam pencegahan tuberkulosis paru di Wilayah Pesisir Kecamatan Soropia. Disarankan layanan kesehatan yang ada Kecamatan Soropia agar meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap cara melakukan penyuluhan kepada keluarga tentang pencegahan tuberkulosis paru
Hubungan Health Belief Model Dengan Kepatuhan Vaksinasi Covid-19 pada Siswa di SMK Negeri 1 Raha Sitti Masriwati; Heltty; Merry Pongdatu; Nurul Izzah Leman
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v2i1.498

Abstract

Intervensi Health Belief Model (HBM) dengan perubahan dalam memperkecil risiko kesehatan melalui kerentanan terhadap penyakit, potensi ancaman, motivasi memperkecil kerentanan, kepercayaan dapat memberikan manfaat, menilai diri sendiri terhadap perilaku yang dilakukan, rekomendasi dalam interaksi dengan petugas kesehatan yang dapat merubah perilaku dan pengalaman dalam melakukan perilaku tersebut sehingga dapat mengukur perubahan tingkah laku seseorang terhadap tingkat kepatuhan dalam pelaksanaan vaksinasi covid-19. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Health Belief Model dengan kepatuhan vaksinasi Covid-19 pada siswa di SMK Negeri 1 Raha. Desain penelitian ini menggunakan metode pendekatan cross sectional study dengan jumlah populasi sebanyak 468 siswa dan sampel sebanyak 82 responden data di olah dengan uji statistic chi square dengan nilai X2 hitung (26.278) dan nilai X2 tabel didapatkan 2.435 sedangkan nilai p = 0,000 < 0,05 artinya bahwa secara statistic terdapat hubungan yang bermakna antara Health Belief Model (HBM) dengan Tingkat Kepatuhan Vaksinasi Covid-19 Siswa Di SMK Negeri 1 Raha. Saran penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi Keperawatan dalam mengubah kognitif dan perilaku seseorang dalam kepatuhan melakukan vaksinasi Covid-19.
Stereotip Orang Dengan Gangguan Jiwa Pada Masyarakat Wilayah Kerja Puskesmas Poasia Kecamatan Poasia Kota Kendari Sulawesi Tenggara Merry Pongdatu; Umi Rachmawati; Armayani; Mimi Yati
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v2i1.500

Abstract

Stigma merupakan tanda atau label yang diberikan Masyarakat pada individu tertentu sebagai atribut yang melekat untuk memperburuk citra dan status moral. Stigma untuk Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) diberikan karena ODGJ dianggap individu yang berbeda dan hina (Setiawati, 2012). Stigma yang dirasakan oleh ODGJ berdampak pada kondisi fisik, psikologis dan sosial (Rasmawati, 2018). Angka gangguan jiwa tahun 2018 sebanyak 1.787 jiwa dan hanya sekitar 1.147 jiwa (64,19 %) yang mendapat pelayanan kesehatan. Data gangguan jiwa khusus wilayah kerja Puskesmas Poasia sebanyak 14 jiwa (Profil Dines Kesehatan, 2022). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan Interpretative fenomenologis dimana partisipan diberi kesempatan untuk mengeksplorasi informasi terkait stigma terhadap ODGJ. Jumlah partisipan 7 orang yang terdiri dari: 3 orang Kepala Kelurahan,  3 orang warga, dan 1 orang informan kunci yakni programer kesehatan jiwa. Tehnik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara. Ditemukan 3 informasi penting terkait stigma dalam bentuk stereotip terhadap ODGJ yaitu defenisi ODGJ, penyebab seseorang menderita gangguan jiwa dan keberadaan ODGJ dilingkungan masyarakat. Kesimpulan penelitian adalah pada masyarakat setempat masih melekat adanya pandangan buruk atau stereotip yang dapat dilihat dari bagaimana masyarakat mendefenisikan ODGJ sebagai orang gila, sinting, gila dan miring. Tujuan dari sebutan tersebut untuk mengejek dengan alasan  ODGJ berpenampilan acak-acakan dan kotor selain itu ODGJ menunjukkan sikap yang aneh, seperti berbicara sendiri, kadang ketawa tapi tiba-tiba menangis dan juga mengamuk. Implikasi penelitian ini bagi tenaga kesehatan yaitu dapat menjadi acuan untuk menyusun program kesehatan jiwa dalam mengadakan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan jiwa dan dampak stigma. Diharapkan penelitian ini juga dapat menjadi bahan kajian khususnya pemerintah kecamatan Poasia dan Kelurahan yang ada dilingkup kecamatan untuk meningkatkan keamanan dan kenyaman masyarakat binaannya melalui sikap caring pada pasien, keluarga dan masyarakat.
Studi Fenomenologi: Pengalaman Pelaku Pedofilia di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II.A Kendari Sulawesi Tenggara Merry Pongdatu
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 1 No. 1 (2022): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v1i1.204

Abstract

Kasus kejahatan seksual pada anak di bawah umur di Provinsi Sulawesi Tenggara semakin tinggi dan hal ini sangat menyita perhatian pihak pemerintah. Kejahatan seksual pada anak dapat dipengaruhi beberapa faktor baik internal maupun eksternal. Keberadaan pelaku pedofilia selama berada di Lapas mendorong untuk mengatasi masalah yang dihadapi agar menjadi manusia yang lebih baik. Perlu upaya layanan rehabilitasi khusus dari keperawatan jiwa berbasis pemberian terapi perilaku-kognitif yang berfokus untuk mengubah ke arah adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam pengalaman pelaku pedofilia di Lapas Kelas II.A Kendari. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam menggunakan pedoman wawancara semistruktur kepada 5 partisipan. Analisis data menggunakan Interpretative Phenomenology Analysis (IPA). Hasil penelitian ditemukan 10 tema yaitu: 1) faktor-faktor penyebab pedophile melakukan tindakan kejahatan, 2) melakukan perbuatan salah namun merasa tidak merugikan siapapun, 3) merasa perbuatan yang dilakukan sebagai pemenuhan nafsu seksual, 4) menganggap semua yang terjadi adalah takdir Tuhan, 5) timbul penyesalan setelah mendekatkan diri pada Allah, 6) perasaan batin tertekan memikirkan keluarga, 7) berupaya melupakan masa lalu yang buruk, 8) bersyukur lebih dekat kepada Allah SWT, 9) berharap bisa menjadi manusia yang lebih baik, 10) berharap dapat mengatasi masalah yang ada dengan penanganan khusus. Partisipan masih mengalami masalah terkait kesulitan dalam melupakan perbuatan yang telah dilakukan dan korbannya sehingga hal tersebut dapat memicu timbulkan keinginan untuk kembali melakukan perbuatan seksual mengingat efek ketagihan yang telah dirasakan oleh pelaku pedophile sehingga dibutuhkan adanya suatu penanganan khusus yang berfokus pada kognitif untuk merubah perilaku maladaptif ke perilaku yang adaptif melalui pendekatan suatu terapi Cognitif Behaviour Therapy (CBT).